Diambil dari kisah nyata dengan penyuntingan seperlunya.

Guyonan orang-orang kantor memang keterlaluan. Para pekerja shift malam seperti aku dijuluki kalong. Sebenarnya itu tidak lucu sama sekali. Malah membuatku bingung: Kalong kan nggak tidur semalaman, lah tapi aku kan sepulang kerja tidur?

Aku memang baru dua bulan bekerja di kantor tua ini. Ya memang, life is boring, pekerjaan robot macam begini jelas bikin pening. Apalagi shift masukku pukul tiga sore, sampai delapan jam kemudian baru pukul sebelas malam. Julukan kalong pun diberikan rekan kerja bagi kami yang kebetulan sial bekerja di shift terakhir.

Tapi rupanya bukan begitu maksud rekan kerjaku. Kalong lebih dari guyonan, dan mungkin adalah sebentuk kutukan.

“Nggak bakal isok turu kon lek moleh bengi terus, koyok kalong, kelam-kelom!” ujar Mbak Ananda, rekan kerja yang paling dekat denganku.

“Lah, lalapo, Mbak?” tanyaku.

“Keweden. Pasti bakal onok momen awakmu diketoki sesuatu, Dik. Dan siap-siap ae yo,” ujar Mbak Ananda sambil tertawa.

Sebagai perempuan, aku selalu was-was tatkala pulang kerja malam. Tapi demi sesuap nasi, mau tak mau aku harus melakukannya.

Apesnya, kejadian tak terduga saat aku pulang di Kamis malam itu benar-benar membuatku seperti kalong, tak bisa tidur semalaman dan akhirnya memutuskan resign.

“Mbak Mita, aku izin nggak masuk, ya. Aku udah izin SPV. Badanku demam berat, Mbak. Tolong handle kerjaanku malam ini aja, Mbak,” begitu bunyi pesan singkat dari Nurul, rekan sedivisiku. Saat malam, memang hanya aku dan Nurul yang biasanya bertugas—bersama satpam yang berjaga di depan. Saat inilah, praktis aku sendirian dalam ruangan.

Aku tak berpikiran aneh-aneh. Pekerjaanku tuntas, dan segera kusambi mengerjakan tugas si Nurul. Memang merepotkan saja anak satu itu, membuat aku harus pulang lebih malam.

Akhirnya aku pulang pukul dua belas tepat. Keluar kantor sendirian dini hari begini baru pertama kali bagiku. Aku kepikiran soal apa yang pernah dibilang Mbak Ananda, tapi tak kugubris.

Saat menuju parkiran yang terletak agak jauh di belakang kantor, suasana singup langsung terasa. Hanya ada motorku satu-satunya. Pak Hariman, si satpam pasti sedang keluar membeli makan. Benar-benar sembrono si satpam satu ini.

Saat akan mengambil motor, aku melihat sekeliling. Pohon cemara tua tepat di sebalah parkiran berderit. Hanya angin pikirku. Aku pun menaiki motor. Helm kutaruh di spion sebelah kiri, seperti biasa. Saat kuambil itulah, aku melihat di kaca spion sesosok perempuan bermuka gelap dengan sorot mata yang keruh. Bajunya putih, rambutnya jigrak tak karuan.

“Ya Allah!” ujarku lantas kehilangan keseimbangan, menjatuhkan helm dan jatuh tertimpa motor. Untung aku memakai Astrea Prima yang enteng.

Aku lantas bangkit, berlari menuju pos satpam, sehingga Hariman sialan yang sedang enak-enaknya melahap nasi goreng bungkus, ikut terkaget. Ia yang akhirnya mengambilkan motorku. Sampai saat ini aku tak pernah berani menuju parkiran sendirian di malam hari.

“Bener-bener koyok kalong, aku tak resign, Mbak,” ujarku pada Mbak Ananda, yang jabatannya memang HRD, esok harinya.

Mbak Nanda mendelik, merasa ucapannya beberapa waktu lalu sudah menjadi bumerang. Saat Mbak Nanda mencoba negoisasi, dalam kepalaku yang muncul hanyalah bayangan hitam, dengan mata yang seolah menubruk mataku, mencegahku tidur sampai berhari-hari kemudian.