Kalau setiap hal yang terjadi adalah firasat, maka firasat kematian mungkin jadi yang paling sulit diterima dan dipercaya pada awalnya. Tingkah laku, gerak-gerik, gejala alam, tanda aneh; apapun itu, seolah merujuk pada satu akhir yang mengindikasikan ada seseorang yang akan mati.

Lepas dari indigo yang bisa melihat atau meramawalkan kematian, orang awam biasanya tak pernah menyadari ada firasat. Mereka baru menyadarinya sesaat setelah kematian terjadi. Yang agak aneh, kadang ada yang menghubung-hubungkan berbagai hal sebagai salah satu firasat kematian yang tak disadari.

Keberadaan orang yang hidup memang tak pernah disadari, kecuali saat dia sudah berkalang tanah. Dan sesadar-sadarnya kita akan firasat kematian seseorang, kita tak akan pernah punya kapasitas untuk menghentikannya–hanya bisa menghabiskan waktu sebanyak mungkin bersamanya, sebelum maut datang menjemput.

Cerita nyata di bawah ini mungkin bisa memberi sedikit gambaran, bahwa firasat kematian punya banyak ragam bentuk. Ada yang kentara, ada pula yang tak terduga, seperti cerita ini.

Lidya (sebut saja begitu), berada di salah satu ruangan di kampus saat tak sengaja bertemu Pak Andi, dosennya. Perjumpaan itu biasa saja. Lidya biasa saja. Pak Andi biasa saja. Tidak ada apapun yang aneh.

“Lidya, gimana, jadi ngambil skripsi apa?” tanya Pak Andi.

“Em mungkin manajemen penataan batu bangunan bertingkat, Pak. Ini masih nyari referensi,” jawab Lidya.

“Oh bagus itu, sama saya saja bimbingannya,” ujar Pak Andi.

Ini bukan cerita stensil dosen-mahasiswa, jadi lupakan semua gairah dan kemesumanmu.

“Wah, Pak, saya sudah mengontak dosen lain tadi. Gimana, Pak?” jawab Lidya.

“Ya batalkan. Sama saya aja. Mumpung saya masih ada,” ujar Pak Andi.

Orang awam tak akan menyadari firasat yang nampak. Pun juga ungkapan ((“mumpung saya masih ada”)), tak ada yang benar-benar mengerti. Lidya mungkin juga merasa bahwa maksud Pak Andi bukanlah hal penting: mungkin beliau mau membimbing mahasiswa lain, atau pindah kerja, atau pensiun.

Tapi ternyata maksud Pak Andi tidak sesepele itu. Sesudah pertemuan pada siang itu, malam hari sekitar pukul delapan Lidya mendapat kabar bahwa Pak Andi telah tiada.

“Innalillahi wainna ilaihi roji’un.”

Pak Andi meninggal tanpa diduga. Beliau tidak sakit. Beliau tidak terlalu tua. Beliau nampak sehat-sehat saja. Beliau tidak pernah mengeluh. Beliau tak pernah membicarakan kematian. Beliau pun mungkin tak sadar saat mengucapkan hal yang menjadi firasat kematian pada Lidya.

Pertanyaannya: alih-alih orang lain, bisakah kita membaca firasat kematian diri kita sendiri? Bagaimana cara paling akurat, teoretis, yang sudah teruji untuk membaca kapan kita akan mati? Adakah cara membongkar kematian, yang konon sudah jadi rahasia Tuhan, menjadi hal yang bisa dipelajari?

Tapi toh maut siapa yang tahu. Firasat siapa yang bisa menebak. Segalanya adalah misteri illahi. Membaca firasat kiranya hanya buang-buang waktu, tenaga, dan pikiran.

Tak ada lagi yang lebih bermakna selain terus berbuat baik pada semua orang, memanfaatkan setiap waktu pertemuan dengan sebaik mungkin, biar nantinya tak terlalu ada penyesalan saat orang yang kita kenal bahkan kita sayang, meninggalkan kita semua.

Toh harus disadari bahwa kematian memanglah tujuan akhir. Ia adalah garis finish, tempat pemberhentian. Ada tidaknya firasat, maut pasti akan menjemput. Saat tulisan ini kamu baca, mungkin ada orang yang meninggal di belahan dunia lainnya. Pun juga saat kamu mulai memikirkan kematian, ternyata malaikat maut sudah menghitung detik di sebelahmu.

Pun juga saya. Mungkinkah tulisan ini jadi firasat kematian saya sendiri?