“Saya ikhlas diperkosa oleh suami saya, dan saya akan mendapat pahala.” Itu penyataan yang beredar di media sosial, merespon wacana sanksi hukum bagi pelaku perkosaan dalam pernikahan (marital rape) yang menjadi bagian dari RUU P-KS. Bagi sebagian orang, istilah perkosaan dalam pernikahan adalah istilah yang aneh dan konyol.

Perkosaan adalah memaksa seseorang berhubungan seksual. Bagi sebagian orang, dalam pernikahan, hubungan seksual terjadi pasti dengan suka rela. Artinya, tak mungkin seorang suami memperkosa istrinya.

Faktanya, pemaksaan hubungan seksual itu banyak terjadi. Hanya saja, pemaksaan oleh suami kepada istri sering tidak dianggap pemerkosaan. Istri dianggap wajib melayani hasrat seksual suami. Jadi kalau suami menyetubuhi istri, ia hanya sekadar mengambil haknya.

Dan bagi sebagian orang, wajar saja kalau suami memaksa istrinya untuk berhubungan badan. Dalam hal ini suami tidak salah. Yang salah adalah istri yang keberatan. Istri mengabaikan kewajibannya untuk melayani kebutuhan suami.

Ada sejumlah kasus pemaksaan hubungan seksual oleh suami yang disertai kekerasan pada tingkat yang parah. Kasus-kasus ini pun sering kali tidak mendapat perhatian dan penanganan hukum yang memadai.

Kekerasan dalam rumah tangga secara umum memang masih jarang dibawa ke ranah hukum. Orang Indonesia masih menganggap kekerasan di rumah tangga tidak perlu dibawa ke ranah hukum, cukup diselesaikan secara kekeluargaan.

Ujung-ujungnya, tidak ada penyelesaian. Yang ada hanyalah kasus-kasus itu ditutup rapat-rapat, karena dianggap aib keluarga.

Dalam hal perkosaan dalam pengertian konvensional, di mana pemerkosa bukan suami korban sekalipun, tidak jarang kasusnya diusahakan untuk ditutupi. Korban banyak yang tidak mengadu, baik karena takut maupun malu. Paling banyak, kasus malah diselesaikan dengan menyuruh pelaku menikahi korban.

Secara keseluruhan, bisa dikatakan bahwa posisi perempuan korban perkosaan sangat lemah. Ya memang pada praktik budaya patriarki, posisi perempuan dalam konteks hubungan seksual dengan laki-laki dibuat lemah. Perempuan dianggap tabu memiliki pengetahuan akan seks, apalagi membicarakannya.

Itu sebabnya, perkosaan oleh suami terhadap istri adalah konsep yang sangat asing terdengar. Dianggap absurd, bahkan. Demikian pula konsep tubuh perempuan sebagai miliknya sendiri, bahwa ia berkuasa atas tubuhnya. Konsep semacam itu tak berlaku.

Yang berlaku adalah, perempuan harus menikah. Kalau sudah menikah, ia harus rela disenggamai setiap saat. Ia harus rela, meski ia sedang tak suka atau tak ingin. Banyak orang berpikir perempuan hanyalah sebuah lubang tempat ia menancapkan pelirnya saat ia ingin. Lubang itu tak boleh menolak. Karena setelah menikah, tubuhnya sudah jadi milik suami.

Perempuan juga tak boleh menolak ketika suaminya masih butuh perempuan lain untuk disenggamai. Itu adalah bagian dari ibadah, pengabdian pada Tuhan yang harus dilakukan oleh suaminya. Ia harus menyampingkan perasaan cemburunya kalau suaminya bersama perempuan lain. Cemburu itu adalah hasil godaan setan, karena itu harus dihindari.

Konsep tentang perempuan yang merdeka sebagai seorang manusia adalah konsep yang datang dari dunia yang berbeda. Itu konsep yang asing, bahkan sesat. Perempuan harus dijauhkan dari gagasan itu. Jangan sampai mereka mendengar, dan jangan sampai mereka terpengaruh.

Kalau mereka menganut konsep itu, mereka durhaka kepada Tuhan. Kalau mereka durhaka, para lelaki yang memimpin mereka harus ikut bertanggung jawab. Mereka terancam siksa neraka akibat kedurhakaan perempuan. Karena itu, mereka harus memastikan para perempuan jauh dari konsep itu.

Lelaki-lelaki tadi berhasil menciptakan dunia seperti itu. Dunia di mana perempuan tunduk dan mengabdi pada laki-laki. Para perempuan yang hidup dalam dunia itu menerima statusnya sebagai lubang statis tadi.

Nah, sebagai lubang statis tentu mereka tak pernah merasa diperkosa. Mereka selalu siap sedia untuk dimasuki sesuatu. Jadi, bagaimana mungkin mereka diperkosa? Wong itu bagian dari “kewajiban” sebagai istri. Justru kalau mereka mampu melayani suami apapun kondisinya, surga akan menanti mereka.

Juga sebaliknya, jika mereka menolak berhubungan badan dengan suami, maka itu akan berbuah dosa. Neraka.

Perempuan-perempuan seperti inilah yang merasa heran dengan konsep perkosaan dalam pernikahan. Mereka menganggap konsep itu konyol. Dalam benak mereka, ada paksaan atau tidak, ketika wujudnya adalah persenggamaan, maka di sanalah letak tugas utama istri. Namanya juga sudah menikah, pasti didasari suka sama suka, mana mungkin merasa terpaksa?

Tidak peduli apakah istri sedang sakit atau kelelahan; Tidak peduli apakah suami ingin menyetubuhinya dengan cara yang tidak manusiawi; Tidak peduli apakah suami punya fantasi seks yang menyimpang dan memaksa istrinya untuk mengikuti, semua itu tidak nyata, hanya khayalan yang didoktrinkan pada perempuan nonreligius.

Dari situlah, kesalahan berpikir yang terus mengular, terus digadang-gadang, disebarkan, dan diteriakkan. Kecacatan pikir itulah yang menjadikan konsep kekerasan seksual dalam pernikahan, dianggap mitos belaka, dan sama absurdnya dengan kondisi depresi pasca melahirkan. Karena, bagaimana mungkin ada ibu kandung yang tega menghabisi nyawa bayinya sendiri ‘kan?

 

Artikel disunting sedemikian rupa tanpa mengubah maksud penulis.