Akun @digeeembok mendadak ramai di Twitter, semenjak bikin thread panjang lebar soal skandar dirut Garuda yang baru saja dipecat, Ari Askhara alias I Gusti Ngurah Askhara Danadiputra.

Seperti yang kita ketahui, Ari Askhara dipecat oleh Erick Thohir selaku Menteri BUMN karena menyalahgunakan jabatannya untuk melakukan banyak tindak kriminal, yang paling baru dan menimbulkan banyak reaksi adalah soal penyelundupan motor Harley Davidson.

Seperti yang dilansir CNBC Indonesia, sebelum tersandung kasus penyelundupan Harley dan Brompton, Ari pernah tersandung kasus window dressing laporan keuangan Garuda yang bikin heboh beberapa bulan lalu.

Ia terlibat dalam skandal laporan keuangan 2018 dengan modus mengelembungkan pendapatan atas kerja sama dengan PT Mahata Aero Teknologi (MAT) bernilai US$ 239,94 juta atau setara Rp 3,41 triliun (kurs Rp 14.200/US$).

Masalahnya, dengan kasus korupsi yang sepertinya sudah ngoyot hingga ke tulang sum-sum, kok akun @digeeembok justru mengangkat isu perselingkuhan?

Coba saja perhatikan, dari sekian puluh nomor rangkaian tweet dalam thread itu, urusan hubungan gelap mantan dirut Garuda tersebut yang dibahas paling banyak. Bahkan sampai ke urusan profil dan latar belakang personal perempuan yang disebut sebagai selingkuhannya itu, dikupas satu persatu.

Kita yang cukup rasional bisa melihat dengan jelas, ke mana arah pemberitaan ini ditujukan. Iya, penumbalan perempuan sebagai kambing hitam. Lha coba lihat, ada gitu yang tertarik bikin thread soal seberapa banyak aset kekayaan Ari Askhara di dalam dan luar negeri? Atau bagaimana catatan kinerjanya hingga jadi dirut Garuda? Atau bagaimana skandal keuangannya yang lain berakhir?

Nggak. Orang-orang lebih fokus nyacati perempuan selingkuhannya, tentu dengan label klasik sebagai “pelakor”, “gundik”, “selir”, dan segala macam kata-kata buruk lainnya. Perhatikan isi komentar-komentarnya, ada berapa yang fokus ngata-ngatain si dirut alih-alih menghina-dina si perempuan?

Ini urusan korupsi, tapi kenapa lagi-lagi perempuan yang dijadikan sasaran hujatan utama?

Saya nggak menganggap bahwa hanya karena dia perempuan, maka dia layak dilindungi. Nggak gitu, Fulgosso. Tapi coba to diteliti, dari “penelitian” ndek-ndekan yang dibeberkan itu, apa ada pernyataan soal apakah benar uang-uang yang digunakan untuk menghadiahi si perempuan itu berasal dari uang korupsi? Kalau iya, berapa jumlah duit korupsi yang kemudian disalurkan pada si perempuan? Apakah ada catatan transaksi keuangan yang lari ke rekening si perempuan?

Kalau kasus perselingkuhan ini disorot karena ada kaitan signifikan dengan korupsi yang dilakukan, nggak masalah. Dia bertindak sebagai partner in crime, sebagai mediator jual-beli moge, atau penadah hasil curian, misalnya, ya wajar aja disorot sekalian. Tapi kalau cuma urusan selingkuh, lhah ya apa hubungannya sama korupsi? Apa gara-gara dia selingkuh maka dia korupsi? Berarti selingkuhannya yang ngebisikin biar dia korupsi? Lhah, mana yang duluan terjadi nih?

Okelah, dari beberan yang ditulis di thread (entah betul fakta atau tidak), perempuan yang berasal dari awak kabin itu sepertinya juga menyalahgunakan posisinya sebagai “orang dekat” si mantan dirut, lalu kerap berulah pula dan menyebabkan beberapa orang dipecat atau diturunkan jabatannya hanya karena tidak menuruti permintaannya.

Kalau memang itu dapat dibuktikan, berarti memang ada kasus nepotisme pula dalam tubuh Garuda, yang menyebabkan sistem perusahaan tidak dijalankan berdasar kompetensi dan kompetisi yang sehat.

Sayangnya, netizen, seperti biasanya, lebih suka menikmati drama perselingkuhan dan menghujat-hujat sosok orang ketiga. Permasalahan utama soal kasus KKN dalam salah satu perusahaan BUMN justru kalah dengan make-up, tampilan fisik, dan sepak terjang perempuan yang dianggap “pelakor”.

Lama-lama, orang justru lupa pada akar masalahnya, dan malah asyik sendiri menghujat serta menyelidiki profil satu perempuan. Lalu ujung-ujungnya generalisasi semua perempuan yang berprofesi sebagai pramugari adalah potensial terlibat prostitusi dalam perusahaan penerbangan.

Kemudian, muncul pula glorifikasi bahwa aksi penyerahan tubuh untuk ditukar dengan jabatan dan kedudukan dalam perusahaan itu “wajar”. Kalau mau kerja enak, harus mau ditiduri. Kalau mau jabatan aman, harus mau jadi teman kencan para bos.

Haduh, itu juga bentuk kultur korupsi!

Ayo dong, kembalikan fokus masalah pada laki-laki yang tidak kompeten dalam melakukan tugasnya sebagai pemimpin perusahaan BUMN, yang kerap menggunakan anak buahnya sebagai alat, yang menggelapkan uang negara. “Bintang utama” kasus ini adalah Ari Askhara, bukan yang lain.

Perlakukan kasus korupsi sebagaimana kasus korupsi seharusnya, bukannya malah membelokkan ini jadi kasus asusila. Sudahlah cukup KPK yang dilumpuhkan, masa nalar kita juga?