Cerita sebelumnya dapat dibaca di sini:

Estafet Cerbung (5): Bola Mata yang Menggelinding, Sopir Kepala Buntung yang Terbangun

Aku pernah mendengar petuah berbahasa Inggris, “Only when we are no longer afraid do we begin to live“–Hanya saat kita tak lagi takut, kita akan mulai hidup. Dorothy Thompson. Aku tidak tahu siapa dia, tapi hari ini aku baru paham kenapa dia bisa menemukan kebijaksanaan keparat macam itu.

Laki-laki di sebelahku masih menyenandungkan lagu aneh yang terdengar seperti soundtrack film horor. Tatapan matanya masih lurus menatap ke arah yang sama denganku. Hah, dia mbrebes mili pula?

“Bajingan…,” gumamku lirih. Aku juga ingin menangis kencang-kencang di saat seperti ini. Ya Gusti, dosaku yang mana yang menyebabkanku harus bernasib seperti ini?

Sosok tanpa kepala itu masih berjalan dengan sempoyongan. Bahkan dalam kegelapan antah-berantah ini, darah segar masih terlihat memercik-mercik dari potongan lehernya yang geripis. Berkilat-kilat memantulkan cahaya apapun yang ditangkapnya.

Dari sudut mata, kulihat laki-laki di sebelahku memegangi kemaluannya. Sepintas tadi aku tahu dia mengencingi celananya sendiri. Noda basah yang lebar dan bau menyengat yang tercium sudah cukup membuktikan.

Sopir kepala buntung itu mungkin hanya berjarak sepuluh meter dari kami. Aku mengedarkan pandangan sekilas untuk membaca situasi.

Si Kondektur—astaga—menyeret tubuhnya. Kakinya seperti tak berbentuk. Hancur.

Sedangkan pemuda satunya, dengan wajah pucat pasi mengikuti arah pandang kami, lalu jatuh terduduk.

“Ha…, haaa…!” jeritnya tertahan sambil menunjuk ke arah sopir setan.

Sialnya, hal itu ternyata memancing perhatian si sopir, yang mendadak berjalan cepat ke arahnya. Pemuda Pucat itu semakin kencang berteriak, dan mencoba berlari ke arah kami.

Aku menarik Mas Penyanyi menjauh dan berlindung di balik rumpun semak. Cok, cok, cok! Umpatku dalam hati.

Sopir tanpa kepala itu mencengkeram leher Pemuda Pucat dan mengangkat tubuhnya tinggi-tinggi. Lalu perlahan, ia memuntir leher pemuda itu. Teriakannya nyaring memecahkan telinga, sebelum kepalanya terpisah dari tubuhnya.

Aku membekap mulutku kencang-kencang agar tidak menjerit. Kudengar suara Mas Penyanyi di sebelahku muntah-muntah dan perutku serasa ikut diaduk.

Sosok buntung itu kemudian melemparkan tubuh pemuda yang sudah tak bernyawa tadi ke samping, kemudian kepala si pemuda pucat dengan mata terbeliak tadi dipasang pada putusan lehernya sendiri. Ia memutar-mutarnya sejenak, seolah sedang mencocokkan ulir tutup toples.

Kini, sopir setan dengan kepala barunya menoleh ke segala arah, seperti mencari-cari sesuatu. Ia kemudian menangkap bayangan Si Kondektur yang merintih ketakutan di tempatnya. Dengan susah payah laki-laki malang itu menyeret tubuhnya mundur.

“Jangan, ampun… Jangan…,” isaknya.

Sopir hantu itu membalikkan badan dan ganti berjalan menuju Si Kondektur. Aku merasa mulas melihat wajah pemuda yang masih bernapas semenit lalu, kini melotot dengan mulut terbuka, antara ngeri dan keji. Agaknya, mencangkokkan kepala tak lantas membuatmu mampu mengatur emosi.

Jaraknya dengan Si Kondektur semakin dekat. Aku menundukkan kepala, tak sanggup menyaksikan hal yang sama dua kali. Tiba-tiba, Mas Penyanyi di sebelahku bergerak.

“Kamu mau ngapain?!” bisikku sambil menahannya. Dia menatapku panik.

“Kondektur itu…,” ujarnya.

“Kamu nggak lihat apa yang dilakukan setan itu?!” sergahku lagi.

“Justru itu! Aku nggak bisa ngebiarin kondektur itu dimutilasi!” sahutnya.

Lolongan Si Kondektur makin jelas terdengar. Ia berada tak jauh dari posisi kami. Hanya berkisar dua setengah meter.

Aku menggigit bibir. “Jangan sendirian,” putusku. “Barengan aja!”

Mas Penyanyi menatapku beberapa saat, lalu mengangguk. Pada hitungan ketiga, kami sudah berada di samping Si Kondektur. Dalam satu hentakan, aku dan Mas Penyanyi memapahnya berdiri, lalu berlari menjauh ke arah bus yang ringsek.

“Kita masuk ke dalam bus aja!” teriakku pada Mas Penyanyi.

“Hah???”

“Lakuin aja!”

Bus itu berhenti karena membentur dinding pembatas jalan, tapi mesinnya masih menyala, terlihat dari lampu sein belakang yang masih berkedip-kedip. Hanya bemper dan kaca depannya saja yang tidak karuan.

Waktu masuk ke dalam lewat pintu belakang, bau anyir darah tercium kuat. Aku mati-matian menahan rasa mual.

Dengan hati-hati, kami berjalan melewati lorong, dan beberapa mayat yang berada di kursi penumpang terlihat bersimbah darah. Aku mencoba tidak memperhatikan mereka dan fokus mengawasi sopir hantu yang mengejar kami di belakang bus.

Setelah mendudukkan Si Kondektur di belakang kursi sopir, aku menoleh pada Mas Penyanyi.

“Kamu bisa nyetir mobil?” tanyaku cepat. Dia menggeleng pelan.

“Cok!” umpatku lagi, langsung mengambil posisi di kursi sopir.

“Oke… Kopling kiri, rem tengah, gas kanan. Oke…” gumamku gugup.

“Kamu… Bisa nyetir bus?” tanya Mas Penyanyi dengan wajah lebih pucat dari sebelumnya.

“Habis ini bisa,” ujarku mantap sambil mengawasi sosok yang semakin dekat dari kaca spion.

Melihat raut yang ditunjukkan pemuda di depanku ini, aku tak tahu mana yang lebih membuatnya ngeri antara dikejar oleh sopir hantu, atau kesempatan mati tabrakan untuk kedua kalinya.

Yang manapun, aku tak peduli. Di benakku hanya ada satu: Apa yang biasanya dilakukan para jagoan dalam film-film zombie?

BERSAMBUNG…