Saat menonton Abracadabra, film sulap bergenre eksperimental fantasi yang sudah tayang di bioskop mulai 9 Januari lalu, kita seperti diajak masuk ke sirkus teater dalam bentuk layar lebar.

Abracadabra, sangat bagus dalam hal sinematografi. Betul-betul ingin menciptakan latar tempat yang merepresentasikan cerita seorang pesulap. Pilihan warna, pengambilan gambar, latar suara, dan setiap instalasinya, benar-benar membawa penonton ke negeri sulap.

Diisi aktor-aktor kawakan seperti Reza Rahardian, Butet Kartarajasa, Jajang C. Noor, Landung Simatupang, Lukman Sardi, Dewi Irawan, Egi Fedly, Poppy Sofia, Imam Darto, sampai Ence Bagus, Abracadabra layak diberi atensi.

Kisah dimulai dari Lukman (Reza Rahardian), yang tiba-tiba terdampar di sebuah karang. Ia digambarkan sebagai grandmaster sulap yang sedang galau dan limbung menjalani hidupnya.

Setelah itu, Lukman menemukan kotak ajaib milik ayahnya dan mendadak ingin membuat pementasan sulap terakhirnya.

Sejak dua tahun lalu, Lukman memang terus menampilkan pementasan yang itu-itu saja. Hingga salah satu penonton hafal setiap gerak-gerik bahkan pengulangan katanya. Di pertunjukan terakhir itu, ia berencana gagal sekaligus mengutarakan niatnya berhenti dari dunia sulap.

Lukman pun lalu mengeluarkan kotak ajaib milik ayahnya. Saat pertunjukan, Lukman menunjuk satu anak laki-laki dari penonton, menyuruhnya masuk ke dalam kotak, memakunya, dan mengucapkan mantra “Abracadabra”.

Tak disangka, anak laki-laki itu menghilang dan Lukman tak tahu cara mengembalikannya.

Kejadian ini pun membuat Kepala Polisi (Butet Kartaredjasa) berusaha mengejar Lukman dan menuduhnya terlibat kasus penculikan anak. Kisah ini berubah menjadi aksi kejar-mengejar antara Lukman dan Kepala Polisi, yang ternyata juga merupakan mantan pesulap tapi gagal.

Alasannya menangkap Lukman tentunya juga karena ingin mendapatkan kotak itu untuk dirinya sendiri.

Seiring berjalannya waktu, Lukman pun akhirnya tahu bahwa kotak yang digunakan merupakan milik banyak penyihir besar di masa lalu. Hingga akhirnya sampai berada di tangan ayah Lukman yang juga seorang grandmaster.

Dalam film ini, diceritakan bahwa dulu, Bung Karno sempat mengirim banyak pesulap ke luar negeri untuk belajar, lalu untuk diutus pulang untuk menghibur.

Sampai pada akhirnya, Lukman pun berkelana, mencari orang hilang dimakan kotak yang bernama Igrasil tersebut. Perjalanan seorang pesulap dikejar polisi ini cukup menarik karena di dalamnya bertemu orang-orang ajaib.

Film ini memang dikemas dengan sinematografi yang wow. Pemandangan alam, bangunan, kostum yang berwarna-warni, hingga efek kamera yang teramat canggih, membuat kita terpukau.

Harimau Sumatera hampir punah yang juga dipakai, menimbulkan kesan bahwa film ini memang digarap dengan sangat serius.

Sayangnya, film ini tidak dibarengi dengan plot yang bagus. Padahal untuk sebuah film komersil, sinematografi yang bagus saja tidak cukup. Penonton juga butuh alur cerita yang ramah untuk disimak.

Sebab akibat yang dialami oleh tokoh-tokoh dalam film ini pun semakin menciptakan kebingungan yang menjadi-jadi. Peran tokoh, kecuali tokoh utama, juga sangatlah minim. Hal itu membuat cerita menggantung.

Seperti judulnya, film ini seolah ingin menyulap penonton Indonesia untuk hadir–tapi toh masih gagal. Di Surabaya, hanya Tunjungan XXI yang menayangkannya. Penonton yang datang pun sangat sedikit.

Tapi mengertilah kawan, saya tetap menganggap ini film bagus dari banyak segi. Meski plotnya berantakan, sangat sayang untuk tidak menonton produksi mewah Faozan Rizal ini.