DNK

Persela Menjadikan Lamongan Lebih dari Sekadar Kota Soto: Refleksi 52 Tahun Persela

Persela Menjadikan Lamongan Lebih dari Sekadar Kota Soto: Refleksi 52 Tahun Persela

Beberapa tahun lalu, calon Ketua PSSI yang juga founder Fandom.id, Sirajudin Hasbi, pernah bilang pada saya. Saat itu sedang digelar acara History of Persebaya di Jatim Expo Surabaya yang dihadiri ratusan Bonek.

“Euforia seperti ini hanya bisa dirasakan di kota besar yang memiliki sejarah panjang di sepakbola nasional,” ujarnya.

Saya pun jadi sedikit minder saat beliau bilang begitu. Bagaimana tidak, saya adalah pendukung klub sepakbola dari kabupaten kecil yang memang tak punya sejarah panjang di persepakbolaan nasional.

Ya, saya adalah pendukung Persela Lamongan, sebuah klub dari kabupaten kecil di sisi utara Jawa Timur yang enggan disebut medioker—namun lebih pas disebut semenjana saja. Prestasinya memang masih biasa-biasa saja, tapi kalau masalah eksistensi, Persela bisa diperhitungkan.

Pada 2019 ini, Persela Lamongan sudah 15 tahun berada di kasta tertinggi Liga Sepakbola Indonesia. Tanpa sedikitpun pernah absen dan tidak pernah degradasi. Sejak 2004 saat Persela promosi ke Divisi Utama Liga Indonesia, Laskar Joko Tingkir tak pernah tergelincir.

Persela Lamongan jadi satu-satunya tim dari kabupaten kecil yang bisa bertahan selama itu di kasta tertinggi Liga Indonesia. Di antara puluhan klub dari Indonesia yang pasang-surut, naik-turun, juara-degradasi; Persela terus ada—dengan kondisi seadanya, keuangan yang tidak seberapa, dan para pemain yang sebetulnya biasa saja.

Ini memang prestasi yang biasa saja, tapi untuk sekelas tim kabupaten, rasanya Persela patut diperhitungkan. Beberapa kali jadi klub yang sulit dikalahkan di kandangnya sendiri jadi bukti bahwa Persela bukanlah tim kacangan. Mitosnya: klub-klub besar selalu kesulitan kalau bertandang ke Gelora Surajaya Lamongan, markas Persela.

Banyaknya pemain yang mulai menapaki karirnya di Persela, juga membuktikan bahwa tim iniadalah tim pemandu bakat yang baik. Mulai dari Marcio Souza, Fabiano Beltrame, Gustavo Lopez, In Kyun Oh, Ivan Carlos, Wallace Costa, hingga Louis Arnaud, kesemuanya menunjukkan bahwa Persela sudah jadi jujukan pemain asing untuk bermain di Indonesia.

Pernah menjuarai dua kali kelas junior, juga membuktikan bahwa Lamongan sejatinya adalah kota sepakbola. Dari Taufik Kasrun, I Gede Sukadana, Hendro Siswanto, Samsul Arif Munif, Fandi Eko Utomo, Zulham Zamrun, Dendi Sulistiawan, Fahmi Al-Ayubbi, Ahmad Nurhardianto, sampai Hambali, semuanya menunjukkan eksistensi Persela sebagai pemandu bakat banyak pemain junior.

Yang paling diingat tentu saja Almarhum Choirul Huda, putra daerah dengan segala prestasi, yang hingga akhir hayatnya seolah ingin terus membuktikan bahwa Lamongan tak hanya sekadar Kota Soto .

***

Persela Lamongan sejatinya punya potensi untuk bisa berbicara lebih di persepakbolaan nasional. Jangan muluk-muluk berbicara juara dulu, setidaknya Persela harus membuktikan diri bisa jadi tim yang sehat secara finansial.

Selain itu, Persela harus terus mempertegas identitas warga Lamongan, sebagaimana yang ditulis dalam buku Miftakhul Fahamsyah.

Persela yang terus bisa masuk pada lima besar okupansi kedatangan penonton sepakbola di stadion, semestinya bisa jadi cara mengeruk massa. Ini semestinya tidak hanya diseriusi hanya dengan mendapatkan keuntungan lewat penjualan tiket pertandingan. Lebih dari itu, Persela semestinya bisa mendapat suara besar dari para kelompok suporternya yang militan.

Maka dari itu, Persela juga harus mampu menumbuhkan atmosfer yang baik dari para kelompok suporternya. Karena sekarang, seolah ada pertikaian yang tidak tampak dari beberapa kubu pendukung.

Daripada terus sibuk memperbincangkan rasan-rasan pertikaian, alangkah lebih bijak jika para Persela Fans adu kreativitas saja. Entah dari pengelolaan sosmed, koreo, chant baru yang jauh dari plagiasi, giant flag, dan sebagainya. Lebih baik, lebih bijak, dan lebih enak dilihat.

Kebanggaan akan Persela yang bisa menumbuhkan semangat identitas diri masyarakat Lamongan semestinya dirayakan dengan baik. Saya rasa, semua yang mencintai Persela dengan sungguh-sungguh siap berbenah dan memperbaiki diri.

18 April lalu, Persela sudah menginjak usia ke-52 tahun. Usia yang tak muda untuk klub sepakbola nasional. Semoga di tahun ini, semuanya bisa menjadi lebih baik lagi. Kalau nggak ya Persela bakalan ngona-ngono ae, nggak bisa memunculkan euforia seperti klub-klub besar lainnya.