Ketika dua manusia modern menjalani kehidupan dengan pola pikir yang tertinggal di zaman Neanderthal, hasilnya adalah kekacauan yang meledak-ledak. Mending kalau hasilnya seindah kembang api, lha kalau jadi kayak video Galih Ginanjar?

Gara-gara video percakapannya dengan Rey Utami tersebar, Galih Ginanjar jadi faaamous. Famous nggilani tapi. Saya nggak perlu minta maaflah ya karena menyebut dia begitu, lha wong faktanya emang gitu kok.

Masalahnya, yang luput dari perhatian orang-orang adalah peran Rey Utami dan suaminya, Pablo Benua. Kita memang jengkel betul dengan bacotan nggak mutunya si Galih, tapi jangan lupa, Rey-Pablo juga punya andil besar dalam menyiapkan pertanyaan dan menggiring percakapan itu.

Ya ibaratnya, yang satu banci tampil, yang satu butuh duit. Jadi deh panggung saweran.

Saya tuh masih belum bisa nyampe di level kompromis dan prihatin ketika ada perempuan macam Rey Utami yang justru bisa ketawa-tawa ketika lawan bicaranya yang laki-laki sudah bicara sedemikian buruknya soal tubuh perempuan lain. Nggak tekan ngono lho utek ambek atiku iki.

Jangankan ngilok-ngilokno. Ada laki-laki tanpa angin tanpa hujan tau-tau ngomongin soal pengalaman seksnya dengan bangga di depan perempuan yang tidak berkepentingan secara status atau profesi (misalnya pasangan atau psikolog) itu udah termasuk pelecehan seksual.

Moro-moro ngomong, “Mbak, aku wingi lho kenthu karo arek wedok. Posisi 69-e juara poool!” ngono iku iso nggarai kon dipenjara, Blok! Paling enteng yo dikaplok.

Emang ya, makin ke sini, makin banyak fenomena selebriti kurang laku yang akhirnya rame-rame bikin kanal Youtube terus isine naudzubillah mentolo tak celukno Pak Yai gawe ngerukyah terus distempelno haram.

Apakah ini justru semakin menguatkan stigma bahwa jadi artis televisi di tanah air ini cuma modal bodi dan sensasi aja nggak perlu skill dan etika? Sehingga kalau mereka sudah sepi job di tivi, pelariannya nggak ada

Masalah lainnya lagi, isu “penyakit kelamin” ini agaknya dipahami sebagai “senjata” untuk menjelek-jelekkan mantan istri atau mantan suami di kalangan para selebriti buat mencari popularitas dadakan. Dulu ada kasus Rizky, personil The Titans, yang dituduh oleh Ratna Damayanti, mantan istrinya, telah menularkan penyakit kelamin akibat hobinya main perempuan.

Agaknya, dengan menyatakan bahwa mantan pasangan mengidap penyakit tertentu, mereka berpikir bahwa segala simpati akan didapatkan dan si mantan jadi dianggap sebagai the bad guy. Padahal yo enggaklah, Rek. Plis, sopo sing pengen ngrungokno riwayat rajasingamu, Ndes?

Setelah heboh dan dapat sensasi yang menaikkan nama mereka, lhah malah nggawe grup musik dewe ambek suara pas-pasan sing kudu full diedit nang studio. Hadeeeh.

Objektifikasi perempuan itu banyak wujudnya. Melabeli perempuan dengan “enak” atau “tidak enak” di ranjang juga salah satunya. Dan jangan salah, sesama perempuan kadang lebih nggak punya nalar lagi kalau sudah terjerat patriarki.

Contohnya ya si Rey Utami ini, mengaku risih, tapi seolah-olah mengusung profesionalisme maka dia tetap harus menanyakan hal-hal itu dengan lebih detail. Yang terjadi adalah Rey sendiri membaca Fairuz sebagai “objek konten” dan dia bahkan seolah tak perlu mengonfirmasi atau meminta persetujuan Fairuz untuk penayangannya.

Lha wong di sisi lain Indonesia ada Baiq Nuril yang memperjuangkan haknya, eh di sini malah si Rey malah mancing-mancing dan ngompori biar dickhead-nya Galih makin ereksi.

Penggunaan istilah “ikan asin” untuk menyebut aroma vagina juga bukan yang pertama kali terdengar. Saya beberapa kali mendapati laki-laki cenderung menggunakan istilah itu dalam konteks merendahkan, mengolok-olok, atau bahan guyonan sesama laki-laki.

Dan inilah memang yang dilakukan oleh Galih Ginanjar: Mengolok-olok Fairuz dan mempermalukannya.

Dia memang akhirnya meminta maaf, tapi lebih kepada karena video itu tersebar, BUKAN karena segala ucapannya. Dia tidak merasa ada yang salah dengan pengalaman seksualnya yang diumbar-umbar, dengan objektifikasi yang dia lakukan terhadap mantan istrinya.

Laki-laki seperti Galih Ginanjar inilah yang membuat banyak perempuan berpikir seribu kali untuk memilih pasangan. Sori, sori nih Mas, buat apa main 3 jam kalo pas diputusin bisanya nggacor doang~