“Renang, mantap nih!” ujar Wisnu pada Astri, perempuan yang saat ini kebetulan sedang cemberut.

“Emang ada kolam renang?” tanya Astri dengan air muka yang langsung sumringah.

Hari ini, Wisnu dan Astri, ditemani Rizal dan Cynthia, sedang berlibur ke salah satu villa di salah satu dataran tinggi di lereng Gunung Penanggungan. Sebenarnya ini adalah modus saja: Rizal dan Cynthia sudah berpacaran, sementara Wisnu dan Astri masih single.

Yang menguntungkan lagi: Rizal dan Wisnu, serta Cynthia dan Astri masing-masing adalah sahabat. Hal lain yang juga menguntungkan: Wisnu sudah lama tertarik pada Astri. Maka dari itu, liburan kali ini punya misi bagi Rizal, Cynthia, dan Wisnu, untuk membuat Astri jatuh ke pangkuan Wisnu.

Masalahnya, Astri bukanlah tipikal perempuan yang mudah akrab. Kecantikannya memang tiada tara, lembut senyumnya memang menggoda. Maka dari itu, agak susah bagi Wisnu untuk bisa menerobos hati Astri. Karena itulah dibutuhkan peran Cynthia. Dalam cerita ini, peran Rizal agak sedikit dipinggirkan Cynthia karena dia takut, Rizal nantinya juga suka pada Astri.

“Udah dong jangan cemberut! Renang aja gimana?” tanya Wisnu. Saat itu, Astri memang sedang suntuk. Baru sampai di villa untuk liburan, ia langsung mendapat telepon dari dosen pembimbingnya, bahwa seminar proposal diundur dua minggu lagi.

Akhirnya, Astri menuruti ajakan Wisnu. Keduanya lantas berganti pakaian, saling cebar-cebur. Wisnu yang dulunya merasa Astri amat misterius, sekarang mulai berpikir bahwa hati Astri sudah berhasil diterobosnya. Ia mencoba trik peluluh hati perempuan yang biasanya dipakai saat mengajak gebetan berenang: mengecipak-cipakkan, mencipratkan air dengan tujuan menggoda.

Kalau si perempuan membalas, berarti mulai terjalin chemistry. Sayangnya, Astri malah terbatuk-batuk, tertelan air yang dicipratkan Wisnu, bahkan mungkin sampai masuk hidung. Wajahnya langsung memerah.

Itu mungkin tampak sepele. Wisnu bisa saja santai. Tapi tidak bisa karena setelah itu Astri meronta, mendelik, dan menggigit bibirnya sendiri seperti marah. Lantas ia seolah mengobrak-abrik air dalam kolam, membuat Wisnu ketakutan dan berlari ke dalam villa.

“Eh, rek, cuk! Astri ngamuk, rek! He, piye!” teriak Wisnu pada Rizal dan Cynthia yang sedang berpangkuan dan bercumbu di depan kolam ikan. Mereka belum telanjang, hanya masih saling mencoba menerobos membuka baju masing-masing.

“Jancok, ngganggu ae! Ngamuk yaopo?” ujar Rizal.

Ketiganya langsung melihat ke kolam renang. Kosong! Sementara hari makin gelap, matahari meluncur entah ke mana, ditambah mendung yang agak menggelayut.

“Lho, nang endi? Nang endi Astri!” teriak Cynthia.

Lalu kemudian Rizal, meronta-ronta sendiri.

“Jancok, kok ambu getih, lho lho, kolame kok abang!” teriaknya bebarengan dengan burung-burung yang hanya muncul saat maghrib.

Rizal dan Cynthia pun kebingungan. Lalu tiba-tiba dari arah perosotan, muncul Astri dengan pakaian minim, langsung naik ke atas perosotan dan kemudian meloncat, membentur ubin tepi kolam, dan darah memancar di mana-mana.

“Lho, Tri, Tri!” teriak Cyntia.

Rizal yang melihat warna darah menepi, lalu berteriak dan muntah.

“Huweeek, anyir!”

Sementara Wisnu dan Cyntia tak mencium bau apa-apa, tak melihat darah apa-apa.

Mendengar kegaduhan itu, dari arah pagar, Pak Jamil, penjaga villa itu, langsung memegangi ketiga orang tadi dan menolong Astri.

“Astaghfirullah, ini, mbaknya kerasukan Dek Angel,” ujar Pak Jamil.

“Angel siapa, Pak? Karamoy? Lelga?” tanya Wisnu.

“Bukan, dia dulu anaknya pemilik rumah ini. Masih lima tahun, Mas. Tapi keburu meninggal, terbentur pas perosotan,” ujar Pak Jamil lantas mulai melanjutkan kisahnya. Sebenarnya cerita ini terlalu terburu-buru. Tapi apa mau dikata, Pak Jamil datang dan memperjelas semuanya.

Dahulu, di akhir tahun 1997 saat villa ini baru dibangun oleh konglomerat kaya, suasananya begitu bahagia. Cuman, karena si orangtua selalu sibuk mengurus bisnis, si anak akhirnya terbengkalai. Singkat kata, si anak bernama Angel yang masih berusia lima tahun itu berdiri di atas perosotan demi menarik perhatian orang tuanya.

“Bentar, Papa lagi nelepon,” ujar Si Bapak di tepi kolam renang.

Saat itulah, si anak langsung melompat demi menarik perhatian papanya. Kisah ini memang agak aneh, tapi percayalah, begitulah adanya.

Situasi mereda saat jelang malam. Jidat Astri yang bocor terbentur sudah ditambal plester Pak Jamil. Wisnu pun sedikit menghindari Astri. Sementara Rizal dan Cynthia juga tak tahu harus berbuat apa.

“Nu, Wisnu. Ojok diciprati banyu maneh, yo. Aku asline wedi banyu,” ujar Astri.

“Ehm, Tri. Lah kok kamu mau diajak Wisnu berenang?” tanya Cynthia sepolos mungkin.

“Aku mulai suka sama Wisnu, Cyin,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu, Wisnu tak tahu harus bahagia atau gundah. Sementara Rizal yang sedari tadi diam, langsung bertanya pada Pak Jamil.

“Lah tadi kolamnya kayak jadi kolam darah, sama bau anyir itu apa, Pak?”

Pak Jamil menjawab dengan santai.

“Lah piye wong Magrib, Mas. Iku mek bayangan langit tok. Lek perkoro anyir iku kulo mari mbeleh pithik, lah jare sampean kabeh iki pengen makan malam sate ayam,” ujarnya.

Rizal dan semuanya yang berada dalam ruangan itu saling berpandangan.

Hari yang aneh, cerita yang aneh. Namun, apa mau dikata, beginilah adanya.