“Menurutmu Awkarin ini gimmick doang nggak, sih?” tanya saya pada seorang kawan, beberapa hari lalu, selepas viralnya aksi penghijauan yang dia lakukan, tak lama setelah Karin ikut memadamkan kebakaran hutan.

Kawan saya dengan enteng menjawab, “Mau gimmick atau enggak, yang jelas tindakan dia nyata, nggak cuma janji-janji ala politisi.”

“Tapi kan, bisa jadi itu emang cuma naikin engagement dia sebagai influencer? Belum tentu dia bakal konsisten balik lagi ke hutan nengokin bibit-bibit pohon yang dia tanam hari ini?”

“Mau itu buat konten tok atau bukan, orang nggak akan peduli. Yang orang pedulikan, ketika terjadi bencana, Awkarin yang datang. Buat orang yang lagi kesusahan, satu kebaikan kecil aja tuh berarti banget. Itu yang akan mereka ingat.”

Saya langsung terdiam setelah mendengar itu. Masuk akal.

Kita semua pernah mengalami kejadian-kejadian nggak enak, dan betullah apa kata pepatah, “teman sejati” adalah yang hadir saat kita sedang ada dalam kesusahan. Bahkan ketika yang hadir itu orang asing sekalipun, kita akan tetap mengingat-ingat kebaikannya sampai kita mati.

Tapi ya itu nggak berlaku buat kelean tipikal sing ditulung malah mentung, koyok sing wes diutangi pas ditagih malah luwih galak. Cuks!

Oke, balik soal Awkarin dan kebaikannya.

Saya tahu nama Awkarin itu sekitar 2016 lalu, gara-gara nonton video wawancara dia di VICE. Waktu itu saya masih nggak ngeh, siapa sih cewek ini? Ndilalah, di Facebook kemudian ada tubir dari kaum peduli anak-anak yang menghujat Awkarin.

Iseng, saya nanya ke salah satu teman selaku penghujat yang waktu itu masih berprofesi jadi guru bimbel. Dia bilang, Awkarin ini influencer yang style-nya ala-ala good girl gone bad gitu: Tatoan, misah-misuh, klambine koyok jaring iwak, rebel punk, dll.

Dia hobi cari sensasi via drama percintaannya yang kemudian dijadikan konten, terus “ngajarin” para followers biar tetep jadi diri sendiri, berani melawan society, dsb.

Udah gitu, dia pernah duet bareng Young Lex pula. Mesti iling to, tagline paling diingat dari Awkarin adalah: Kalian semua suci, aku penuh dosa. Yooo, ngono ikuuu, sarkaso terooos!!!

Lha saya dulu diceritain begitu itu jadi bingung, seleb lain juga bukannya banyak yang begitu? Lha, Nikita Mirzani iku kurang mbeling opo?

Pembelaan teman saya, “Awkarin masih sekolah. Dia diidolakan anak-anak remaja. Piyik-piyik. Dan mereka menjadikan Awkarin sebagai role model. Segala tingkah polahnya dia itu dianggep keren. Awkarin tau bahwa pasarnya dia begitu, tapi dia tetep melakukan itu. Apa dong namanya kalo bukan ngasih pengaruh buruk?”

Saya cuma mantuk-mantuk aja dijelasin begitu. Ya masuk akal juga pembelaannya, anak-anak kan rentan pengaruh dari medsos memang. Saya kemudian jadi terpengaruh rada skeptis sama Awkarin.

Tapi tiga tahun berlalu, lha kok Karin sekarang tampil dengan sosok yang bisa dibilang 100 derajat berbeda?

Bukan karena dandanannya, karena kalau urusan penampilan yang dari emo jadi casual sih sudah biasa di tren mode ala seleb. Yang beda itu, citra yang dia tampilkan sekarang.

Semenjak dia mengumumkan “menjual” akun IG-nya (yang ternyata kepada “dirinya yang baru”), Karin memang jadi berbeda. Namanya jadi sering digaungkan untuk hal-hal yang selaras dengan kebaikan―yang versi society.

Kebaikan versi society itu maksudnya yang nggak ngumbar kemesraan di medsos, yang penuh pesan positif, yang menampilkan kepercayaan dirinya, yang sesekali diselingi dengan promosi jilbab dagangannya. Ya benar, Awkarin konsisten dalam niatnya membagikan kebahagiaan melalui akun Instagram-nya itu.

80 derajat lainnya yang tidak berbeda dari Karin sebelumnya adalah ketika ia kekeuh berpendapat bahwa Indonesia merupakan negara demokrasi, di mana setiap orang punya hak untuk berbicara dan menyuarakan pendapat.

Karin mengatakan itu dalam wawancaranya bersama VICE, tiga tahun lalu. Tahun ini, kita melihat bagaimana ia berpartisipasi dalam perjuangan demokrasi itu, melalui 3.000 nasi kotak yang ia bagikan untuk massa aksi di #SenayanMemanggil, September lalu.

Karin konsisten berbuat baik, karena ia merasa bahwa kebaikan itu membuatnya merasa lebih baik.

Kita, orang-orang yang mengaku punya hati, akan sepakat bahwa kebaikan―sama seperti kejahatan―bisa menular. Ia tumbuh dan mengakar, menjalar dan tersebar.

Nah, rupanya, kebaikan yang ditanam Karin ini betulan menyebar, semacam memberi semangat pada kaum milenial lainnya untuk ikut bergabung dalam gerakan yang ia bentuk. Karin membuka kanal donasi, mengajak para followers dan influencer lainnya ikut berpartisipasi dalam proyek kebaikan yang ia ciptakan.

Karin (dan mungkin juga tim manajemen di balik kiprahnya) jeli membaca bahwa gerakan semacam itu akan efektif jika digerakkan melalui platform Twitter, yang isinya memang mayoritas sambatan dan guyonan terhadap isu sehari-hari, dengan perputaran super cepat.

Bahkan tanpa mengucap mantra “Twitter please do your magic”, bakti sosial yang dilakukan Karin langsung memperoleh perhatian dari berbagai kalangan. Mulai dari selebtwit lawas, seleb beneran, akun alter, akun RP, buzzer, sampai sobat ambyar, pun sobat misqueen.

Berita itu mengular, dan memang benar menular. Banyak yang ikut tergerak, membantu dengan cara apapun. Mendadak medsos jadi punya banyak sekali konten kebaikan untuk dibagikan. Ini semacam angin segar yang mengusir hoaks-hoaks dan banyaknya ujaran kebencian politis.

Lalu sebagaimana malam yang datang membarengi siang, muncul pula kenyinyiran terhadap kebaikan-kebaikan itu. Datangnya ya paling banyak dari para politisi menua yang agaknya risih, sebab jatah pencitraan bagi-bagi untuk kampanye berikutnya jadi berkurang.

Buzzer-buzzer anti-SJW juga ikutan menghujat. Pancene haters kabeh! *Padahal saya ya sempat skeptis juga…

Sekarang pertanyaannya, urusan motif Karin melakukan semua kebaikan itu, apakah memang penting bagi kita untuk menelaah secara merinci?

Menurut hemat saya, jawabannya, “Gak, blas.” Karena yang utama adalah kebaikan itu tersampaikan. Ia memberi pengaruh positif pada orang-orang lain; menggerakkan mereka yang tadinya tak berniat membantu, jadi ingin membantu; menolong mereka yang memang membutuhkan.

Menjadi baik itu kan nggak butuh alasan melip-melip, ya to? Mosok yo arep sedekah ae kudu mikiri a b c d, kudu ngitung persentase soal esensi dan sensasi sebuah tindakan, seperti yang diutarakan Om Budiman?

Dari rangkaian kebaikan ini, Karin berhasil membangun dan menunjukkan value yang dia miliki. Ia berbuat. Ia melakukan sesuatu. Dan itu semua berdasarkan kebaikan.

Laiknya orang jahat nggak berasal dari orang baik yang tersakiti, orang baik pun nggak mesti berasal dari influencer yang nyari exposure. Gitu lho.