Pagi kemarin, tiba-tiba ada banyak kawan nge-tag saya di Facebook. “Waaa, ternyata Iqbal fans Wan Abuuud! Jempolnya nongol paling gedeee! Huahahaha! Ketahuan deeeh!”

Terus terang, saya tidak nyaman dengan sebutan Wan Abud kepada Mas Anies Baswedan. Ada bau-bau rasis di situ. Silakan pikirkan sendiri dengan kecerdasan dan sensitivitas Anda, saya tidak mau membahasnya karena sekarang bukan itu topik obrolan kita.

Ini lebih tentang kericuhan kecil yang kemarin sempat bikin rewel banyak orang. Kata mereka, fanpage Anies Baswedan “menyedot” like dari ribuan akun Facebook, sehingga akun-akun pada nge-like fanpage tersebut tanpa si empunya akun merasa melakukannya.

Lalu, sembari memprotes dan membuli Anies (terlepas dari apakah betul dugaan soal penyedotan jempol itu), banyak kawan ejek-ejekan satu sama lain karena nama mereka kepergok nongol di daftar penjempol Anies Baswedan. Tentu, mereka yang saling ejek itu berasal dari kelompok haters-nya Anies, sehingga njempoli fanpage Anies tampak sebagai aib tak tertanggungkan dan mengotori kesucian perjalanan hidup mereka.

Saya sendiri bukan fans atau pendukung Anies. Baik waktu dia menjabat sebagai Mendikbud, apalagi pas sudah jadi Gubernur DKI. Tapi tanpa jempol saya disedot-sedot pun, saya memang tak pernah berpikir panjang untuk mengikuti akun-akun pesohor. Follow ya follow aja. Jadi sangat mungkin memang saya sendiri yang nge-like akun Anies sejak dulu kala. Tapi so what?

Lha, jangankan Anies Baswedan yang kandidat terkuat presiden kalian pasca-Jokowi itu (hahaha!), wong Ustad Tengku yang tiap hari mara-mara aja saya follow. Bahkan dulu di zaman jaya-jayanya, Jonru pun saya follow. Itu sebanding dengan saya follow Deni Siregar, Nanik Deyang, dan bajer-bajer lainnya.

Lebih brutal lagi, akun JRX SID aja saya follow kok. Coba, apa sih pentingnya menyimak orang yang tiap hari cuma sibuk pamer bini cantik? Bikin anu aja ih.

Lagian, apa juga susahnya nge-follow orang, dan seberapa harga diri kalian yang tinggi itu runtuh terobrak-abrik hanya karena mem-follow seseorang? Bukankah dengan mengikuti postingan-postingan siapa pun, kita jadi agak-agak kenal dia, bisa melihat dirinya dari versi dia sendiri, dan bukan cuma dari hasil penilaian lawan-lawannya?

Lho iya, kan? Anda mau orang lain kenal Anda cuma berdasar gosip tetangga atau kawan-kawan se-grup WA? Normalnya sih enggak, terlepas dari Anda normal atau enggak (ehmaap).

Maka, menilai seorang Anies Baswedan dengan basis informasi Abu Janda, misalnya, tak akan ada bedanya dengan memahami Ganjar Pranowo berdasarkan cerita-cerita Mustofa Nahrawardaya. Itu semua persis sama polanya dengan mempelajari agama Kristen bersumber dari presentasi Zakir Naik, atau mendalami agama Islam dengan acuan referensi pidato-pidato Donald Trump.

Kira-kira semacam itu. Maka, di situlah akan tampak nilai spiritual dari mem-follow akun atau fanpage siapa pun, terutama akun-akun milik “musuh tradisional” kita masing-masing wkwkwk.

Meski demikian, saya yo paham, lah. Sampeyan-sampeyan gengsi, dan itu manusiawi. Karena lingkaran pergaulan cuma itu-itu saja, berada di satu jalur “ideologis” yang sama, berkumpul dengan satu kubu politik yang sama, akibatnya muncul tekanan sosial dari teman-teman sekitar untuk berbondong-bondong hanya menuju preferensi-preferensi yang persis sama.

Itu sebenarnya memalukan dan nggak ada keren-kerennya. Alasannya ya itu tadi. Sikap antipati untuk menyimak dan mendengarkan satu sama lain akan menjadi tradisi, membuat kita semakin miskin perspektif, berkarakter judgemental, dan apriori.

Solusi praktisnya sebenarnya ada, dan itu tidak akan melukai gengsi Anda semua. Yakni meminta semua platform medsos, dalam kasus Anies ya Facebook, untuk mengenyahkan tanda jempol dan istilah like. Ganti saja dengan tanda teropong dan istilah watch atau apa. Itu sudah.

Efek psikologis dari tanda jempol itu kan selama ini terbentuk tanpa kita sadari, lantas menguasai persepsi di otak kita. Seolah kalau saya nge-like atau menaruh jempol di fanpage Jonru, artinya benar-benar saya ngasih thumb up buat dia, atau sungguh-sungguh suka sama postingan-postingan dia.

Padahal realitasnya tidak begitu. Saya cuma ingin rutin menyimak celetukan-celetukan Jonru, itu saja. Bisa untuk mencari-cari celah membuli dia, bisa untuk mengamati dia sebagai fenomena, atau untuk mengambil omelannya sebagai bahan tulisan, lantas menyulapnya menjadi uang sebagai sarana memburu kenikmatan dunia.

Gejala psikologis bentukan dari tanda jempol dan istilah like itu sebenarnya terjadi pula pada kata follow, kan?

Saya ini follower Ustad Tengkuzul di Twitter-nya. Tapi meski saya follower alias pengikut, hubungan antara saya dan Ustad Tengku sama sekali tidak mirip dengan relasi antara jamaah Salamullah dan Lia Eden, atau antara anak-anak Maiyah dan Cak Nun. Kita tahu, minimal sepertiga dari jumlah follower setiap akun pesohor adalah haters, banyak pemencet tanda like dan thumb di fanpage tokoh adalah unliker sekaligus thumb downer.

Betewe, cuma urusan jempol aja kok itungan amat sih. Sini, sini, ambil jempol saya.