Mungkin, penulis paling menawan di Indonesia saat ini adalah Laksmi Pamuntjak. Tanpa merendahkan penulis perempuan lain di Indonesia yang semuanya juga menawan dengan ciri masing-masing, Laksmi berbeda. Dia seperti punya daya tarik sendiri bagi saya.

Penulis yang pada Hari Ibu nanti akan berusia 48 tahun ini bisa menampilkan cerita yang memikat lewat novel-novelnya. Terbukti dengan dua novel yang sudah saya baca, Amba dan Aruna dan Lidahnya.

Kemarin, saat kebetulan mampir di Ubud Writers and Cultural Festival (UWRF) 2019, akhirnya saya bisa menemuinya secara langsung. Ini bertepatan dengan peluncuran buku terbarunya yang berbahasa Inggris, berjudul Fall Baby.

Dalam buku ini, Laksmi menulis tentang kompleksitas seni rupa, agama, politik, sejarah, dan keluarga dalam kisah Srikandi. Novel ini rencananya akan hadir dalam bahasa Indonesia dengan judul Srikandi, pada tahun depan.

26 Oktober lalu di UWRF 2019, Penerbit Gramedia Pustaka Utama resmi mengumumkan rencana terbitnya novel terbaru Laksmi ini, yang saat ini masih dalam tahap penyuntingan.

Novel ini merupakan sekuel dari novel pertama Laksmi yang berjudul Amba. Pertama kali dirilis September 2012, Amba sudah memperoleh penghargaan sastra Jerman, yakni Liberaturpreis pada 2016 lalu.

Fall Baby Launching Party

Pada peluncuran buku Fall Baby, dengan suguhan anggur putih dan anggur merah dari Chateau Subercaseaux Sauvignon Blanc, Laksmi tampil menawan dengan gaun merah yang ia pakai. Bersama seorang moderator, ia bercerita panjang lebar tentang novel terbarunya ini.

Laksmi menyatakan, tokoh Srikandi merupakan sosok anak haram dari tokoh Amba dan Bhisma, yaitu dua protagonis dalam novel Amba. Selain bercerita tentang Srikandi (Siri), ada pula tokoh bernama Dara. Siri adalah seorang seniman kosmopolitan, sementara Dara, seorang aktivis politik.

Setelah bertahun-tahun mengembara di berbagai kota di dunia, mulai dari London, New York, sampai Madrid, Siri memutuskan hidup di Berlin untuk menghindar dari masa lalu keluarganya yang kelam.

Tak disangka, sebuah berita mengejutkan memaksanya pulang ke Jakarta. Di sana, ia harus menghadapi masalah bertumpuk. Tak hanya realita keluarganya yang pedih, tapi juga jalin-kelindan kompleks antara seni rupa, agama, politik, dan sejarah—terutama ketika salah satu pamerannya dihujat dan dilarang karena dianggap melanggar susila.

Dalam pergulatannya, Siri juga harus memaknai ulang hubungannya dengan ibunya, Amba, juga dengan mantan sahabatnya, Dara. Siri juga harus memperbaiki hubungan dengan anak tirinya, Amalia, dan juga mencari sejarah bapak kandung yang tak pernah ia ketahui.

Laksmi kemudian memperkaya cerita Srikandi dengan membubuhkan lapis demi lapis kisah untuk ditelusuri pembaca.

“Srikandi bukan saja kisah tentang Timur dan Barat, kebebasan dan sensor, seni rupa dan aktivisme, memori dan identitas. Namun juga tentang pertalian manusia yang terdalam, yaitu hubungan ibu dan anak, bapak dan anak, dan persaudaraan perempuan,” ujar Laksmi.

Novel ini pun diklaim merupakan penggambaran Mahabharata dalam bentuk realisme sosial dalam konteks kekinian. Wah, wah. Seperti apa wujudnya? Sabar, tahun depan sebentar lagi, kok!