DNK

Estafet Cerbung (2): Cinta yang Bersimbah Darah

Estafet Cerbung (2): Cinta yang Bersimbah Darah

Cerita sebelumnya dapat dibaca di sini.

“Mas, kamu di mana sih? Kok WA-ku nggak dibales-bales???”

Itu chat yang kukirimkan kesekian kalinya sejak tiga hari lalu untuk pacarku. Terakhir dia bilang mau rapat, tapi sampai malam hari, dan bahkan sampai hari ini juga pesanku tidak dibalasnya. Memang kami sempat bertengkar lewat telepon, tapi biasanya dia tetap akan membalas chat dariku.

Aku dan pacarku itu sudah setahun setengah berpacaran jarak jauh. Dia di Solo, aku di Surabaya. Kami berkenalan lewat media sosial. Dia yang pertama menambahkanku sebagai teman, dan dari sanalah obrolan demi obrolan terjalin.

Laki-laki itu mengaku usianya 27 tahun dan bekerja di bagian keuangan sebuah perusahaan otomotif. Katanya, dia tahu akunku dari kawannya, yang ternyata seniorku di kampus dahulu.

“Roni bilang, kamu biasa handle event pameran di Surabaya ya?” begitu tanyanya untuk membuka obrolan.

“Iya Mas, kantor saya memang bergerak di Event Organizer. Ada yang bisa saya bantu?”

Singkatnya, dia menjelaskan bahwa anak perusahaannya yang ada di Surabaya ingin mengadakan sebuah pameran, dan butuh bantuan jasa Event Organizer. Aku pun menyanggupi. Setelah acara digelar, perusahaan mereka ternyata cocok dengan kinerja timku, dan kami jadi lebih sering berkomunikasi.

Kira-kira dua bulan setelah acara pertama itu, kami pun resmi berpacaran. Meskipun terpisah jarak, kami berusaha untuk menjaga komunikasi lewat chat, telepon, dan video call. Sesekali, dia mengunjungiku di Surabaya, atau aku gantian ke Solo untuk bertemu dengannya.

Masalahnya, sejak sebulan yang lalu, aku merasa ada yang aneh dari gelagatnya. Dia jadi makin jarang menghubungiku dan aku sempat menemukan fotonya bersama perempuan lain. Yang mengunggah memang orang lain, tapi ditautkan pada akunnya.

Dari hasil stalking yang kulakukan melalui medsos perempuan bernama Wina itu, aku mendapatkan informasi bahwa dia ternyata karyawan baru, dan kebetulan masuk di bawah pengawasannya. Hei, jangan menghakimiku. Semua orang yang pernah menjalani LDR pasti pernah melakukannya.

Aku sempat menanyakan hal itu pada pacarku, berpura-pura tak tahu apa-apa sebelumnya. Dia menjelaskan hal yang sama dengan apa yang sudah kuketahui, jadi kuanggap bahwa mereka memang sebatas rekan kerja. Tapi perasaanku tidak enak, jadi diam-diam aku masih sering mengamati akun WIna.

Minggu lalu, Wina mengunggah foto dua lembar tiket nonton bioskop. Pada kolom komentarnya, ada teman kantor mereka (aku pernah melihatnya menuliskan komentar juga di unggahan pacarku) yang menggoda dengan ucapan: “Cieee, yang baru jadiaaan. Dari senior jadi sayang ni yeee.”

Itu saja tidak akan mengangguku sebenarnya. Tapi, komentar selanjutnya itu yang langsung membuat hatiku remuk. Ada yang me-mention akun pacarku! “Selamat yaaa, Wina dan Pak @xxx”

Aku langsung mengambil screenshot komentar itu, lalu mengirimkannya ke pacarku.

“Apaan sih kamu? Ngapain kepo-kepoin akun orang?” Dia malah memarahiku balik.

“Jawab aja, ini maksudnya apa? Kamu jadian sama Wina?!” desakku. Laki-laki itu tetap tidak mau menjawab, dan malah menyebutku terlalu mudah cemburu, penuh kecurigaan, dan mengekang kebebasannya.

“Udah ah, aku sibuk mau rapat.” Itu chat terakhirnya padaku, yang ketika kubalas hanya menjadi centang satu, dan malam harinya baru berubah menjadi centang dua biru.

Chat itu tidak pernah ia balas lagi, bahkan sampai aku mengalah untuk minta maaf dan terus berusaha menghubunginya, tetap tak satupun digubris.

Lama-lama aku jengkel juga. Prinsipku, tak masalah kalau harus putus, tapi aku ingin ada penjelasan langsung. Aku tidak mau diperlakukan seenaknya begini.

Karena itulah, aku memutuskan untuk mendatanginya di Solo, mumpung aku masih punya jatah libur sehari. Pikirku, kalau dia tak cukup punya nyali menemuiku, maka aku yang akan menghadapinya.

Masalahnya, aku tidak mungkin sempat memesan tiket kereta. Jadi cara satu-satunya agar aku bisa berangkat hari ini juga adalah dengan naik bus antarkota.

Dengan membawa bekal seadanya, aku bergegas menuju ke Terminal Bungurasih Surabaya. Tanpa pengalaman naik bus sebelumnya, aku asal saja memilih bus arah Solo yang berangkat dalam waktu paling dekat.

Rupanya, bus itu kelas ekonomi. Apesnya, yang naik hanya sepuluh orang, termasuk aku.

Dengan was-was, aku memilih duduk di bangku paling depan, dekat pintu. Andai ada apa-apa, aku akan dengan mudah melompat turun, pikirku. Setelah aku duduk, sopir bus menyusul masuk dan bersiap berangkat.

Bus mulai berjalan. Kondektur yang tadinya berteriak-teriak mengumumkan keberangkatan dan mencarikan penumpang, kini mulai naik dan berdiri di pintu sambil terus meneriakkan rute bus untuk menarik penumpang lainnya.
Aku kembali mengecek ponselku. Masih tak ada pesan yang masuk.

"Lanang taek!" umpatku pelan.

Mataku mendadak terasa panas, tapi aku mati-matian menahannya agar si kondektur tidak menangkap wajah cengengku. Akhirnya aku memutuskan untuk bersandar saja pada kursi dan melihat ke arah luar jendela, sibuk sendiri dengan pikiranku di tengah deru mesin bus.

Begitu melewati Mojokerto, laju bus makin kencang. Aku yang pada dasarnya tidak biasa dengan kendaraan darat seperti ini, mulai merasa panik dan mual. Apalagi dengan posisi tempat duduk yang langsung menghadap kaca depan ini, setiap ada kendaraan lain yang disalip dengan tikungan tajam ala sopir bus terpampang jelas di depan mataku.

Refleks saja aku mengucap “Astaghfirullah!” berkali-kali setiap bus menukik tajam atau mendadak seperti hendak menerjang bokong truk di depannya.

Dalam hati aku berdoa berkali-kali agar diberi keselamatan, di saat yang sama menyesali mengapa aku mau repot-repot mendatangi laki-laki pengecut jahanam itu dan terjebak dalam situasi mengerikan ini.

Dan benar saja.

Tiba-tiba saja dari arah kiri, truk yang sebelumnya kami salip, mengejar dan entah bagaimana, berbelok terlalu ke kanan. Sopir bus kami agaknya tidak siap dengan gerakan mendadak itu, dan ia membanting setir serta menginjak rem bersamaan.

Aku menjerit saat terlontar dari kursi, disusul dengan nyeri tajam yang menusuk rusuk saat menabrak besi pegangan yang ada di depan. Sakit itu menyebar saat aku terjatuh ke arah tangga pintu bersamaan dengan terdengarnya suara nyaring.

BRUAKKK!

PRANGGG!

Sekujur tubuhku terasa perih dan aku merasa ada cairan hangat yang membasahiku. Kepalaku terlalu pening untuk memproses kejadian itu, tapi tepat sebelum aku jatuh pingsan, yang kulihat adalah warna merah pekat.

Darah.


KELANJUTAN CERITA KLIK DI SINI