Aku punya cerita seru tentang tuyul. Barangkali kamu pernah kehilangan duit yang dicuri tuyul juga? Cerita ini mungkin bisa memberi sedikit gambaran.

Di suatu pagi, bapak tiba-tiba saja memperingatkan semua penghuni rumah. Termasuk Ibu, adik, dan juga Mpok Darwanti, yang sedari aku kecil membantu keluargaku beberes rumah.

Bapak, dengan raut muka bersungut-sungut yang semakin memperuncing kumisnya yang lebat, berkata to the point.

“Tutup pintu kalau keluar, kunci lemari, sembunyikan dompet. Ada tuyul berkeliaran!” ujarnya singkat.

Ucapan Bapak ini tentu saja tak keluar serta merta dari mulutnya. Beberapa hari ini, aku mendengar beberapa orang di desaku kemalingan. Jumlahnya memang tak benar-benar banyak, mentok hanya sampai ratusan ribu. Tapi ini tentu saja meresahkan.

“Pak Heru, juragan pecel tepi jalan, kemarin sempat mengadakan pertemuan dengan Pak RW dan beberapa warga. Bapak ikut. Katanya, uang yang selalu ditaruhnya di tempat aman, tiba-tiba raib. Lalu dia mengetes, kembali menaruh uang di tempat yang sama. Esoknya, hilang juga,” ujar Bapak.

“Lah kok aneh. Siapa Pak pelakunya?” tanya Ibu.

“Tuyul, Buk. Nggak tau siapa yang memelihara. Pokoknya kalau sampai berani-berani masuk rumah ini, tak gibengi ndase,” ujar Bapak lantas berlalu.

Bapak mungkin lupa bahwa tuyul adalah makhluk halus; anak-anak kecil botak imut yang berlari-lari riang gembira, menggondol duit orang-orang tanpa seorang pun tahu.

Tuyul tentu saja tidak kelihatan. Meskipun dalam bayanganku sekarang yang ada hanya sosok Si Ucil dalam sinetron lawas Tuyul dan Mbak Yul.

Hari berlalu begitu cepat. Kesibukan membuat kita semua lupa petuah Bapak. Sampai pada suatu hari, secara ajaib uang Bapak yang ditaruh dalam lemari raib begitu saja. Membuat geger seisi rumah. Kami pun kembali mengingat satu hal yang pernah diingatkan Bapak: tuyul!

“Beneran, Buk, Ibuk nggak ngeliat? Jangan-jangan dipake belanja sama Ibuk?” tanya Bapak.

“Mboten, Pak. Aku aja nggak ngerti ada uang di situ. Emang piro se, Pak?” ujar Ibuk kembali bertanya.

“Setengah juta, Buk. Rencananya tak tabung buat benerin kamar anak-anak,” ujar Bapak langsung lunglai. “Jangan-jangan tuyul udah masuk rumah kita, Bu?” Bapak langsung beringsut keluar rumah. Aku hanya bisa bengong sambil mengamati.

Tuyul tidak akan hadir tanpa tuannya. Ini bisa siapapun, tapi yang jelas, harus orang sakti. Salah satu ciri orang yang membawa tuyul adalah kalau berjalan, dia akan menaruh kedua tangannya di belakang. Seperti menggendong sesuatu.

Tuyul, karena masih anak-anak, juga amat menyukai aktivitas ngempeng. Maka dari itu, orang yang membawa tuyul biasanya juga punya istri muda, atau baru punya bayi. Istrinya, selain bertugas menyusui bayinya, juga menyediakan teteknya bagi si tuyul.

Dua ciri ini membuatku menyisir beberapa nama warga desa yang aku tahu. Siapa yang kira-kira doyan jalan-jalan, tangan ditaruh belakang, dan punya istri yang masih muda?

Lalu ketokan pintu mengagetkanku.

“Fadil, ayah ada?” tanya si tamu, yang ternyata adalah Pak RW. “Tadi ayahmu nyari saya, kebetulan saya masih muter-muter, lalu saya samperin ke sini, barangkali ada perlu,” lanjutnya.

“Eh iya, Bapak barusan keluar. Tapi nggak tahu ke mana, belum balik,” jawab Ibu yang lalu juga menemui Pak RW. “Pak RW nunggu sini mawon, barangkali habis ini mbalik Si Bapak. Tak buatin teh, Pak.”

“Fadil, temenin Pak RW bentar, tak mbikin teh,” lanjut Ibu.

Pak RW pun mengangguk, duduk, dan menanya-nanyaiku. Lalu tiba-tiba dia memberiku uang puluhan ribu.

“Ini nak Fadil, aku jarang ngasih ke sampean. Buat sangu sekolah,” ujar Pak RW. Aku sedikit kaget namun juga senang. Pak RW, selain dikenal sebagai orang terpandang, akhir-akhir ini juga sering memberi sangu pada teman-temanku.

Si Imron, teman sekelasku yang juga sekampung denganku, mengaku juga pernah diberi uang oleh Pak RW.

Perubahan Pak RW ini memang terjadi pasca meninggalnya istri tercintanya, yang menemani puluhan tahun hidupnya tanpa seorang anak. Istrinya, sakit menahun, membuat Pak RW sampai kehilangan banyak harta.

Tapi sekarang, sesudah punya istri baru yang masih muda, kondisi keuangan Pak RW tampaknya mulai membaik.

Saat berbicara, aku melihat ada yang aneh dengan Pak RW. Dia berkali-kali tampak berdiri, dengan kedua tangan ke belakang, lalu duduk lagi dengan tangan yang sama. Pikiranku langsung menuju ke arah kamar dimana ada lemari tempat Bapak menaruh uang.

Jangan, jangan..

“Jancok! Metuo kon teko omahku! RW asu!” umpat seseorang dari luar. Ternyata Bapak bersama puluhan warga lain, membawa obor dan bebatuan. “Metuo, lek nggak tak antemi ndasmu!” teriak Bapak.

Ibu yang baru saja membikinkan teh, langsung kaget.

“Onok opo toh, Pak?”

“Bajingan! RW bedes iki seng ngingu tuyul! Balikno duwekku asu!” umpat Bapak.

“RW jancok, ayo paten-patenan!” ujar salah satu warga.

“Lho ojok ngawur sampean kabeh, opo buktine?”

Bapak langsung memanggil perempuan, yang tak lain adalah istri baru Pak RW.

“Opo opoan iki?” tanya Pak RW.

“Bojomu maeng ngaku pas tak parani. Ojok macem-macem kon! Kon nang omahku saiki yo tak jebak!” bentak Bapak.

Pak RW tampak melotot ke arah istrinya. Ibu dan aku hanya melongo. Mpok Darwanti memegangi kepala adikku yang masih kecil.

“Wes saiki RW-ne sampean ae, Pak,” ujar salah seorang warga pada Bapak. “Tapi ojok tuyul-tuyulan lho!” tambahnya. Bapak merengut, lalu menggemplang muka Pak RW.

“Jancok, gara-gara sampean aku jadi ditunjuk RW, ngerepoti ancene sampean iki. Ayo, ayo seret kantor polisi. Tuyule sepaken ae lek nemu!” ujar Bapak, yang kemudian diikuti seluruh warga.

TAMAT