Tak ada yang menyuruh seorang pegawai pabrik rendahan bernama Sulaiman untuk mengunjungi rumah masa kecilnya siang itu. Ia membolos kerja, menemui ibunya, dan makan siang di rumah sederhana itu.

“Lapo le awakmu atek mbolos, merene pas prei lak isok,” tanya ibunya.

“Lah piye maneh, kangen Mak. Tapi sebenere aku pengen nang taman seng sering awakdewe kunjungi pas cilik, Mak,” ujar Sulaiman.

“Lah?”

“Aku ngimpi, Mak. Ngimpi kejadian pas aku cilik mbiyen. Pas Bimo perosotan sampek ndase njungkel terus moro deke nggak onok. Jek eleng kan?” ujar Sulaiman.

Ibunya pun terkejut lantas mengingat ulang peristiwa itu. Sulaiman kecil sering diajak ibunya ke taman dekat rumahnya sepulang sekolah. Seperti biasanya, mereka ke sana di hari itu.

Di taman, sudah ada Bimo, teman Sulaiman yang juga ditemani ibunya. Sulaiman pun bermain jungkat-jungkit, sementara Bimo naik turun bermain perosotan yang padat, tinggi, dan terbuat dari semen itu. Tapi tiba-tiba saja Bimo terjungkal, kepalanya terguling menghempas sisi keras perosotan. Naas, nyawanya tak tertolong.

“Winginane iku ancen onok pengajian gawe Bimo, le. Mengenang 20 tahun kepergian Bimo. Emak lek iling yo kudu nangis, Bimo mbiyen iku lucu,” ujar Ibunya.

Setelah makan, Sulaiman langsung mampir ke taman itu. Taman itu tidak berubah. Ornamen dan pernak-pernik mainannya tetap sama. Hanya saja semenjak Bimo tewas, taman itu jadi sepi. Pemerintah tak pernah merobohkan atau merenovasinya, dibiarkan begitu saja sampai-sampai air dalam kolam ikan jadi lumutan.

Belakangan Bimo tahu bahwa taman itu sering dipakai orang mesum.

“Loalah jancok onok kondom sisan nang kene! Bajing!” ujar Sulaiman.

Saat ini dirinya sendirian di taman, dan duduk di jungkat-jungkit yang tepat berada di belakang perosotan. Ia bisa melihat dengan jelas waktu Bimo jatuh, terguling, berdarah. Sejak saat itu, Sulaiman tak pernah bermain di perosotan. Nyalinya ciut seketika.

Tapi entah atas dorongan apa, Sulaiman ingin mencoba perosotan keramat itu. Dirinya memberanikan diri naik, lantas duduk di atas perosotan. Keringat dingin menetes di dahinya.

“Ancuk, ngeri,” batinnya.

Saat ketakutan itulah Sulaiman merasa ada yang mendorong kepalanya, keras namun rasanya halus, membuat dirinya terjengkang, kemudian jatuh terguling sampai bawah perosotan. Saat itulah dia melihat sekilas wajah Bimo yang berdarah, seperti ingin mengungkapkan sesuatu.

Sambil menahan pusing di kepala, Sulaiman mencoba bangkit. Saat kesakitan itulah ia merasa ingatannya pulih. Benar-benar pulih. Selama ini mungkin hanya tertutupi rasa takut. Ialah saksi mata kejadian itu.

Sambil membersihkan badan, Sulaiman kembali ke rumah, menemui ibunya.

“Buk, buk! Aku eleng, buk! Eleng sesuatu seng tak pendem suwe. Ibuke Bimo sek tinggal nang kampung iki ta?” tanya Sulaiman.

“Leh, onok opo? Yo ora, wong iku ibuk tiri. Langsung minggat nggak suwe sakmarine Bimo nggak onok,” jawab ibunya.

Sulaiman langsung terduduk ngilu. Bayangan saat ibunda Bimo mendorong keras kepala Bimo sampai akhirnya jatuh dan terpental membuatnya pusing. Ia ingat saat itu raut muka Bimo seolah berkata sesuatu, dengan lirih, lirih sekali.

“Kon duduk ibukku! Ibukku seng asli mbok pateni!”

Saat itu hanya Sulaiman yang mendengarnya. Ibundanya sedang memberi makan ikan di kolam. Dan itu jadi kalimat terakhir yang diucapkan Bimo, sebelum celaka.

Dan Bimo saat ini mungkin terus merosot, jatuh berkali-kali, berdarah, bangkit lagi, di perosotan naas itu sampai segalanya terungkap!