DNK

Pasca Turun Layar, Akankah Pesan Krusial Dalam 27 Steps of May Tetap Menggelora?

Pasca Turun Layar, Akankah Pesan Krusial Dalam 27 Steps of May Tetap Menggelora?

27 Step of May ini memang film ajaib. Film yang sudah tiga minggu lebih menghias layar bioskop setelah gala perdananya 27 April lalu ini masih terus mengendap dalam ingatan. Meskipun sudah turun layar, tapi kita tak boleh lupa bahwa film ini sempat bertahan lama.

Dengan genre drama yang penuh dengan penekanan psikologis, melihat film ini bisa bertahan tiga minggu di layar bioskop sungguh ajaib. Saya harap kamu semua yang sudah menontonnya nggak berhenti hanya pada layar bioskop, karena pesan krusial dalam film ini agaknya tetap relevan—sampai sekiranya ada perubahan pola pikir masyarakat yang bisa mendorong perubahan.

Film ini fokus pada May, perempuan yang mengidap penyakit Obsessive-Compulsive Disorder (OCD). Penyakit mental ini dideritanya pasca menjadi korban pemerkosaan massal sadis saat masih duduk di bangku SMP.

May tumbuh besar menjadi seseorang yang memiliki trauma besar,bahkan walau hanya sekadar untuk keluar rumah. Tokoh yang diperankan Raihaanun ini jadi sosok yang tertutup, senantiasa mengenakan pakaian yang sama dan tidak makan makanan beraneka rasa. Semua ini adalah ciri khas pengidap OCD.

Ayah May yang diperankan oleh Lukman Sardi, juga diceritakan menjadi seseorang yang terus menyalahkan diri sendiri dan kemudian menghukum dirinya dengan menjadi petinju amatir. Ayah May tak pernah ingin mendapat penghargaan dari profesinya, melainkan hanya untuk pelampiasan emosi semata.

Ini yang membuat Ayah May menjadi sosok orang yang penuh luka di wajah dan sekujur tubuhnya. Ketika tidak sedang bertinju pun, ia sering menyakiti dirinya dengan memukul samsak atau tembok rumahnya sendiri.

Sebagai penonton, kita seperti diajak naik rollercoaster. Naik-turun dengan perasaan tertentu. Emosi dibawa sedih selama beberapa menit, lalu diajak bahagia meski hanya beberapa detik.

Selama semenit, kamu bisa diajak menonton pertandingan tinju yang penuh kekerasan. Lalu beberapa menit kemudian, bisa diajak guyon dengan dialog lawak orang China dan dibuat takjub lewat pertunjukan sulap.

Film ini memang punya banyak adegan kekerasan. Dari pemerkosaan, tinju, sulap gagal, dan juga adegan menyakiti diri sendiri. Adegan kesakitan yang membuatmu terbawa perih selama beberapa saat. Kamu akan merem-merem sambil menahan rasa sakit seperti yang dirasakan aktornya.

Menyakitkan sekali memang. Dan perasaan ini terus terbawa bahkan saat saya sudah meninggalkan bangku bioskop. Bahkan sampai sekarang, saat filmnya pun sudah turun layar.

Pertanyaanya, apakah pertanyaan krusial dan kegelisahan dalam film ini hanya berhenti di titik penghiburan semata? Apakah kita bisa terus-terusan menoleransi kekerasan seksual dan pemerkosaan yang kian hari kian beringas menghias berita?

Akting Raihaanun dan Lukman Sardi di sini bisa jadi yang terbaik sepanjang perjalanan karier mereka. Sungguh dalam dan berkesan. Raihaanun bisa menunjukkan ekspresi datar, namun kita bisa tahu bahwa sosoknya sebenarnya sedang dalam bahaya.

Inilah yang membuat kita seharusnya menangkap pesan bahwasanya tekanan yang dihadapi korban pemerkosaan yang mungkin hanya terjadi sekejap mata, bisa dibawanya sampai seumur hidupnya. Inilah yang membuat 27 Steps of May tak boleh berhenti begitu saja. Meskipun sudah berhenti tayang di bioskop, tapi kita masih bisa terus menyebarkan pesannya.

Tak boleh ada yang menoleransi kekerasan seksual. Secuil apapun.

Kebangkitan tokoh dalam film ini juga layak diberi applaus. May bertemu pesulap yang diperankan Ario Bayu, selanjutnya menemukan dunia baru di antara kemonotonan hidupnya. May yang setiap hari hanya melakukan aktivitas yang sama: bangun tidur, menyetrika baju, sarapan, membuat boneka, olahraga, lalu tidur, menjadi bangkit dengan sendirinya.

Yang perlu dicatat, ada momen tertentu bagi para penyintas kekerasan seksual untuk bisa bangkit, dan kita bisa mulai menyumbang momen-momen itu. Dengan dukungan, pengertian, dan harapan bahwasanya perempuan tetap akan sama nilainya, meskipun sudah mengalami tindakan apapun itu, sejauh-jauhnya.

Karena sudah turun layar dan mungkin kamu pun sudah menontonnya, saya ingin bilang kalau film ini punya ending yang membahagiakan. Tapi sekali lagi, diskursus pembahasan soal film ini tak boleh berhenti hanya pada layar bioskop.

Harapannya, semua korban dan penyintas akan mengalami ending yang sama seperti 27 Steps of May. Karena itu, kita perlu terus membahasnya, mengupayakannya, sampai pertanyaan krusial dalam film ini tak lagi relevan.