HIV/AIDS masih menjadi salah satu penyakit yang jadi sorotan dunia. PBB bahkan membentuk satu organisasi khusus yaitu UNAIDS, yang berkonsentrasi dalam isu seputar HIV/AIDS.

Meskipun belum ada obat yang benar-benar menyembuhkan (dalam artian membasmi penyebab) HIV, perkembangan virus ini sendiri dapat ditekan dengan obat-obatan khusus.

Seperti yang kita ketahui, HIV (Human Immunodeficiency Virus) adalah virus yang menyerang kekebalan tubuh penderita, dengan menyerang sel darah putih yang bertugas melawan infeksi. Akibatnya, tubuh penderita sangat rentan tertular penyakit dari luar. Bahkan penyakit yang ringan bagi orang biasa, seperti batuk atau pilek, bisa berdampak serius bagi tubuh penderita yang terserang HIV.

AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndromme) adalah tahap akhir dari infeksi HIV dalam tubuh. HIV membutuhkan waktu sekitar lima tahun atau lebih hingga mencapai fase AIDS dalam tubuh manusia, tergantung dari kekuatan imun individu.

Di Indonesia, per 2018, UNAIDS mencatat angka-angka berikut:

  • 640.000 orang terinfeksi HIV.
  • Infeksi HIV per 1000 orang tak terinfeksi—jumlah baru terinfeksi HIV di antara populasi tak terinfeksi dalam kurun satu tahu—dari berbagai usia adalah 0,17.
  • Penyebaran HIV—persentase orang yang hidup dengan HIV—di usia dewasa (15–49 tahun) adalah 0,4%.
  • 46.000 orang baru terjangkit HIV.
  • 38.000 orang meninggal akibat penyakit yang berhubungan dengan AIDS.

Pada 2020, UNAIDS menargetkan rasio 90-90-90 untuk penanganan isu ini: 90% orang yang terinfeksi HIV mengetahui status mereka, 90% orang yang mengetahui bahwa mereka positif HIV dapat mengakses pengobatan, dan 90% orang yang berobat akan mampu menekan jumlah virus dalam darah.

Stigma Seputar HIV/AIDS

Selama bertahun-tahun, stigma tentang HIV/AIDS terus berputar di tengah masyarakat, soal penularan, soal bahaya kematian yang tidak terelakkan, dan mitos-mitos lainnya. Padahal, melalui perkembangan ilmu kesehatan, banyak stigma soal HIV/AIDS yang mampu dibantah.

Masalah kesembuhan pasien, misalnya. Sekarang, sudah ada pengobatan yang dapat membantu penderita untuk bisa hidup sehat, yakni Terapi Antiretroviral atau kerap disingkat dengan ARV.

Fungsi ARV adalah untuk menekan perkembangan jumlah virus dalam tubuh. Targetnya adalah sampai status virus itu “undetected“—tidak terdeteksi dalam darah, dan “untransferrable“—risiko penularan sangat kecil, sehingga hubungan seks tanpa kondom pun aman dilakukan.

Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) atau yang kerap disebut sebagai “kalangan positif”, wajib meminum ARV selama hidupnya, tanpa terputus. Ia juga harus menjaga kondisi dengan gaya hidup sehat. Jika ODHA dapat terus berkomitmen untuk menjalankan terapi ini, ia akan bisa hidup seperti biasa.

Stigma lain yang biasanya melingkupi para ODHA adalah perihal penularan. HIV hanya dapat ditularkan melalui cairan tubuh, seperti semen (air mani), cairan anal, cairan vagina, darah, dan air susu ibu (ASI) yang terinfeksi.

Keringat, air liur, bersentuhan kulit, air kencing, dan feses, meskipun termasuk “cairan tubuh”, tidak menyebabkan penularan HIV dari satu manusia ke manusia lainnya.

Inilah yang kerap disalahpahami oleh masyarakat awam. Semen, cairan anal, dan cairan vagina tentu hanya dapat ditularkan melalui hubungan seks tanpa pengaman (kondom). Tapi, tidak serta merta hanya karena seks anal umumnya dilakukan oleh gay, maka hanya pasangan sesama jenis sajalah yang berisiko. Perempuan yang gemar melakukan seks anal dan bergonta-ganti pasangan pun rawan terkena.

Faktanya, mayoritas penderita HIV/AIDS adalah perempuan dari kalangan ibu rumah tangga, yang tertular dari suami dengan perilaku seks berisiko.

Penularan HIV melalui darah, umumnya terjadi melalui jarum suntik yang dipakai bergantian. Anggapan bahwa virus ini juga dapat tertular melalui gigitan nyamuk adalah mitos, karena kemungkinannya sangat kecil. HIV berbeda dari malaria.

Sementara itu, ibu hamil atau menyusui yang ternyata positif, bisa melahirkan dan menjaga bayinya agar tetap negatif, jika sang ibu rutin mengonsumsi ARV.

Itulah pentingnya edukasi terhadap penyakit ini, apalagi untuk orang-orang yang pernah atau terduga melakukan perilaku seks berisiko atau mengonsumsi narkoba melalui jarum suntik.

Diskriminasi Terhadap ODHA

Menurut Dadang dari Jaringan Indonesia Positif (JIP) Surabaya, stigma terhadap ODHA ini kerap berujung pada diskriminasi, baik secara verbal maupun fisik.

Banyak penderita yang diusir atau dikucilkan dari lingkungan keluarga atau tempat tinggalnya. Bahkan, ada anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang mengalami diskriminasi dan diminta keluar dari sekolahnya.

Organisasi seperti JIP dan Mahameru biasanya memberikan pendampingan psikologis dan hukum untuk para korban. “Masalahnya, kadang korban itu sendiri yang nggak siap mental untuk meneruskan ke proses hukum,” jelas Dadang.

Dari data yang dikumpulkan, diskriminasi terhadap ODHA juga masih sering ditemui dalam pelayanan medis di Surabaya. Meskipun fasilitas dan sistem regulasi pemeriksaan serta pengobatan sudah baik, diskriminasi itu kerap diterima dari pekerja medis sendiri.

“Kadang saat konseling, ada yang ditanya, ‘Kenapa kamu begini? Kenapa belum menikah?’ Itu ‘kan urusan privat,” jelas Dadang. Sikap-sikap seperti itu, kadang membuat penderita jadi enggan meneruskan terapi konseling atau pengobatan.

Padahal, salah satu target organisasi peduli HIV/AIDS seperti JIP, Mahameru, Perwakos, Hotline dan yang lainnya adalah agar ‘Populasi Kunci’ (kalangan LGBT, pengguna narkoba melalui jarum suntik, dan pekerja seks komersial) mau memeriksakan diri dan rutin mengonsumsi obat jika memang terinfeksi.

Pernah juga terjadi beberapa kasus di mana terdapat masyarakat yang enggan memandikan jenazah penderita HIV/AIDS karena takut bersentuhan dengan kulit atau urine dan feses penderita. Padahal, urine, feses, kulit, atau keringat tidak bisa menjadi medium penularan HIV/AIDS.

Umumnya, karena HIV menyerang kekebalan tubuh, penderita mengalami kematian bukan dari virus itu sendiri, melainkan karena tertular penyakit lain seperti TBC, Toksoplasma, gangguan hati, dan sebagainya.

Nah, virus-virus bawaan itulah yang bisa saja mengontaminasi lewat cairan atau udara. Makanya, penanganan jenazah penderita HIV/AIDS juga diperlakukan secara khusus, yakni dengan menambahkan lembaran plastik sebelum lapisan kain kafan.

Peranan Pemerintah Belum Maksimal

Dalam penindaklanjutan pelayanan kesehatan bagi ODHA, para relawan dari CSO dan LSM biasanya berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan selaku penanggung jawab utama. Selain Dinas Kesehatan, Dinas Pemuda dan Olahraga, Dinas Sosial, dan Dinas Pendidikan juga dikatakan menjadi bagian dari koordinasi.

Namun, menurut Dadang, dinas-dinas pemerintah ini belum bisa bersinergi secara maksimal. Untuk kepentingan pengumpulan data pun, CSO dan LSM kadang mengalami kesulitan.

Misalnya saja, saat ingin mencari tahu soal anggaran pencegahan dan penanggulangan, estimasi target peserta edukasi untuk kalangan pemuda, atau penderita yang ditampung dalam Dinas Sosial (akibat penolakan dari keluarga).

“Padahal kami ini bukannya mau minta, justru ingin tahu supaya bisa membantu melengkapi. Masing-masing kan punya resources. Kalau memang dari dinas jumlahnya terbatas, ya kami mungkin bisa bantu,” kata Dadang.

Kolaborasi antara pemerintah dan CSO dan LSM seharusnya bisa membantu penurunan stigma soal HIV/AIDS melalui edukasi masyarakat. Tidak hanya terkait penanggulangan, tapi juga pada bagian pencegahan. Salah satunya adalah melalui edukasi seks dini pada kalangan pelajar.

“Masih banyak anak kelas 1 SMA yang belum tahu (apa itu HIV/AIDS). Padahal, anak-anak usia SMA itu harusnya sudah dapat edukasi soal ini, karena mereka justru termasuk kelompok yang aktif secara seksual,” jelas Dadang.

Menghentikan stigma terkait HIV/AIDS akan optimal jika edukasi terkait penyakit ini bisa disebarkan secara merata. Jika stigma dapat dihapuskan, diskriminasi terhadap ODHA juga dapat dihentikan, sehingga mereka dapat memperoleh hak untuk hidup sehat, seperti manusia lainnya.