Upacara Kebo Ketan telah berakhir sejak Sabtu (9/11) lalu. Tapi kenangan akan betapa serunya pagelaran itu tetap terasa hingga sekarang.

Kebo Ketan merupakan bagian dari Seni Kejadian Berdampak yang diprakarsai seniman Bramantyo Prijosusilo. Seniman jebolan Bengkel Teater itu mendirikan Kraton Ngiyom yang berfokus pada bidang seni kejadian berdampak.

Kraton Ngiyom atas inisiasi Bramantyo pun menggelar Upacara Kebo Ketan keempat pada 8 hingga 9 November lalu di Desa Sekaralas, Widodaren, Ngawi, Jawa Timur.

Kebo Ketan adalah tradisi ritual tahunan yang berhubungan dengan alam. Merangkul partisipasi dari semua pihak untuk diajak mengalami langsung berbagai hal.

Kebo Ketan sendiri bermula pada tahun 2014, saat pagelaran seni kejadian berjudul “Bagus Kodok Ibnu Sukodok Dhaup Peri Rara Setyowati” (yang lebih dikenal sebagai “Mbah Kodok Kawin Dengan Peri”).

Salah satu keistimewaan dalam Upacara Kebo Ketan tahun ini adalah munculnya satu jenis musik yang semula belum ada menjadi ada, yakni Keroncong Jathilan (Kronjal), Reog Mahesa Nempuh, dan perubahan pada Sang Kebo Ketan.

Jika tahun lalu tema Upacara Kebo Ketan adalah “Marilah Kita Mendo’a Indonesia Bahagia”, di tahun ini, tema yang diangkat masih diambil dari syair lagu Indonesia Raya, “Sadarlah Hatinya Sadarlah Budinya.”

Upacara tahun ini disutradarai oleh tim yang terdiri dari Bramantyo Prijosusilo, Godeliva D. Sari, Denny Dumbo, Farid Yudha, Giyono DhatNyenk, dan Gimbal Thoyib Bukhoeri.

Sebelumnya pada Jumat (8/11), diadakanlah bancakan kerabat Kraton Ngiyom membawa cokbakal yang dipersembahkan untuk para danyang setempat.

Dilanjut dengan menggotong Batu Jambangan dari Kebo Ketan ke Rumah Tua untuk tempat air guyangan. Tempat air ini difungsikan untuk menyiram Sang Kebo Ketan.

Pada Ba’da Asar, acara dilanjut dengan dengan pidato dari Bramantyo Prijosusiolo yang dilanjut dengan guyangan Kebo Ketan.

Prosesi ini diberi musik sakralisasi dari Bagus Mazupa dkk. Semua yang hadir pun diperkenankan untuk turut menyiram air mawar kepada Sang Kebo Ketan.

Dilanjut dengan penampilan Topeng Losari oleh Nani Savitri yang merupakan keturunan Sunan Gunung Jati trah kedelapan dan Pangeran Losari trah ketujuh.

Tari Topeng Losari ini terasa sangat khusyuk. Pada saat Nani menari pun, banyak penonton yang menangis.

Proses pun dilanjut dengan Tari Sakral Tarawangsa dari Komunitas Sunda Wiwitan di malam harinya. Tari ini bermakna penghormatan kepada Dewi Sri. Musiknya diiringi kecapi, rebab, dan karinding. Penonton yang ketiban sampur pun harus ikut menari.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pagelaran Ketoprak Puspa Budaya. Lakon yang dimainkan adalah “Pendadaran Jaka Samudra” yang disebut-sebut sebagai anak Mbah Kodok dan Peri Danyang Setyowati.

Setelah itu. sampailah pada puncak acara, Sabtu (9/11). Dimulai dari Reog Ponorogo dari Sanggar Singo Mudo Legowo yang memutari Desa Sekarlaras.

Sore harinya, ada penampilan musik dan gerak sakralisasi oleh Galih Naga Seno dkk. Dilanjut dengan seni tari dari Satoko Takaki dari Jepang dan juga Dirajo Maharajo dari Sriwijaya.

Selepas maghrib, suasana desa pun menjadi gelap. Desa Sekarlaras dihias dengan obor-obor yang diambil dari api abadi Bojonegoro.

Menjelang gelap itulah, dilaksanakan arak-arakan dari Rumah Tua Kraton Ngiyom menuju Lapangan Desa Sekarlaras. Arak-arakan ini terasa seperti karnaval yang sangat mistis.

Yang mengikutinya berpakaian Jawa kontemporer, sementara yang diarak adalah Sang Kebo Ketan, Mbah Kodok Rabi Peri, Danyang Setyowati, Sri Parwati dan Jaka Samudra, dan banyak lagi.

Arak-arakan ini dikawal oleh puluhan obor yang dibawa Pasukan Semut, regu Kendang Merah, Brigada Panji Parentah Kraton Yogjakarta, dan rombongan Sekar Pangawikan Yogjakarta, dan lain sebagainya.

Ketika rombongan sampai ke Lapangan Sekaralaras, prosesi selanjutnya adalah musik sakralisasi yang dipimpin oleh Rama Padma, Dirajo Maharajo. Juga ada Al Farabi Squad dengan iringan komposisi musik sakralisasi yang dibuat oleh Ron Reeves.

Suasana sangat mistis terjadi pada saat ini. Bau dupa yang bercampur kemenyan sangat tercium kental.

Acara pun dilanjut dengan penampilan band punk legendaris dari Indonesia, Marjinal. Band yang digawangi Mike dan Bobby ini tampil full band dengan menyanyikan lagu “Reng Marencong,” “Luka Kita,” “Negeri Ngeri,” “Hukum Rimba,” dan “Buruh Tani.” Para penonton berbusana punk sontak berpogo dan ber-moshing ria.

Setelah itu, Keroncong Jathilan (Kronjal) pun mengakuisisi panggung. Kronjal tampil bersama Bonita Adi, Anda Perdana, Mike Marjinal, dan Nova Ruth.

Mereka menyanyikan lagu “Cinta Pembodohan,” “Satu Hari Sebelum Esok,” “Ojo Getun,” “Gombale Mukiyo,” “Wolak-Walik Ing Jaman,” “Gegayuhan,” “Mahesa Dahana,” “Kuda Lumping,” “Celeng Degleng,” dan yang lainnya.

Pada saat rombongan pemusik yang diarahkan Denny Dumbo ini tampil, sontak Bantengan Akur Hakarya Budaya Batu, Jathilan Among Budaya Kleco, Jathilan Raung Budaya Ambarawa, Tari Kerakyatan Buta Seni Boyolali pun berjoget ria di tengah lapangan.

Sebuah pertunjukan yang cukup menarik. Musik diiringi banyak gerombolan yang berpakaian tradisional. Semuanya bergoyang bersama mengikuti alunan musik kontemporer.

Saat musik “Kuda Lumping” ciptaan Sawung Jabo mulai dimainkan misalnya, para penari jathilan bersama kuda-kuda lumpingnya pun sontak berlarian mengitari lapangan. Demikian juga buto-buto yang berpakaian menyeramkan juga turut berjoget.

Acara ditutup dengan pembakaran Sang Mahesa Nempuh, replika kerbau setinggi dua meter yang dibuat dari jerami. Pada prosesi ini api pun sontak menyembul sangat tinggi.

Seperti kepala saya sekarang yang juga melayang sangat tinggi. Mungkin terlalu khusyuk, hening, pengar, mabuk? Entahlah.