Lampor Keranda Terbang adalah film horor yang paling cocok ditonton di malam Jumat. Bercerita tentang hantu masyarakat sekitar Pegunungan Sindoro dan Sumbing di Kabupaten Temanggung, Lampor memadukan berbagai unsur budaya dan drama dengan latar mencekam.

Pemandangan alam yang indah ditambah udara sejuk pegunungan dalam film tak lantas membuat nyaman. Daerah yang terkenal dengan perkebunan tembakau dalam latar film, nyatanya mempunyai kutukan menakutkan: Sesosok hantu bernama Lampor.

Lampor adalah hantu urban legend yang suka menculik orang pada malam hari. Banyak korbannya yang hilang, mati, bahkan sampai gila, sakit, atau trauma berkepanjangan. Lampor inilah yang menyebar ketakutan. Membuat banyak orang takut untuk keluar malam.

Selain itu, Lampor juga menakuti mereka yang gemar berbuat dosa. Mereka yang doyan hidup amoral, sudah bisa dipastikan akan diculik oleh Lampor.

Di film Lampor Keranda Terbang, Lampor tak digambarkan sebagai arwah penasaran atau korban kejahatan yang menuntut balas. Lampor di sini berupa hantu seperti Dementor di Harry Potter. Bermata sangat merah dan selalu membawa keranda mayat.

Film ini mengisahkan Netta (Adinia Wirasti), yang pulang ke Temanggung bersama suaminya, Edwin (Dion Wiyoko). Mereka terpaksa pulang karena terlilit masalah keuangan di Medan, tempat tinggalnya. Keduanya pulang dengan membawa kedua anaknya, Adam dan Sekar.

Selain karena kehabisan uang, kepulangan Netta juga ingin menyampaikan pesan almarhumah Ratna, ibundanya pada ayahnya, Jamal (Mathias Muchus).

Ratna dan Jamal memang bercerai setelah saudara Netta, anak kedua mereka tewas dibawa Lampor pada suatu malam. Jamal yang juga menimba ilmu hitam dari Pak Atmo, akhirnya dikutuk tak bisa punya anak lagi.

Jamal pun akhirnya menikah lagi dengan Asti (Nova Eliza). Pasangan ini jadi pengusaha tembakau sukses yang hidup mapan.

Saat Netta sekeluarga pulang, sang ayah pun kebetulan juga meninggal. Ini membuat seluruh penduduk kampung menuding kembalinya Netta adalah sumber bencana. Maklum, belakangan, Lampor kembali datang dan menggondol sejumlah warga setelah beberapa tahun hilang entah ke mana. Orang-orang menilai, Netta-lah yang dulu seharusnya dibawa Lampor, tapi ia berhasil menyelamatkan diri.

Di balik kekisruhan itu, belakangan Netta sadar bahwa ada yang tak beres dengan keluarganya. Ia mencium aroma skandal antara Asti dengan karyawannya sendiri, Bima. Netta juga was-was karena Sekar, putrinya, mengaku sering bertemu arwah Jamal.

Konflik akhirnya mencapai puncak saat Adam, putranya, hilang dibawa Lampor. Masalah itu ditambah lagi dengan perburuan warisan yang menyusul meninggalnya Jamal.

Alur cerita Lampor Keranda Terbang mengingatkan kita pada film sejenis seperti Kafir: Bersekutu dengan Setan atau Pengabdi Setan. Ketegangan dibangun bukan semata dari penampakan hantu, melainkan atmosfer dan motivasi para tokoh pendukungnya. Motivasi terselubung inilah yang kemudian memicu kecurigaan.

Kecurigaan yang dibiarkan menggenang ini, memantik efek tak tenang dan tak nyaman. Kita dibuat bertanya-tanya, apa sebenarnya yang terjadi pada keluarga sang tokoh utama. Inilah yang disajikan Lampor selama lebih dari 1, 5 jam.

Namun, sama seperti film horor pada umumnya, Lampor juga banyak memberi efek kejut yang bisa membuat jantung copot.

Yang unik dalam film ini adalah, sosok Lampor sendiri malah tak mengundang penasaran. Penampakannya di beberapa momen memang mengerikan. Tapi seiring waktu, penjelasan terkait siapa Lampor dan sejumlah versi tentang bagaimana ia beraksi, perlahan memupus rasa penasaran.

Tapi bukan berarti Lampor kehilangan pamornya. Sang sutradara menjelaskan, Lampor datang dengan sebuah alasan karena ada yang harus dibereskan dari tingkah-polah para manusia.

Untuk yang satu ini, Lampor perlu diapresiasi. Ia tak sekadar membawa pesan, tapi juga datang sebagai “penghukum” yang ditakuti. Di sisi lain, kita juga bisa melihat drama keluarga yang pelik. Tentang keinginan menjadi yang tertinggi, ketidakpuasan terhadap keadaan dan kehidupan, intrik di belakang, dan masih banyak lagi.

Soal akting, chemistry Dion dan Adinia sudah tak perlu diragukan lagi. Performa Annisa Hertami sebagai Nining juga mencuri perhatian. Adegan Nining menata kasur dan sprei di sebuah kamar sempit sambil menggunjing orang, terasa sangat natural.

Guntur Soeharjanto sebagai sutradara bisa dibilang menang banyak. Guntur bisa membawa cerita horor rakyat ke ranah yang lebih tinggi, yaitu layar lebar. Dikemas tidak murahan sebagaimana horor Indonesia lainnya, membuat film jadi layak tonton—dan mungkin lebih ngeri dibanding Pengabdi Setan.