“Kalau pengen bunuh diri, caranya gampang. Kurung diri di kamar sembari pikirkan masalah di negara ini. Saking banyaknya, otakmu bakal lumpuh, lalu meledak.”

Perkataan nyeleneh seorang senior saat saya baru saja melalui masa pengkaderan salah satu organisasi di kampus beberapa tahun lalu. Saya tiba-tiba teringat kalimat tersebut, setelah sebulan terakhir Indonesia dirundung banyak problem.

Tentu saja, saya tidak berniat melakukannya. Mereka yang mati gara-gara memperjuangkan bangsa ini saja kadang dilupakan, apalagi saya yang cuma remah-remah roti buat dibagikan ke burung merpati?

Kalaupun mati, palingan menyisakan jejak digital bahwa ada seorang pria yang pernah mati dengan kepala meledak. Saat diotopsi, sel otaknya berisikan masalah negara yang anggota DPR dan para menteri pun belum tentu punyai. Hmmm.

Sebagai anak bangsa yang frustasi pada negara dan aparatusnya, saya sangat berharap diculik alien. Bunuh diri dosanya berat dan ya mumpung, akhir-akhir ini setiap peristiwa atau apapun yang mengganggu stabilitas negara kan dibaca pakai teori konspirasi.

Rasisme, kabut asap, demo mahasiswa, hingga peristiwa berdarah di Wamena dianggap mainan intelijen atau kelompok tertentu. Ada oknum-oknum yang sengaja mendesain rangkaian peristiwa tersebut untuk menggagalkan pelantikan Presiden atau setidaknya bikin negara ini dilanda konflik berkepanjangan.

Kok seperti politik ketakutan ya? Waduh.

Oh iya, balik ke alien. Keberadaan alien adalah bagian dari teori konspirasi dunia. Sama halnya dengan bumi datar, tema alien sejak lama melahirkan kelompok fanatiknya sendiri. Terlebih, alien telah jadi bagian dari budaya populer. Makhluk ini sering nongol sebagai karakter dalam film atau animasi.

Amerika mengubah rasa penasaran manusia pada semesta lain menjadi keuntungan. Ya memang, di mana-mana konspirasi itu niatnya untuk memperoleh kapital. Kalo di Endonesah, konspirasi disebarkan demi meraih keuntungan politik. Etss, mohon jangan ada yang tersinggung ya!

Diculik alien rasa-rasanya lebih aman ketimbang diculik isilop. Menghilang menuju semesta lain memiliki risiko lebih sedikit daripada menghilang usai aksi mengkritisi negara kan?

Apalagi, dengan masalah bangsa yang bertumpuk, semesta lain adalah pelarian menyenangkan. Tapi kan, di film-film ada alien yang jahat. Menculik manusia untuk dijadikan bahan percobaan? Di negara ini juga sama cuk, menculik itu adalah bahan pelajaran supaya kalian takut.

Namanya berharap, tentu saja yang baik-baik dong. Saya berharap diculik oleh alien yang baik hati dan tidak sombong. Mereka membawa saya berwisata ke banyak planet. Siapa tahu ketemu Han Solo atau Dark Vader. Bisa berswafoto bareng mereka, lengkap dengan pedang lasernya.

Nah, saya meyakini alien jenis baik itu ada. Sama yakinnya bahwa di Senayan sana, masih bersemayam nama rakyat di benak bapak ibu terhormat. Meskipun ya, tersandera kepentingan partai dan oli mesin, eh… oligarki.

Di situasi runyam seperti ini, mengambil jarak adalah pilihan bijak. Kalau kata filsuf, berusaha obyektif. Menurut tafsir ngawur saya, obyektif itu menjauh dari bumi.

Kalau anggota DPR studi banding ke negara lain, saya juga boleh kan banting studi ke planet lain? Banyak lho, hal yang bisa dipelajari di planet-planet alien. Termasuk bagaimana merancang undang-undang pro rakyat Kree, Orion, atau Andorian dengan sistem kebut semalam.

Bahkan, tanpa mengabiskan uang hasil pajak masyarakat berkekurangan.

Terus ya, bayangkan bagaimana kehidupan di semesta lain yang damai. Perang-perangan antar alien itu cuma ada di film-film Hollywood.

Emang ada yang bukti kalau mereka gemar berperang? Emang ada bukti screenshot cuitan SJW yang bernada provokatif? Apa iya ada alien yang bekerja secara profesional sebagai buzzer istana Planet Orion? Apa di Planet Andorion agama dijadikan alat untuk saling berebut kekuasaan?

Eh satu lagi, di Planet Kree, hewan bertentakel kalau masuk rumah tetangga bakal di pidana yah?

Duh, mengkhayalkan diculik alien saja sudah semenyenangkan ini. Apalagi hidup di sebuah planet dengan air terjun yang menghadap ke langit, bunga-bunga berwarna-warni, pemerintah yang mendengar keluhan rakyat, militer berwajah ramah, dan alien sipilnya saling tertawa tanpa amarah?

Benar-benar sudah seperti di surge, bukan? Semoga malam nanti, alien itu terbang di sekitar perumahan. Pukul dua dini hari, mereka datang mengetuk kamar, lalu menodongkan sepucuk senjata laser. Tiba-tiba saya menghilang bersama kapal angkasa dengan kecepatan cahaya.

Tolong bangunkan saya, eh bangsa ini dari konspirasi, tolong!