Ratu Ilmu Hitam memang film yang njancuki sejak dari trailer. Di trailer yang dirilis di YouTube saja sudah bisa membuat kita tercengang. Apalagi di dalamnya, ada banyak bintang yang ditampilkan.

Mulai dari Hannah Al Rashid, Salvita Decorte, Imelda Therinne, Putri Ayudya, hingga Adhisty Zara. Nah, para penonton film ini tentunya penasaran, siapa sih yang akan menjadi Si Ratu Ilmu Hitam?

Sepertinya tebakan semua orang hampir semuanya salah. Saya nggak akan kasih tahu di sini. Lebih baik kamu nanti malam langsung menuju bioskop kesayangan untuk menonton filmnya.

Apalagi, nanti malam Jumat, jadi cocok banget bagi kalian untuk menjalani ibadah film horor.

Ratu Ilmu Hitam ini berkisah tentang tiga orang teman yang sejak kecil tinggal dalam panti asuhan. Mereka adalah Hanif (Ario Bayu), Anton (Tanta Ginting), dan Jefri (Miller Khan).

Setelah sekian lama meninggalkan panti asuhan, mereka memutuskan kembali setelah mengetahui pengasuh mereka sedang sakit keras.

Ketiganya datang dengan membawa pasangan masing-masing. Sedangkan Hanif yang sudah mempunyai tiga orang anak, datang bersama anak-anak kesayangannya. Hanif ingin mengenalkan pada anak-anaknya tempat dia dulu dibesarkan.

Awalnya sih, keluarga Hanif ingin ke Bali. Namun keadaan Pak Bandi, pengasuh panti yang tua dan sakit keras, jadi pertimbangan tersendiri untuk berkunjung.

Panti asuhan tersebut jauh dari kota dan tidak terdeteksi oleh Google Maps. Selain itu, tempat tersebut juga jauh dari pemukiman penduduk. Melihat keadaan Pak Bandi yang semakin parah, membuat mereka akhirnya menginap.

Mereka ingin memberi penghormatan “terakhir” pada pengasuh masa kecilnya. Namun, malam yang mereka sangka akan menyenangkan dan damai, ternyata penuh bencana dan tragedi!

Satu persatu dari mereka mengalami keganjilan yang mengerikan. Sebagian diteror oleh hal-hal yang paling mereka takuti. Sementara itu, anak-anak mulai melihat penampakan perempuan pincang.

Korban pun mulai berjatuhan. Apabila tidak hilang, maka akan mati. Ada sesosok yang sepertinya sangat benci dan dendam. Sosok tersebut menginginkan semua orang di situ mati.

Dahulu kala, panti asuhan ini memang mempunyai cerita yang cukup mengerikan. Salah satu perempuan pengasuh panti mengalami gangguan kejiwaan. Dia lantas dikurung dalam sebuah kamar.

Si perempuan pun berontak dan berusaha keluar dengan menggedor pintu menggunakan kepalanya. Tujuannya untuk keluar gagal dan justru ia membenturkan kepalanya sendiri hingga pecah!

Namun, ketiga lelaki itu ternyata adalah alasan mengapa ibu pengasuh panti bernasib tragis. Kisah semakin mencekam dengan temuan bahwa anak-anak panti asuhan semuanya mati.

Alih-alih pertemuan mereka ini menjadi bahagia karena nostalgia, malam itu mereka semua malah mengalami berbagai kejadian aneh dan teror.

Sebagaimana film-film dengan cerita ciamik, kita memang langsung disodorkan banyak sekali karakter dan bisa jadi terkecoh tentang siapa pemeran utama dan siapa orang jahatnya.

Sang penulis naskah, Joko Anwar, memang suka bermain-main dengan hal-hal semacam ini.

Di saat teror sudah dimulai, sang sutradara Kimo Stamboel menyiapkan parade horor bengis dengan special effect canggih. Sajian visual macam ini bisa bikin kamu ngilu atau bersembunyi di balik telapak tangan.

Tak cuma darah, horor itu melibatkan kelabang, telur busuk, dan sekumpulan lubang dengan pola janggal yang muncul di kulit. Sontak ini membuat kita geli sampai ke ndok-ndokan! Cyuk abis!

Sutradara yang juga menyutradarai film dengan genre serupa yaitu Dreadout, Killers, dan Rumah Dara ini sepertinya memang doyan memberikan kepedihan pada penontonnya.

Yang paling kejam tentu pas adegan orang yang memotong dagingnya sendiri akibat hipnotis dari Si Ratu Ilmu Hitam. Nguweri pokoke cuuuur!

Lepas dari itu semua, yang menjadi sorotan dalam film ini tentunya adalah kolaborasi antara Kimo Stamboel dan Joko Anwar. Kimo yang terkenal ajaib dalam sisi penyutradaraan, ditambah Joko yang memang sungguh jancukan dari segi penceritaan. Kurang apalagi coba untuk bikin horor jempolan.

Seperti Perempuan Tanah Jahanam yang berhasil menghadirkan karakter-karakter perempuan tangguh, Joko masih memosisikan karakter-karakter perempuan dalam naskah Ratu Ilmu Hitam sebagai sumbu utama.

Jawaban itu tak buru-buru disajikan naskah Joko. Ia justru menjadikan perjalanan menemukan siapa sebenarnya Ratu Ilmu Hitam sebagai teka-teki yang menarik untuk diikuti.

Di ujung naskahnya, Joko juga punya putaran plot yang membalikkan titel “penyelamat” salah satu karakter laki-laki di sini, menjadi penyandang antagonis.

Dalam putaran naskah yang sama, ia juga berhasil menampilkan ketimpangan relasi kuasa yang dimiliki Bandi dengan semua anak perempuan panti asuhan.

Naskah Joko bukan cuma menempatkan Ratu Ilmu Hitam sebagai sumber teror, tapi juga berusaha berlaku adil untuk menguliti kungkungan patriarki pada perempuan dan hal-hal yang berbau feminitas.

Di titik tertentu, Ratu Ilmu Hitam juga berhasil menjabarkan bahwa yang dimusuhi oleh patriarki bukanlah laki-laki, melainkan ketakutan tak beralasan pada feminitas dan perempuan.

Film yang merupakan remake dari film-film horror milik Suzzana ini memang perlu untuk ditonton bagi mereka yang punya nyali lebih. Bukan untuk mereka yang latah, apalagi berjantung lemah!

Siap-siap saja!