Genangan di jalan raya-lah, yang membuat hari terasa kian sial. Bukan genangan air mata, bukan pula kenangan.

Surabaya adalah kota terbesar nomor dua di Indonesia. Tinggal di sini membuat kita harus terus bisa memacu diri untuk bisa meraih sukses. Tidak ada kata malas-malasan. Harus bisa produktif membuat sesuatu. Tidak ada alasan untuk tidak bekerja. Bahkan, saat hujan sekalipun.

Segala kenikmatan yang biasa dilakukan ketika mager pun harus dilawan. Kita harus menerabas hujan demi mendapatkan cuan. Entah pakai jas hujan maupun kluncum, jadi pilihan yang wajib dilakukan.

Tapi, menerabas hujan itu memang nggak enak. Perjuangannya ekstra kayak melawan penjajah. Ketika di jalan pun rasanya selalu banyak halang merintang. Apalagi kita, kaum menengah ke bawah yang tentunya lebih memilih naik motor daripada mobil. Cok!!!

Air hujan yang datang secara rintik-rintik maupun keroyokan kadang memang memberi ujian, seperti mengikuti kompetisi Benteng Takeshi. Jika kita sedang mengendarai motor, air yang datang dari depan rasanya sangat perih  kalau mengenai mata.

Tapi kalau kaca helm ditutup, kadang kita menjadi kesusahan untuk melihat ke depan. Belum lagi helm yang mamel itu kadang membuat rambut menjadi terasa sangat gatel. Diancok!!!

Terlepas dari itu semua, ada satu hal yang sangat nyebelin, yakni genangan air di jalanan Kota Surabaya. Dari jalan berlubang hingga bentuk aspal yang tidak rata, membuat Surabaya punya banyak PR untuk masalah satu ini.

Jalanan yang sudah tertutupi air membuat kita tidak tahu apakah jalan lagi berlubang atau tidak. Lalu, apa yang perlu dilakukan agar kita baik-baik saja saat berkendara di antara genangan?

Nggak Usah Sepatuan, Tel!

Ketika sedang berkendara, nggak perlulah pakai sepatu mahalmu. Akan sangat eman jika sepatumu jadi rusak atau mbladus gara-gara kena air hujan. Kalo terpaksa harus pakai sepatu, lebih baik sepatunya dimasukkan tas atau kresek gitu.

Nggak usah sok pake Nike Air Jordan, Adidas Samba, atau Puma Suedemi. Genangan air di jalan raya bisa menenggelamkan sol sepatu mahalmu. Lebih baik pake AP Boots atau sandal Swallow aja.

Jok Ngebut, Cok!

Yang paling nyebelin dari naik motor pas hujan adalah kecipratan. Apalagi kecipratannya itu satu tubuh kena semua. Ambyar boskuuu, outfit-e teles kabeh!

Cara untuk tidak kecipratan adalah tidak ngebut. Selain nggak kecipratan, hal ini juga membuat kita lebih waspada. Jalanan yang licin semestinya memang membuat kita berhati-hati dalam berkendara.

Jadi yang terpenting, jika tidak ingin diciprati orang, ya jangan menciprati orang dong njing. Ingat hukum karma. Jangan ngebut danchok!

Paido-en Pemrentah-mu, Ler!

Siapa yang patut disalahkan dengan adanya genangan air maupun banjir di jalanan Kota Surabaya? Tentunya adalah pemerintah!

Pembangunan yang berjalan terlalu cepat kudunya harus diimbangi dengan solusi-solusi untuk mengatasi banjir. Nggak asal-asalan ketika mengerjakan jalan.

Harus dilihat bagaimana semestinya menggarap jalan beraspal itu. Ditentukan aspal mana yang terbaik. Mbok yo sekali-kali Surabaya itu pakai aspal dari Kabupaten Buton biar kuat. Pendapatan daerah kan besar, mbok yo pakai aspalnya itu yang berkualitas sekalian biar gak tambal sulam terus.

Jadi, kalo kita sedang mendapati momen yang tidak mengenakkan ketika banjir, semestinya kita memaki-maki pemerintah. Selain bisa melepas stres karena mengeluarkan emosi, memaki pemerintah adalah bagian daripada memupuk jiwa kritis sejak dalam pikiran.

Ewangi Wong Seng Susah, Su!

Nah, ini yang bisa membuatmu dapat pahala besar, yaitu membantu orang ketika mendapati momen kesusahan gara-gara hujan. Jangan pernah egois di jalan raya, karena jika kita egois, yo bakakan kualat.

Membagikan titik-titik banjir di sosmed atau di saluran Suara Surabaya juga kadang sangat bermanfaat sebagai bahan informasi orang-orang. Atau juga membagikannya lewat DNK.id. Selain bisa membagikan cerita menarik, kalian juga bisa dapat duit. Hihihi~