Arini telah kembali! Sosok misterius yang membuat banyak lelaki kesepian jadi geregetan, telah kembali dalam Love for Sale 2. Film bergenre drama romantis INI tayang perdana di seluruh bioskop tanah air 31 Oktober, bertepatan dengan hari Halloween.

Sama seperti film pertamanya, film ini masih bercerita tentang aplikasi pencari jodoh yaitu Love Inc. Aplikasi untuk para manusia yang kesulitan mencari cinta ini menjadi inti dari cerita yang sebenarnya ada di sekitar kita.

Namun, berbeda dengan cerita di film pertama yang dibintangi Gading Marten, yang menjadi tokokh utama laki-laki dalam film seri kedua ini adalah Adipati Dolken. Benang merahnya dari Love for Sale yang pertama, tentu saja adalah Arini yang diperankan dengan sangat manis oleh Della Dartyan.

Di film pertama, kita dulu mengenal Richard, seorang bujang lapuk kesepian yang jarang keluar rumah karena sibuk mengelola usahanya. Kesepian itu terlihat semakin parah dengan penggambaran Richard yang dalam kesehariannya suka galer (baca: garuk peler) dan hanya berteman dengan seekor kura-kura.

Pada Love for Sale 2 ini, kita akan berkenalan dengan tokoh Ican yang diperankan Adipati Dolken. Keadaan Ican yang sudah dewasa dan belum menikah, membuat ibunya menjadi resah. Bahkan sang ibu terus berusaha menjodohkan Ican agar bisa segera menikah.

Sementara itu, Ican yang menganggap pernikahan belum merupakan prioritas, merasa terganggu. Mereka sering cekcok saat membahas pernikahan. Agar keadaan sedikit tenang dan tidak lagi dijodohkan, Ican pun menggunakan aplikasi jodoh Love Inc.

Tak lama kemudian, datanglah Si Jelita Arini (Della Dartyan). Ican pun memperkenalkan Arini sebagai mantan pacar saat kuliah kepada ibunya. Arini pun diperbolehkan menggunakan salah satu kontrakan yang Ros (Ibu Ican) miliki.

Kehadiran Arini ternyata membawa dampak baik. Hubungan keluarga Ican pun harmonis kembali. Sang ibu jatuh hati pada Arini. Ican juga dengan bangga memperkenalkan Arini pada teman-temannya sebagai calon istri.

Kini, Ican menjadi sosok periang dan selalu bahagia dengan Arini. Secara perlahan tapi pasti. Ican pun akhirnya jatuh cinta pada Arini.

Permasalahan tersebut memang sentimentil dialami oleh para pria maupun wanita ketika sudah menginjak usia dewasa. Ya gara-gara bacotan sosial, orang yang belum menikah mendapat predikat sangat buruk hingga mendekati hina.

Peliknya masalah nikah ini ditambah pula dengan isu budaya dan agama. Dalam cerita ini, digambarkan bahwa orang Minang yang baik adalah yang menikah dengan sesama Minang pula. Demikian juga muslim, semestinya menikah dengan sesama pemeluk agama Islam.

Padahal, permasalahan itu sudah tidak berlaku lagi bagi pasangan modern ini. Kita semestinya bisa bebas menentukan untuk bisa menikah dengan siapa, tidak peduli dengan asal usul, usia, latar belakang keluarga, pilihan politik dan sebagainya.

Ribetnya permasalahan tentang pernikahan ini digambarkan pada Love for Sale 2 sebagai suatu isu yang memang dipicu oleh satu hal: Keluarga.

Sang sutradara Andi Bachtiar Yusuf, masih menggandeng kompatriotnya, Irfan Ramli, untuk penggarapan naskah. Mereka berdua masih menyorot perjalanan Arini dalam menghadapi klien-klien dari aplikasi pencari cinta tersebut.

Bedanya, pada Love for Sale pertama, nama karakternya adalah Arini Kusuma, sementara Love for Sale 2, namanya berubah menjadi Arini Chaniago.

Ketika pertama kali dikabarkan akan hadir, film ini memang memunculkan sentimen tentang pergantian tokoh utama. Apakah Adipati Dolken mampu menandingi keajaiban Gading Marten yang tahun lalu memperoleh banyak penghargaan keaktoran?

Rupanya, akting Adipati bisa dibilang ciamik. Ia mampu menjadi gambaran sosok lelaki yang dirundung masalah karena terlalu sering dimarahi ibunya. Tokoh Ican yang Adipati perankan, tampil maksimal dengan gaya milenial urban sekarang ini, yang kental dengan karakter anak masih hidup dengan orang tua namun belum menikah.

Selain itu, film ini juga lebih kental unsur kekeluargaannya. Ini dibuktikan dengan adanya kutipan Tirmidzi tentang keluarga di pembuka film:

“Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik bagi keluarganya. Dan aku orang yang paling baik bagi keluargaku.”

Mengambil penayangan perdana bertepatan dengan Halloween barangkali memang disiasati secara jancukan oleh Visinema. Rumah produksi yang dipimpin oleh Angga Sasongko yang sampai saat ini belum memproduksi film horor tersebut sepertinya ingin menebarkan ketakutan pada mereka, para lelaki yang kesepian dalam menjalani hidup di dunia yang fana ini.