Cerita pisau berkarat ini mengandung adegan kekerasan. Kebijaksanaan pembaca amat disarankan.

Diasahnya pisau dapur yang mulai berkarat itu. Tak terburu-buru, sambil melihat gorengan ikan dengan api sedang dalam kompor. Sehabis menggoreng ikan kesukaan suaminya, Nunung berniat menggoreng tempe. Sayangnya, pisau dapurnya sudah kepalang karatan untuk memotong tempe.

Pagi itu seperti pagi pada biasanya saja. Nunung bangun sesudah adzan subuh, salat, dan mulai bersiap memasak. Suaminya masih tertidur pulas, dan ia harus memastikan bahwa semua masakan sudah tersedia di meja makan, sebelum suaminya bangun.

Atau, umpatan dan tendangan akan diterimanya.

Dengan pelan lagi hati-hati, Nunung mengasah pisau tanpa khawatir. Sebentar lagi beres, pikirnya. Tapi tiba-tiba dia mendelik. Baru ingat kalau lupa menanak nasi. Ia lantas membanting pisaunya, mengabaikan gorengan ikan, dan membawa dua gelas beras ke rice cooker.

Saat sedang menyalakan kenop memasak, suara bantingan pintu terdengar.

“Bau apa ini? Kon isok masak nggak?!” ujar Paidi, lantas menggebrak meja makan. Nunung langsung teringat bahwa gorengan ikannya tertelantarkan. Bau gosong menyeruak seiring tamparan Paidi pada pipi kirinya.

Paidi langsung menuju kamar mandi, mengambrolkan kemih tanpa menutup pintu, meraih batang kretek dan kopi hitam yang sudah dibuatkan Nunung, lalu meraih ponselnya. Rentetan nomor yang sudah mampir di ponselnya beberapa waktu terakhir kembali dia hubungi.

Itu adalah nomor Imah, salah satu sepupu Nunung yang baru menjanda sesudah suaminya meninggal. Nunung sudah merasa ada yang tidak beres dengan hubungan Paidi dan Imah. Dan sambil mengentas ikan goreng gosongnya, ia memutuskan akan mengujungi rumah Imah siang nanti.

***

“Udahlah, Nung. Kamu itu nggak becus ngurus Mas Paidi. Biar aku saja!”

“Maksudmu opo, Mbak? Mas Paidi iku sek bojoku! Sampean iki dulurku dewe lho, Mbak!” jawab Nunung.

Imah melengos begitu saja, lantas menunjuk muka Nunung.

“Yo wes, suruh milih ae Mas Paidi. Milih aku ta kon!” bentak Imah.

Nunung meraih sesuatu dalam dasternya. Benda bertekstur keras, berkarat, dan menguning di kulit kalau tersentuh. Digenggamnya benda itu rapat-rapat. Ia tidak bisa melakukan itu ke Imah, tidak akan mungkin.

Tapi ke Paidi, apapun bisa terjadi.

***

Pisau karatan sesungguhnya tak terlalu tajam. Ia bisa membunuhmu, tapi harus digoreskan berulang kali. Kematian yang terbaik memanglah langsung tuntas, nyawa tercerabut dari badan tanpa perlu menunggu lama. Tapi kematian yang paling sial adalah pelan-pelan, menikmati derita sebelum akhirnya hilang nyawa.

Seperti yang dialami Paidi saat ini.

Sambil memegangi dadanya yang tertusuk sebilah pisau berkarat, Paidi mendelik dengan raut muka kaget setengah mati pada Nunung.

“Mending sampean mati ae, Pak. Nyikso aku terus, selingkuh ambek Imah! Aku wes nggak kuat!” bentak Nunung.

Paidi pun kelimpungan tapi masih kuat berdiri. Tapi Nunung lantas segera membelakangi Paidi, memegangi kepalanya, dan menggores-goreskan pisau berkarat itu ke leher Paidi. Memang darah tak langsung mengucur. Tapi terus merobek kulit, sedikit demi sedikit, mengelupaskan kulit Paidi, hingga kemudian dirinya ambrol ke tanah.

Nunung menangis, sejadi-jadinya. Dimatikannya lampu kamar Paidi supaya tak ada orang yang melihat. Mayat Paidi langsung diseretnya dalam lemari yang sudah dikeluarkan semua bajunya. Lantas, Nunung mengunci lemari kayu itu rapat. Serapat-rapatnya.

Ia telah menemukan alibi baru: Paidi sudah kabur, kawin lagi dengan janda antah berantah!

***

Seminggu sudah berlalu. Teka-teki hilangnya Paidi sudah diungkap sendiri oleh Nunung. Ia bahkan langsung memberi tahu Imah. Tak terima, Imah langsung menuduh Nunung pembohong. Tapi kebohongan Nunung tampaknya tak lagi terbaca. Paidi lama kelamaan sudah kawin lagi. Meninggalkan istri dan satu orang anak.

“Buk, Bapak temenan kawin lagi ta?” ujar Faishol, anak semata wayang Nunung dan Paidi, yang sehari-harinya bekerja di kota, tapi kebetulan sedang pulang kampung.

“Wes, nggak usah dibahas! Ibuk ya bingung, sakit!” jawab Nunung lalu menuju kamar, tempatnya dan Paidi berbagi ranjang. Sudah seminggu Nunung tak bisa tidur. Ketakutan selalu menderanya. Apalagi saat melihat lemari, dan jenazah Paidi masih membusuk di sana.

Bau-bau tidak sedap mulai tercium. Seperti peribahasa serapat-rapatnya menyimpan bangkai, pasti tercium juga. Semakin hari, Nunung ketakutan setengah mati. Akhirnya, ia mengambil sajadah untuk salat. Barangkali bisa menenangkannya.

Tapi saat salat, Nunung bahkan tak bisa bergerak. Ia merasa tak berkutik. Takut ketahuan, takut mayat Paidi akan menerornya. Bau mayat semakin busuk. Bahkan di lemari sudah tampak rembesan cairan. Nunung makin ketakutan.

Sampai pada suatu malam, ia merasa bahwa lemari itu menggedor-gedor sendiri. Nunung langsung bangkit. Dengan mata sembab, ia meraih kembali pisau berkarat di dapur. Ia lalu menikam lemarinya sampai boncel, sampai hancur.

Tapi suara gedoran terus menghantui telinganya. Bau anyir juga tak bisa lepas dari hidungnya. Ia memandang pisau berkarat itu dengan lekat. Dan selanjutnya, dengan beberapa goresan, darah sudah menggenang di tangan kiri Nunung.

“Buk!” teriak Faishol yang terbangun sesudah mendengar suara benda keras terbentur.

Tapi toh semuanya sudah celaka!