Pesta demokrasi usai. Pemenangnya telah ditentukan. Rakyat telah memberikan mandat kepada orang-orang dan partai-partai. Melalui mekanisme demokrasi, orang-orang tertentu diberi amanah untuk menduduki jabatan tertentu. Melalui proses yang sama, orang-orang tertentu tidak menduduki jabatan apa-apa.

Dalam hiruk pikuk politik, 2 sosok menjadi sorotan. Mereka adalan Puan Maharani dan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Keduanya punya kesamaan, yaitu anak dari mantan presiden, sekaligus ketua partai.

Keduanya menempati posisi penting dalam partai yang dipimpin oleh orang tua mereka. Bedanya, Puan sejak 5 tahun lalu menduduki kursi empuk, menjadi menteri. Pada periode ini posisinya makin tinggi, menjadi Ketua DPR, sebuah lembaga tinggi negara yang sejajar dengan presiden.

Sementara itu, AHY tidak mendapat apa-apa. Dengan kekuatan politik yang dimiliki bapaknya, AHY secara agak ajaib tiba-tiba menjadi calon gubernur dalam Pilkada DKI tanun 2017, tapi terpental kalah.

Ia kemudian aktif memasarkan diri untuk bertarung di Pilpres 2019, namun tak ada yang memakainya. Lalu ia dan bapaknya juga aktif melobi presiden terpilih, untuk mendapat jatah kursi di kabinet. Namun, itu pun tak ia dapatkan.

Orang berbeda pendapat tentang Puan. Ada yang mencibir bahwa ia sebenarnya bukan apa-apa selain puteri Megawati. Bahkan Megawati pun sering dicibir bukan apa-apa, selain puteri Soekarno.

Tapi ada juga sudut pandang lain yang mengatakan, menjadi puteri atau putera Megawati tak serta merta menjadikan Puan seseorang. Toh, anak-anak Megawati yang lain tidak menduduki jabatan sehebat Puan. Tidakkah itu bermakna bahwa Puan memiliki sesuatu selain sebagai puteri Megawati?

Demikian pula halnya dengan AHY. Apa yang ia miliki sehingga bapaknya bisa dengan enteng menyodorkannya untuk dijadikan calon gubernur, bahkan calon presiden/wakil presiden?

Orang boleh berbeda pendapat soal itu. Bisa saja dikatakan bahwa AHY hanyalah anak mama-papa yang diuntungkan oleh posisi bapaknya. Tapi ada juga yang berpendapat AHY memiliki suatu kelebihan.

Bagi saya, mengeluhkan oligarki yang menguntungkan Puan dan AHY tidak banyak manfaatnya. Itu kenyataan yang kita tak bisa berbuat banyak untuk mengubahnya. Kita hanya penonton yang menggigit jari sambil bersungut kesal, karena tidak kebagian. Ketimbang bersungut kesal, lebih baik kita memetik pelajaran dari situ.

Yang dinikmati Puan dan AHY adalah keistimewaan, yang biasa juga disebut privilege. Tidak semua orang punya keistimewaan itu. Tapi ingat, seperti diungkap tadi, tidak semua orang yang punya keistimewaan bisa memanfaatkannya dengan baik.

Jadi rumusnya adalah, keistimewaan dan pilihan tindakan. Pilihan tindakan yang tepat saat seseorang memiliki privilege akan membuat seseorang bisa melompat ke jenjang yang lebih tinggi.

Bagaimana dengan kita, orang yang tidak punya keistimewaan? Apa yang bisa kita lakukan, selain mengomel jengkel? Kita sebenarnya bisa mengenali pola itu dan memanfaatkannya. Dalam kekuasaan politik maupun bisnis, pengaruh tokoh memang sangat penting.

Bagi Puan dan AHY, tokoh itu adalah ibu/ayah mereka. Bagi kita bagaimana? Kita harus berjuang untuk dapat memanfaatkan pengaruh seorang tokoh.

Bisakah? Bisa, dan banyak contohnya.

Hanif Dakiri mantan Menteri Tenaga Kerja di kabinet lalu, bukanlah anak pembesar. Ia menapaki karir politiknya dengan mencari keistimewaan dari orang yang bukan orang tuanya, yaitu Mathori Abdul Djalil.

Jadi rumusnya sama, carilah posisi istimewa. Kalau posisi itu tidak Anda dapatkan secara otomatis, carilah. Perjuangkan agar Anda pada posisi istimewa itu.

Pengaruh tokoh bisa dimanfaatkan dengan berbagai cara. Ada cara-cara negatif, tapi ada pula cara profesional. Anda bisa sekadar mencatut namanya, atau belajar darinya, menerima bimbingan darinya.

Intinya, sukses bisa diraih dari kombinasi posisi istimewa, dan bagaimana Anda bersikap terhadap posisi itu. Usahakan untuk mencari posisi istimewa itu, dan manfaatkan dengan benar.

Bila sebaliknya Anda yang sedang menduduki posisi istimewa, jangan ragu untuk memanfaatkannya bagi orang lain, khususnya anak Anda.

Sebagai anak dari doktor di bidang ilmu fisika, misalnya, anak-anak saya bisa memanfaatkan keistimewaan yang tak dimiliki oleh anak-anak lain. Mereka bisa mendalami pelajaran sekolah di bawah bimbigan seorang ahli.

Apakah posisi istimewa itu bermanfaat atau tidak, sangat tergantung dari sikap yang mereka pilih. Ingat, keistimewaan tak serta merta membawa seseorang kepada kesuksesan.

Kalau Anda seorang eksekutif di perusahaan, Anda juga bisa memanfaatkan keistimewaan itu. Apakah Anda akan memanfaatkannya secara positif atau negatif, itu terserah pada pilihan Anda.

Jangan sampai posisi istimewa Anda tidak memberikan manfaat apapun pada anak Anda, padahal mereka membutuhkannya. Tentu saja sangat baik kalau Anda memanfaatkannya secara positif.