DNK

Anarko Sindikalis: Noktah Hitam yang Menolak Padam

Anarko Sindikalis: Noktah Hitam yang Menolak Padam

Aksi Buruh 2019 menjadi buah bibir. Pada puncak peringatan May Day itu, terjadi sejumlah insiden. Namun, yang paling mencuri perhatian adalah adanya massa aksi berbaju serba hitam melakukan aksi-aksi anarkis, kemudian polisi membalasnya. Puluhan orang ditangkap setelah terjadi bentrokan dan kejar-kejaran. Sebagian besar masih berstatus pelajar/mahasiswa, dan sebagian lainnya memang buruh dan pekerja lepas.

Ending-nya adalah dua orang dari kelompok tersebut menjalani proses hukum lebih lanjut dengan tuduhan perbuatan merusak fasilitas umum sehingga menimbulkan kerugian material. Sampai di sini belum ada yang aneh memang. Selain polisi nampak betul-betul menerapkan SOP untuk penanganan gangguan ketertiban di perempatan jalan.

Namun, penanganan seperti digunduli, kemudian dihukum dengan telanjang dada, membuat mereka tak lebih dari sekedar gerombolan anak punk tak jelas yang biasa di perempatan jalan. Padahal, sejatinya, mereka lebih dari itu.

Hellooo, Pak Polisi.. Mereka demonstran lho pak, mereka lebih terhormat dari anak punk yang mabuk-mabukan di pinggir jalan, mengapa kalian gunduli rambut mereka? Apa Bapak tidak menyesal nanti kalo mereka malah bangga dan memamerkan potongan rambut terbaru mereka di Instagram?

Masalah belum berakhir. Polisi terlihat makin baper setelah gerombolan massa berbaju hitam yang dianggap “mendompleng” May Day itu mencoretkan jargon anti polisi di tembok-tembok dekat area di mana aksi diselenggarakan. Di mana-mana memang anak punk benci pada polisi, namun apakah memang mereka benar-benar sudah terpapar doktrin ideologi asing yang daya rusaknya sedemikian tinggi? Nanti dulu, perlu riset yang cermat bagi kita agar bisa menyimpulkan demikian.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian langsung membuat pernyataan terbuka. Mereka menyebut bahwa gerombolan massa berbaju hitam itu adalah jejaring kelompok Anarko Sindikalis di Indonesia. Dia mengidentifikasinya dengan kelompok kecil tak signifikan, gemar memakai pakaian serba hitam, dan suka sekali mencoret-coret tembok dengan kalimat-kalimat provokatif semacam: PLS BNGST, GNTNG SLTN, TLK KRPRS, dan menandai hasil karya mereka dengan simbol huruf A dalam lingkaran itu.

Tanpa melakukan kajian mendalam mengenai apa itu kelompok Anarko Sindikalis, Kepala Staf Kepresidenan secara khusus telah meminta kepada Polri untuk mengumpulkan semua info terkait Anarko Sindikalis di Indonesia. Sesuatu yang membuat kelompok Anarko Sindikalis nyaris terlihat sama berbahayanya dengan kelompok teror seperti Jamaah Islamiyyah.

Tapi, apa sih sebenarnya kelompok ini? Anarko Sindikalisme sendiri sebagai sebuah paham memang merupakan barang baru di Nusantara ini, tapi tidak butuh waktu lama untuk bisa diterima, apalagi oleh para pemuda yang sedang getol-getolnya mempelajari ideologi perlawanan.

Dari beberapa orang yang mempelajari filosofi, teori, dan praktis Anarko Sindikalisme itu kemudian munculah kolektif-kolektif di beberapa kota besar di Indonesia, kolektif-kolektif yang cukup berhasil mengusung identitas mereka sebagai praktisi Anarko Sindikalisme lewat ciri khas gerakan mereka, yaitu; solidaritas, direct action, dan yang paling terlihat adalah semangat anti otoritarian.

Kebanyakan kolektif Anarko Sindikalis sangat berkomitmen dengan pilihan ideologi mereka, bergerak tanpa hirarki atau komando seiring dengan filosofi Do It Yourself tercermin dengan jelas ketika salah satu kolektif tersebut membutuhkan dana untuk memenuhi logistik kolektif, alih alih menyebarkan proposal minta donasi, mereka justru menggelar lapak, di acara-acara seni, atau pagelaran musik untuk menjual benda kerajinan buatan mereka sendiri.

Sungguh suatu revolusi mental yang sesungguhnya bukan? Makan sayur hasil kebun sendiri, pakai pakaian jahitan sendiri, minum minuman fermentasi bikinan sendiri... Ups...

Ya itulah, walau masih jauh dari masyarakat tanpa kelas yang dicita-citakan, mereka secara sadar telah memilih untuk berjarak dengan masyarakat yang cenderung kapitalistik ini.

Memang kisah ini belum akan segera selesai dalam waktu dekat ini. Bukan kaleng-kaleng pulak kelompok satu ini, dari sekumpulan anak muda yang samar-samar terdengar melakukan pembelaan untuk para petani yang mempertahankan lahan dan ruang penopang kehidupannya, berlawan dengan korporasi dan atau negara, di lokal-lokal yang jauh dari panggung utama wacana politik nasional, kini tiba tiba menghenyak, menyeruak, tampil sangar di berbagai media arus utama, secara anonim namun gagah mereka mengeluarkan sebuah pernyataan yang menggetarkan sanubari kawan maupun lawan; “Kami ingin masyarakat tanpa kelas!”

Akhir kisah ini masih akan sangat panjang. Apakah gerakan Anarko Sindikalis di sini memang bakal dilibas habis, karena berpotensi menyabot demokrasi, menjadi ancaman keamanan dan mengganggu stabilitas politik? Kalau hal kedua yang terjadi, maka yang perlu kita ingat adalah: bagaimana juga, walaupun mereka mengingkari keberadaan pemerintahan negeri ini, mereka masih tetap anak bangsa yang perlu kita ayomi, kita hargai pendapatnya, dan kita perhatian keluh kesahnya.

Kekerasan akan berbalas kekerasan pula, eskalasi kekerasan yang ditujukan pada kelompok Anarko berpotensi besar membuat mereka semakin militan, bertambah agresif, dan menjadi lebih nekat menjalankan aksi-aksi mereka, lebih nekat daripada SJW liberal yang berkampanye di media sosial.

Semoga apa yang terjadi nanti adalah hal baik semata, bukan bad ending bagi kehidupaan berdemokrasi dan bernegara. Bukannya Anarko Sindikalis tidak ada salahnya juga, ada sejumlah kritikan tertuju pada mereka, tidak perlu kita bahas di sini karena  selain kuota kata di sini terbatas, juga karena di sini bukan forumnya, apakah para anggota kolektif Anarko Sindikalis membaca DNK? Bisa jadi, tapi nanti DNK jadi tambah serius dan tidak koplak lagi.