Terinspirasi dari kisah nyata salah satu mahasiswa universitas negeri di Surabaya yang dialami 2013 lalu.

Mata Andika terbenam pada tumpukan kertas dan buku-buku setebal kepal tangan Mike Tyson. Rasa ngantuk menghambat jalan oksigen menuju otaknya. Dia sadar dia butuh kopi. Maka ditinggalkanlah arek-arek sak kelompok yang sedang berdiskusi untuk tugas dosen killer esok hari, di pelataran kampus.

“Mbungkus kopi sek yo aku, nang warung ngarep. Onok seng titip?”

Tak ada yang menoleh pada Andika. Rasa frustasi pada tugas membuat mereka semua buntu. Mengerjakan tugas sampai dini hari pekat begini sudah jadi keseharian.

Andika tak peduli. Dia menuju parkiran, memacu motornya. Satu-satunya jalan cepat adalah melewati sebuah jalan sepi nan gelap pinggiran kampus. Jalan ini jarang dilewati mahasiswa kalau malam, mereka lebih memilih memutar jauh lewat jalan raya.

Konon kabarnya―kau tentu sudah tahu kelanjutannya―ada sesosok kunti atau perempuan atau siluman atau entah apa. Semua takut kecuali Andika. Semua pengecut kecuali Andika.

“Nggak onok setan-setan iku!” batin Andika.

Sambil menyelipkan batang Surya ke mulutnya, Andika berjalan di jalan sepi itu dengan kecepatan yang sama dengan orang kesetanan: secepat mungkin, sengawur mungkin. Lantas tiba-tiba…

GRADAK!

Tak ada batu, tak ada onak berduri. Hanya motor ceper Andika dan gelap malam. Tapi Andika merasa bannya membentur sesuatu.

“Jiamput onok ae, asuuu!l”

Ban belakang Andika bocor. Dengan merutuk, Andika mendorongnya, mencari tambal ban terdekat. Saat itulah keanehan terjadi, motor ceper Andika yang seringan mobil di game Asphalt, jadi begitu berat.

“Jancok abote, opo ta gara-gara bocor!” ujarnya.

Tapi, Andika sudah puluhan tahun mengendarai kendaraan itu. Tak pernah ia merasakan motornya jadi seberat ini.

“Jancok rasane koyok nyurung gajah!” umpatnya dalam hati.

Tiba-tiba, motor tersebut berhenti total. Tak bisa didorong! Ban motor tak bisa digerakkan! Andika yang panik pun langsung mengontak Huda, salah satu anggota kelompoknya.

“Hud, jingan! Reneo, pedaku nggak isok mlaku!” umpat Andika. Huda pun ternyata meresponnya dengan mengajak Sisil, salah seorang anggota kelompok yang memang sudah diincarnya. Sisil yang ogah dengan Huda pun akhirnya mau diajak menghampiri Andika dengan alasan kasihan.

Saat Andika menunggu, Huda kemudian datang ke jalanan sepi tempat motor Andika mogok.

“Suwene, cok! Pedaku mogok get iki nggak isok mlaku! Piye enake!” teriak Andika.

“Yo sabar tah,” ujar Huda lantas berkata pelan, “Iki lho Sil, nggak mbujuk kan aku lek pedae Andika mogok,” tambahnya.

Andika pun sontak berteriak lebih kencang.

“Ngomong ambek sopo cok!”

“Lah iki Sisil,” ujar Huda sambil menoleh ke belakang.

“LHO JANCOK SISIL ENDI?”

Kedua bocah tersebut saling berpandangan. Sementara ada pesan masuk dari Sisil ke ponsel Huda.

“Hud, sorry ya nggak jadi ikut. Aku wedi kamu bohong terus berbuat seng enggak-enggak, dadi aku maeng kabur sakdurunge numpak motormu,” ujar Sisil.

Huda terjingkat, pun juga Andika.

“Lah terus, sopo seng kaet maeng tak bonceng! Kok abot!” teriak Huda.

Keduanya pun hanya bisa berpandangan, tak tahu harus bicara apa. Motor mogok Andika, motor berat Huda, semuanya masih tanda tanya.

“Ojok-ojok, bener jare wong-wong, onok kuntilanak cook!” teriak Huda yang langsung berlari menuju kampus. Andika, berjingkat lalu menyusul dari belakang, meninggalkan motornya begitu saja.