LGBT adalah singkatan dari ‘Lesbian’, ‘Gay’, ‘Biseksual’, dan ‘Transgender’—empat bentuk orientasi seksual yang paling umum ditemukan di tengah masyarakat.

Bentuk ini kemudian bertambah dengan adanya penemuan soal ‘Queer’, ‘Interseks’, ‘Aseksual’, ‘Panseksual’, ‘Poliamor’, dan kemudian ‘Kink’. Dalam perkembangannya, kelompok-kelompok ini kemudian membentuk komunitas solidaritas yang kerap disingkat menjadi LGBTQIAPK, atau yang lebih sederhana, LGBT+.

Bagi teman-teman yang masih awam, mungkin sering bertanya-tanya soal banyaknya istilah asing dalam urusan orientasi seksual ini. Jangankan membedakan masing-masing, memahami “apa itu gender” saja belum?

Oke, saya akan coba menjelaskan sesederhana mungkin supaya teman-teman jadi lebih melek soal istilah-istilah asing tadi, sehingga nanti kalau ada keinginan bergabung dengan tubir dalam hashtag yang sedang trending di medsos, nggak salah-salah dan malah jadi bumerang, ya.

Apa Itu Gender?

Masyarakat selama ini mempercayai bahwa setiap manusia dibedakan menjadi dua jenis kelamin menurut kondisi biologis saat dia dilahirkan. Yang punya penis disebut laki-laki, yang punya vagina disebut perempuan.

Bentuk vagina itu sendiri dideskripsikan sebagai ketiadaan penis. Ketika janin mencapai usia sembilan minggu dalam kandungan, tanda-tanda genitalnya baru akan nampak. Jika tidak terlihat adanya penis, berarti besar kemungkinan janin akan berkembang menjadi bayi perempuan.

Seiring berkembangnya ilmu kesehatan, ternyata ada kasus-kasus di mana seseorang bisa terlahir dengan bentuk penis atau vagina yang kurang sempurna. Ada yang memiliki vagina dengan ukuran klitoris di atas normal sehingga menyerupai penis, ada juga yang memiliki penis dengan bukaan seperti vagina, dan sebagainya. Kondisi itulah yang kemudian disebut dengan ‘interseks’. Dalam Islam, kondisi ini disebut dengan ‘khuntsa’.

Bentuk perkembangan alat kelamin pada manusia. Sumber: https://adc.bmj.com/content/89/5/401

‘Gender’ tidak terkait dengan jenis kelamin biologis. Gender lebih merupakan identifikasi seksual yang terbentuk dari proses bersosialisasi, lebih pada karakter maskulin atau feminin.

Seseorang yang terlahir dengan penis, bisa merasa bahwa identitas seksualnya adalah seorang perempuan. Sebaliknya, seseorang yang terlahir dengan vagina, bisa merasa bahwa identitas seksualnya adalah seorang laki-laki. Mereka disebut ‘transgender’.

Gender lebih bersifat psikologis alih-alih biologis.

Itu sebabnya, ada orang-orang yang kemudian memutuskan menjadi ‘transeksual’ melalui bedah medis. Jika ia terlahir sebagai perempuan tapi merasa bahwa gendernya adalah laki-laki dan mengekspresikannya melalui penampilan fisik, maka disebut ‘transpria’; Sedangkan laki-laki yang merasa gendernya adalah perempuan dan menampilkannya secara fisik, akan disebut sebagai ‘transpuan’ atau kerap disebut ‘waria‘—wanita pria.

Seseorang yang merasa bahwa identitas gendernya sesuai dengan kondisi lahiriahnya, disebut dengan ‘cisgender’ atau disingkat menjadi ‘cis’.

Apa Itu Orientasi Seksual?

Setelah mengenal gender, kita juga akan mendengar istilah ‘orientasi seksual’. Apa bedanya ‘orientasi seksual’ dengan ‘identitas seksual’?

Identitas seksual adalah bagaimana kita mengenali gender kita. Saya, terlahir dengan vagina, merasa bahwa gender saya juga perempuan. Maka saya adalah seorang cis perempuan.

Tapi, ada kawan saya yang terlahir sebagai laki-laki (memiliki penis dan organ seksual laki-laki), merasa bahwa dirinya adalah seorang perempuan yang terperangkap dalam tubuh laki-laki. Maka, ia mengidentifikasikan dirinya sebagai ‘transgender’, atau ‘non-binari’—tidak terbatas dalam dua gender utama laki atau perempuan.

Orientasi seksual adalah preferensi seksual seseorang, atau bagaimana seseorang ingin menjalani hubungan romantis dengan orang lainnya. Umumnya, ada tiga kategori yang paling umum: ‘homoseksual’, ‘heteroseksual’, atau ‘biseksual’.

Homoseksual adalah sebutan untuk orang-orang yang punya ketertarikan seksual terhadap sesama jenis. Misalnya, laki dengan laki (disebut ‘gay’), atau perempuan dengan perempuan (disebut ‘lesbian’).

Heteroseksual adalah sebutan untuk orang-orang yang tertarik dengan lawan jenis. Misalnya, perempuan dengan laki-laki, atau sebaliknya.

Lalu ada juga biseksual, yaitu sebutan untuk orang-orang yang tertarik dengan laki-laki maupun perempuan.

Orientasi seksual dapat terbentuk dari identitas gender seseorang. Itu sebabnya, ada beberapa orientasi seksual selain ketiga gambaran di atas, yang kemudian menambahkan kategori dalam kelompok LGBT+ tadi.

Queer adalah mereka yang tidak ingin melabeli diri mereka dengan identitas gender atau orientasi seksual tertentu.

Aseksual, misalnya, adalah sebutan untuk orang-orang yang tidak tertarik secara seksual dengan gender manapun.

Panseksual, adalah sebutan untuk orang-orang yang hanya tertarik secara seksual dengan orang-orang yang punya kedekatan emosional dengan mereka, terlepas dari gendernya.

Apa Itu Perilaku Seksual?

Perilaku seksual adalah bagaimana seseorang mengekspresikan ketertarikan seksualnya, dalam hal ini berkaitan dengan libido. Perilaku seksual, tidak selalu dipengaruhi oleh orientasi seksual atau identitas gendernya.

Misalnya, ada seorang cisgender perempuan dengan orientasi homoseksual (lesbian), memiliki perilaku seksual gemar bergonta-ganti pasangan. Atau, seorang transpria (perempuan yang berpenampilan seperti laki-laki) yang juga merupakan seorang aseksual—tidak tertarik untuk memiliki relasi seksual. Keduanya menunjukkan perilaku seksual yang tidak sama.

Perilaku seksual ini dapat mengalami penyimpangan, atau kerap disebut sebagai ‘penyimpangan seksual’.

Contohnya saja, seorang cisgender laki-laki dengan orientasi heteroseksual (tertarik dengan lawan jenis), mengalami penyimpangan seksual tertarik bersetubuh dengan mayat. Dalam ilmu psikologi, disebut sebagai ‘nekrofilia’.

Atau, contoh penyimpangan yang paling umum adalah pedofilia, di mana seseorang memiliki ketertarikan seksual dengan anak-anak, apapun gendernya.

LGBT+ Berbahaya?

Seperti yang saya jelaskan di atas, identitas gender atau orientasi seksual seseorang tidak selalu menjadikan perilaku seksualnya menyimpang.

Seorang cisgender perempuan bisa saja mengalami penyimpangan jika ia gemar bersetubuh dengan hewan (disebut ‘zoofilia’), atau cishetero laki-laki juga bisa menunjukkan perilaku seksual yang berisiko jika ia gemar bergonta-ganti pasangan tanpa menggunakan kondom.

Jika identitas gender atau orientasi seksual seseorang saja tidak selalu mempengaruhi aktivitas seksualnya, maka mengapa sebagian orang sangat mudah berprasangka negatif terhadap kelompok LGBT+?

Banyak stigma yang dilekatkan pada kaum LGBT+, salah satu yang paling sering terdengar adalah bagaimana mereka menyebarkan penyakit-penyakit berbahaya, seperti HIV/AIDS. Padahal, menurut penelitian, penderita HIV/AIDS paling banyak justru berasal dari kalangan heteroseksual dengan perilaku seksual berisiko.

Atau, ada juga anggapan bahwa kelompok homoseksual dapat “menularkan” orientasi seksual mereka pada kelompok heteroseksual, atau malah dapat melakukan pelecehan seksual.

Anggapan-anggapan ini tidak berlandaskan argumen yang logis. Orientasi seksual bukanlah penyakit yang bisa ditularkan seperti flu, sakit mata, cacar air, atau kolera. Pelecehan seksual pun, bukankah banyak juga dilakukan oleh siapa saja, tak pandang gender atau usia?

Yang patut kita waspadai sebetulnya adalah mereka yang mengabaikan hubungan konsensual, apapun gender dan orientasi seksualnya. Jika sebuah relasi tidak berlandaskan konsensual dari kedua pihak (atau lebih), maka ada sebuah paksaan di sana, dan tentu mengarah pada kekerasan. Ini yang harus kita perhatikan.

Lalu mengapa kelompok LGBT+ masih mengalami banyak diskriminasi, termasuk di lingkungan kerja? Apa hubungan orientasi seksual seseorang dan kapasitasnya sebagai pekerja? Apakah ada jaminan mutlak bahwa orang-orang selain LGBT+ dapat memiliki performa ideal dalam instansi?

Tidak ada.

Setiap orang, apapun gendernya, apapun orientasi seksualnya, punya potensi untuk menjadi baik atau buruk, tergantung dari tiap-tiap individu. Cishetero bisa melakukan pelecehan seksual, bisa juga menularkan penyakit berbahaya. Transhomo bisa sangat toleran, bisa juga berperilaku seksual yang penuh tanggung jawab. Tidak bisa digeneralisir.

Kita hidup di bumi dengan kondisi masyarakat yang sangat kompleks, sangat majemuk. Jadi, satu-satunya yang bisa kita samakan adalah mencoba memanusiakan manusia.