Berulang kali Kin’emon menahan tangis saat ia menyebut Oden-sama di hadapan Luffy dan anggota Bajak Laut Topi Jerami lainnya. Di ruangan bekas reruntuhan Kastil Klan Kozuki yang penuh debu dengan plafon rubuh dan dinding berantakan, Kin’emon menceritakan shogun yang ia sebut sangat dihormati oleh Gol D. Roger.

Tak lupa, ia sampaikan bagaimana negeri Wano yang hari ini diselimuti kabut penindasan, dulunya adalah tempat paling bahagia bagi penghuninya. Hikkzz!!!

Negeri Wano berbeda rupa dua dekade sebelumnya. Kin’emon dan delapan samurai lain adalah saksi sejarah, bagaimana Wano pernah jadi surga untuk rakyat kebanyakan. Wano diberkahi tanah yang subur dan air yang jernih. Sumber daya seakan tak ada habisnya, dan dimanfaatkan oleh rakyat sebaik-baiknya. Apapun bisa tumbuh di tanah Wano, termasuk tongkat kayu dan batu menjadi tanaman. Eh, kok malah nyanyi!

Kehidupan pun terasa damai. Penguasa—terutama Oden-sama—dan para bangsawan benar-benar mengerti bagaimana cara membahagiakan rakyatnya. Dan samurai paham bahwa tugasnya adalah melindungi sang tuan.

Namun, surga itu seketika berubah gelap. Berakhir seperti neraka kala taring Kaido menancap di tanah Wano. Dua puluh tahun silam, Kaido menggandeng salah satu Daimyo bernama Orochi untuk melancarkan kudeta. Klan Kozuki dibabat habis dan kastil di atas bukit disulut api.

Berkat kemampuan khusus istri Oden-sama, empat orang termasuk sang putra mahkota dikirim ke masa depan, demi menjaga harapan akan perlawanan. Dan benar saja, dua minggu lagi—berdasarkan anime—pasukan perlawanan yang terdiri dari Aliansi Bajak Laut Topi Jerami, Bajak Laut Heart, Suku Mink, samurai Kozuki Oden, dan rakyat tertindas akan melakukan serangan balik setelah memendam amarah selama dua dekade.

Alur Wano One Piece bukan hanya ingin menunjukkan aksi perang-perangan antar dua kelompok baik dan jahat, antara Luffy versus Kaido. Saya menganggap alur kali ini terasa spesial, sebab Eiichiro Oda berusaha menyampaikan masalah yang sedang dialami dunia dan penghuninya di periode nan modern ini.

Bagaimanapun, manga bukan hanya sebuah karya fiksi, melainkan sebagai produk kultural yang kerap mengambil latar sosial sebagai inspirasi dan mengisinya dengan pesan perubahan. Bahkan, terkadang menautkan kritik sosial di dalamnya.

Kali ini, Oda lewat gambaran semiotiknya, memberi pesan kepada penikmat manga tentang dampak buruk kapitalisme bagi keberlangsungkan kehidupan sosio-ekologis negeri Wano. Pabrik senjata milik Orochi berdiri di setiap sudut negeri misterius ini. Cerobong asap mengeluarkan polusi yang memperburuk kualitas udara dan mengubah beberapa bagian wilayah di Wano semakin gersang. Belum lagi limbah pabrik yang mencemari sungai air tawar.

Sumber daya—tanah dan air—yang dulu bisa dinikmati siapa saja, kini dimonopoli oleh para penguasa. Rakyat dipaksa bekerja siang malam demi memenuhi target produksi senjata yang akan dikirim ke banyak markas angkatan laut.

Dampak lingkungan tentu saja merembes pada kehidupan sosial-ekonomi penghuni negeri Wano. Di desa-desa terpencil, Tama—tokoh perempuan yang kali pertama ditemui Luffy—sampai harus menahan lapar akibat ketiadaan beras. Bahkan, dalam salah satu scene, Tama yang terpaksa meminum air sungai sampai jatuh sakit dan dibawa oleh Luffy menuju Kuri untuk mendapatkan pengobatan.

Di Kuri pun, masyarakat Wano hanya mengonsumsi makanan sisa yang mereka dapatkan dari tempat bernama Taman Surga—daerah tempat tinggal para bangsawan bawahan Shogun Orochi. Tama adalah penanda dampak paling buruk kapitalisme yang menerpa kaum perempuan dan anak-anak.

Kaido merupakan representasi salah satu jejaring kapitalisme global yang menancapkan kukunya di sebuah negara. Ia memanfaatkan koneksinya sebagai Yonkou dengan petinggi dunia untuk mengamankan bisnis pabrik dan distribusi senjata di beberapa wilayah. Dan Orochi sebagai penguasa, juga sekaligus pemilik pabrik senjata, memanfaatkan kekuasaannya untuk memonopoli sumber daya demi kepentingan golongannya sendiri.

Negeri Wano kalau diibaratkan sekarang seperti kondisi Bolivia, di mana kekuatan kapitalisme global berselingkuh dengan penguasa yang menjatuhkan Evo Morales dari tampuk presiden. Bolivia kehilangan pemimpin yang benar-benar merepresentasikan kepentingan masyarakat banyak, terutama komunitas Indian Bolivia.

Seruan tentang pentingnya merawat keberlangsungan lingkungan dan ruang hidup masyarakat saat ini semakin menggema di seluruh dunia. Manga sebagai produk budaya populer adalah salah satu instrumen untuk menyampaikan pentingnya mendekonstruksi ulang cara pandang antroposentrisme yang kian nyata mengangkangi alam.

Di saat dampak perubahan iklim kian mengkhawatirkan, ada baiknya manusia—terutama pelaku industri ekstraktif tukang eksploitasi alam dan sesama manusia—sesekali menyaksikan alur Wano One Piece.

Barangkali, hatinya bisa terketuk melihat betapa bahagianya ratusan rakyat Wano melihat sebaskom raksasa berisi air yang diambil paksa Luffy dari tangan Bajak Laut Beast. Rakyat Wano yang sehari-hari bermandikan polusi dan limbah, sedikit lega mendapati jernihnya air–sekalipun hanya sekejap.