Lagi-lagi, ramai urusan perceraian akibat suami yang menikah lagi tanpa sepengetahuan istri. Lagi-lagi, ramai istilah “pelakor”―perebut laki orang. Lagi-lagi, ramai isu menambah istri adalah sunnah Nabi.

Satu, saya nggak mau bahas urusan syariat, karena saya nggak nyampe ilmunya. Dua, saya juga nggak pengen bahas poligami, karena netizen udah lebih ‘pinter’ berteori soal itu.

Jadi, saya mau (lagi-lagi) ngebahas urusan perceraian dan penggunaan istilah “pelakor” aja.

Tempo hari, Mbak Nia Perdhani sudah menjelaskan panjang lebar soal kesetiaan dalam hubungan, dan bagaimana itu akan sulit dihindari, tapi bisa diredam efeknya. Dalam perjalanan kehidupan percintaan, konon, tertarik dengan lawan jenis selain pasangan itu adalah mutlak. Satu-satunya pegangan, adalah komitmen.

Nah, masalahnya, komitmen ini berat sekali dipegang. Terutama ketika kita memulai sesuatu dengan salah. Misalnya, waktu memulai hubungan, kita melewatkan fase “mengenali pasangan”. Ngebucin, pokoknya isi pacarannya seneng-seneng aja. Menutup mata aja gitu nggak mau tau pasangannya kayak gimana.

Menutup mata ini, ya beda dong dari memaklumi. Lha gimana mau memaklumi, menggali potensi kelebihan atau kekurangan pacar aja nggak sempat dilakukan?

Pas udah nikah, kaget sendiri. Lhah, bojoku kok tibake nggateli? Lho, bojoku kok sik seneng ndramus? Lho, lho, lho… Sementara kamu leng-lengen dewe lha-lho-lha-lho, ya itu si bojo tetep haha-hihi-hoho-hihe kemayak.

Kalau kekesalan terhadap tingkah pasangan sudah memuncak, keputusan untuk berpisah biasanya jadi jalan keluar yang paling memungkinkan. Karena, buat apa mempertahankan hubungan yang tidak sehat? Untuk diri sendiri saja, nggerusnya ampun-ampunan, apalagi kalau sudah punya anak?

Sayangnya, di masyarakat kita, “perceraian” itu dianggap sebagai aib. Duda dianggap nggak becus, janda dianggap nista. Padahal, pada beberapa kasus, perceraian justru bisa jadi solusi.

Dibanding era millenial sekarang, di mana angka perceraian meningkat karena memang orang-orang sudah bisa berpikir lebih terbuka, pada masa baby boomer dulu, pernikahan dianggap sesuatu yang tidak bisa diubah sama sekali.

Ketika seseorang sudah menikah, sampai mati pun harus tetap bersama, tak peduli apakah ada KDRT atau perselingkuhan atau apapun itu. Makanya, nggak sedikit juga anak-anak milenial yang punya keluarga disfungsional.

Teman saya, salah satunya. Sejak SMP, sudah menyadari ada yang salah dengan hubungan kedua orang tuanya.

Suatu hari, si bapak mendadak tidur di kamar yang berbeda dengan ibunya, dan itu berlanjut sampai seterusnya. Usut punya usut, rupanya si ibu akhirnya memutuskan pisah ranjang setelah tahu suaminya punya istri lagi.

Lebih parah, bapaknya terjerat investasi bodong yang akhirnya meludeskan tabungan keluarga. Jadi sejak lepas SMA, kehidupan teman saya tak bisa dibilang mudah karena ia juga harus memikirkan cara menghidupi dirinya secara mandiri, juga membantu ibu dan adik-adiknya.

Meskipun demikian, sampai sekarang (di usia teman saya yang sudah 30 tahun lebih), kedua orang tuanya tidak pernah bercerai. Hanya sebatas pisah rumah saja. Si bapak sejak beberapa tahun terakhir menetap bersama istri mudanya.

Jeleknya, komunikasi pun hampir tidak pernah terjadi antara kedua orang tuanya. Kalaupun ngobrol, ujung-ujungnya pasti berantem.

Selama lebih dari sepuluh tahun, teman saya mengalami itu. Dampaknya, dia dan adik-adiknya memilih untuk merantau jauh-jauh dari kampung halamannya. Pulang hanya sesekali kala hari raya tertentu. Itu pun tak pernah lebih dari seminggu.

Pernah dia bilang, ibunya tak mau menceraikan bapaknya, karena merasa tak punya kemampuan menghidupi anak-anaknya. Ibunya, yang sejak menikah dulu memutuskan jadi ibu rumah tangga, hanya punya skill menjahit skala rumahan. Jadi, kadang ia menerima jahitan seragam sekolah atau meladeni proyek jahitan ringan dari UKM tas.

Teman saya berusaha keras meyakinkan ibunya untuk bercerai, tapi permintaan itu hanya dijawab dengan diam.

“Saya nggak akan mau jadi seperti ibu saya,” tegasnya pada saya suatu kali, selepas menceritakan kondisi itu. Saya meyakinkan dia, bahwa dia tidak akan jadi seperti ibunya, karena teman saya punya ‘privilege’ berkuliah, pekerjaan yang cukup, dan soft skill-nya terasah.

Kalaupun suatu saat dia menikah dan pasangannya ternyata tidak mampu memenuhi tanggung jawab lahir ataupun batin, saya yakin teman saya bisa bertahan.

Berdasar riset yang dilakukan Ismail Surendra soal angka perceraian di Surabaya yang terjadi pada pasangan muda, dengan penyebab utama adalah hubungan yang tidak harmonis. Salah satu akarnya, adalah karena minimnya intensitas komunikasi di dunia nyata berbanding terbalik dengan frekuensi bermain media sosial.

Ironis to? Pasangannya ada di depan mata malah nggak diajak ngobrol, tapi malah ditinggal mbalesi komen-komen di FB atau twitwar.

Alasan kedua, adalah karena masalah ekonomi. Ketidakmampuan pasangan untuk menjaga stabilitas ekonomi keluarga, memang bisa menjadi penyebab pertengkaran yang terjadi. Apalagi, ketika pencari nafkah tunggal adalah suami atau istri.

Dari data yang dikumpulkan, pengaju perceraian yang paling banyak adalah istri. Ini bisa jadi, karena di zaman sekarang, para perempuan sudah lebih melek isu dan melihat adanya peluang-peluang mencari penghasilan sendiri. Jika suami dirasa tidak mampu memenuhi kebutuhan emosional ataupun finansial, perempuan sudah berani membela haknya karena merasa punya kemampuan untuk bertahan.

Yang jadi masalah justru pandangan dan bacotan orang-orang sekitar. Bagi masyarakat kita, ketika seseorang memutuskan bercerai di usia pernikahan seumur jagung, hujatannya jauh lebih gila lagi. “Kok bisa nikah kalau tau nggak cocok?”, “Pasti ada orang ketiga, deh!”, “Makanya, ngapain nikah buru-buru sih?”, dst dst dst.

Golongan yang udah nikah lebih dari lima tahun, ikutan urun komentar, “Kerja mulu sih, suaminya nggak diurus”, “Kok nggak mikirin nasib anaknya, sih?”, atau “Ya emang nikah itu kudu sabar, keleus!”

Padahal, yang menjalani ya si pasangan itu sendiri. Sekali lagi, ketika suatu hubungan tidak lagi sehat dan tidak bahagia, kenapa harus memaksa mempertahankan?

Kalau menikah tidak melulu bisa jadi cara melepaskan diri masalah, perceraian justru bisa jadi solusi tepat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi.

Bahkan kalaupun melibatkan orang ketiga, kita punya hak apa untuk menghakimi bahwa kondisi itu mutlak tak bisa dimaafkan?

Keberadaan orang ketiga, yang sering disebut sebagai “pelakor” atau “pebinor” ini, sebetulnya kan tetap menyudutkan satu pihak untuk dijadikan kambing hitam. Kita-kita yang ada di luar lingkaran itu, tahu dari mana bahwa suami atau istri itu ‘direbut’?

Bagaimana kalau ternyata, si suami atau istri itu sendiri yang menghampiri, tanpa adanya usaha perebutan?

Lagian, kenapa sih pakai istilah “merebut”? Memangnya manusia itu bisa disamakan dengan piala atau kursi jabatan, bisa dijadikan rebutan? Norak, asli.

Penggunaan istilah “perebut” itu justru bisa mengacaukan kegentingan perceraian itu sendiri. Mengabaikan segala akar permasalahan yang terjadi dalam sebuah rumah tangga, dengan fokus pada satu manusia yang dijadikan objek distraksi. Padahal, bisa jadi rumah tangga itu sudah lama bermasalah sebelum adanya sosok lain. Bisa jadi, mereka sudah berkali-kali berusaha kompromi, tapi tak juga berhasil.

Daripada sibuk ngata-ngatain orang-orang yang berkutat dengan perceraian, bisakah kita fokus membantu dan mendampingi saja pihak-pihak yang terkait, agar mereka bisa kuat dan berani menjalani fase hidup baru?

Dalam perceraian, tidak ada satupun pihak yang tidak dirugikan, kecuali nikah-cerainya buat sensasi dan naikin pamor ala seleb sepi job.