Satu hal yang cukup menyenangkan dari prosesi Kebo Ketan IV di Ngawi kemarin adalah ketika saya bisa secara personal mengobrol dengan Mbah Kodok. Beliau adalah sosok yang banyak menyita perhatian beberapa tahun lalu setelah menikah dengan peri.

Bagus Kodok Ibnu Sukodok, 68 tahun, adalah seorang kakek yang sampai saat ini berprofesi sebagai seniman teater. Beliau juga merupakan sosok nyentrik yang pernah berkarya bersama Bengkel Teater milik Alm. WS Rendra.

Dalam berproses bersama Sang Burung Merak, Mbah Kodok turut bermain dalam beberapa pementasan, baik di dalam negeri maupun Jepang dan Amerika.

Sosok Mbah Kodok sekilas memang sangat mirip dengan Keith Richards. Hidupnya masih terkesan bohemian cum rock n’ roll. Hingga usianya yang sudah mencapai kepala enam, Mbah Kodok masih merokok tanpa putus dan doyan mabuk.

Menurutnya, beliau tidak sedang mengidap penyakit parah. Hanya tangan kanannya yang pernah terkilir saja yang membuatnya kaku hingga kesulitan menulis dan bermain gitar.

Selain itu, Mbah Kodok masih seger waras sampai sekarang. Berbeda dengan saya yang usianya masih setengah dari Mbah Kodok tapi sudah kena asam lambung.

Saya dan Mbah Kodok

Nama asli Mbah Kodok adalah Prawoto Mangun Baskoro. Meski begitu, beliau tidak segan untuk dipanggil dengan sebutan Mbah Kodok. Yang memberi nama tersebut adalah Sang Maestro, WS Rendra.

“Saya adalah salah satu seniman yang beruntung karena diberi nama baptis dari Mas Willy (sebutan Rendra), yaitu Kodok Ibnu Sukodok. Nama tersebut didapat karena memang dari dulu saya sangat suka menangkap kodok,” ujarnya.

Keunikan lain adalah, Mbah Kodok sudah menikah dengan peri yang bernama Danyang Setyowati. Pernikahan ini sempat ramai dalam beberapa tahun lalu lewat YouTube.

Pada masa mudanya, Mbah Kodok memang terkenal sangat nakal di daerah sekitaran rumahnya, Purwosari, Solo. Mbah Kodok muda terkenal sebagai pemuda mbeling karena doyan mabuk dan main pelacur.

Meski begitu, kesan itu juga membuat Mbah Kodok punya banyak teman di mana-mana, hingga saat dia mendalami kesenian.

Kehidupan Mbah Kodok pun berubah drastis setelah berkenalan dengan Bengkel Teater Rendra. Setelah bertahun-tahun berproses kreatif di sana, Mbah Kodok menjadi salah satu seniman yang disegani.

Ia tampil dalam beberapa lakon dari Rendra, salah satunya adalah “Oedipus Sang Raja.” Dalam lakon tersebut, Mbah Kodok berperan sebagai Juru Warta. Bersama Bengkel Teater, Mbah Kodok jadi merasakan beberapa kali ke luar negeri untuk memainkan lakon tersebut.

Di Bengkel Teater itulah, Mbah Kodok bertemu dengan Bramantyo Prijosusilo. Di masa mendatang, Bramantyo-lah yang berjasa menikahkan Mbah Kodok dengan Danyang Setyowati.

Saat itu, Mbah Kodok berjalan-jalan di Alas Ketonggo, Ngawi bersama Bramantyo dkk. Mbah Kodok tiba-tiba ingin buang air besar. Sebagai orang lama, Mbah Kodok pun memutuskan untuk berak di Kali Alas Ketonggo.

Sontak, perbuatan itu membuat marah peri di sana, yang dalam hal ini merupakan Danyang Roro Setyawati tersebut. Seiring berjalannya waktu, Mbah Kodok yang sudah lama membujang pun akhirnya memutuskan untuk menikahi Danyang Setyowati.

Prosesi pernikahan itu pun dibuat sangat megah dan meriah. Ribuan orang datang ke Kraton Ngiyom (tempat tinggal Bramantyo) untuk menyaksikan prosesi pernikahan ala Jawa tersebut.

Mereka yang penasaran menjadi terpanggil untuk bisa menyaksikan prosesi pernikahan antara manusia biasa dengan peri. Acara pernikahan yang dikemas secara happening art itu pun juga terkesan sakral dan mistis.

Ini adalah kejadian pertama dalam sejarah umat manusia, pernikahan manusia dengan peri yang disaksikan oleh ribuan orang. Prosesi tersebut juga diabadikan melalui foto dan video yang cukup banyak di sosial media.

Menurut Bramantyo, logika narasi yang dibangun membenarkan kesaksian paranormal yang melihat kehadiran para tokoh Dhanyang Nusantara di perkawinan itu. Kisah ini juga berbeda dengan kisah menikahi peri lain yang beredar luas.

“Kita bisa mengkritisi, narasi-narasi yang ada di kisah Jaka Tarub dan Nawang Wulan. Itu cenderung mengusung nilai-nilai yang korslet dengan kenyataan zaman kini.”

“Jaka Tarub misalnya, mengintip Nawang Wulan dan saudara-saudaranya saat mereka sedang mandi (suatu perbuatan yang dewasa ini digolongkan pelecehan seksual) lalu ia mencuri, memperdaya, mengeksploitasi Nawang Wulan sedemikian rupa untuk suatu materi: nasi dan status.”

“Sementara Ratu Kidul juga dikisahkan membantu Danang Sutawijaya dan raja-raja keturunannya dalam perang dan menjadi kelengkapan simbol kekuasaan yang jauh dari deskripsi seorang ratu yang welas asih dan berkuasa,” ujar Bram.

Kemerosotan nilai-nilai seperti inilah yang dilawan oleh kisah Kodok dan Setyowati. Mereka mengusung nilai-nilai sehat, sesuai dengan kenyataan alam dan zaman sekarang.

Ada persamaan hak, kesadaran gender, perjuangan mewujudkan kenyamanan budaya, dan kelestarian alam.

Karena itu, logika narasi yang dibangun Kodok dan Setyowati membuat para Dhanyang Nusantara sangat gembira dan bersuka cita dengan seni kejadian ini.

Para Dhanyang yang selama ini didiskreditkan, dipojokkan bahkan dilupakan dan dibantai, seakan mendapatkan pembelaan. Misi mereka yang sesungguhnya, yang telah menyeleweng keluar dari rel tujuan sejatinya, dikokohkan kembali pada jalurnya.

Dhanyang adalah bagian dari alat budaya kita untuk menjaga kelestarian alam dan kebudayaan itu.

Karena itu, saat pernikahan, Setyowati meminta dua hal. Pertama dikawinkan di alam manusia, dan kedua, untuk dibangunkan kratonnya yang rusak di sekitar Sendhang Pangiyoman dan Sendhang Margo Mustiko Warih.

Dua mata air ini berjarak hanya sekitar 500 meter namun berada di dua hutan di dua desa dan kecamatan yang berbeda.

Kraton Ngiyom yang berwujud hutan aneka dan mata air bening itu merupakan tempat tinggal Setyowati. Namun, sempat dirusak orang dalam penjarahan hutan yang meluas di tahun 1998. Sisa-sisanya tak pernah sepenuhnya berhasil diperbaiki.

Hanya sumber daya air dan lahan yang terus dieksploitasi nilai materinya, tanpa peduli kelestariannya, kebersihannya, apalagi keindahannya.

Air dari mata air Margo Mustiko Warih dan mata air Pangiyoman itu semula mengairi lebih seribu empat ratus hektar sawah. Namun, pengeringan dan konflik membuat kedua mata air tersebut kini hanya mampu mengairi beberapa lahan saja.

Setyowati pun minta dibangunkan rumah, yang artinya ia juga meminta untik mengatasi ruwetnya masalah yang dihadapi kedua mata air di hutan rusak Ndares dan Begal itu.

Permintaan yang diajukan Peri Setyowati kepada Mbah Kodok pun bukan permintaan yang mengada ada, melainkan merupakan permintaan yang sesuai dengan sains. Mbah Kodok, diutus untuk menyelamatkan alam.

Ketika saya berkunjung ke Sendang Ngiyom bersama Mbah Kodok, beliau lantas menengok keadaan pohon yang telah ditanamnya. Menanam pohon ini juga merupakan tugas dari Danyang Setyowati.

Saat berkunjung ke dalam Sendang tersebut, terdengar Mbah Kodok yang sedang berdoa menurut kepercayaannya.

“Doa di atas segala doa, doa yang menyapa Allah, segala Nabi, Nabi dari Segala Nabi dan orang suci, dhanyang dan roh-roh penjaga tanah dan air serta udara semuanya..”