Di kota ini, banyak sekali bangunan masa kolonial yang masih berdiri dengan gagahnya. Beberapa bahkan masih digunakan hingga kini. Ada yang dimanfaatkan pemerintah sebagai kantor pemerintahan, ada pula yang digunakan sebagai tempat berteduh tunawisma.

Kota ini dikenal sebagai salah satu kota dengan sejarah perjuangan yang panjang. Bangunan-bangunan tua ini sudah pasti punya ceritanya masing-masing. Ada yang menjadi saksi kisah cinta masa kolonial, atau menjadi saksi bisu kebengisan penjajah di masa lampau.

Saat membahas soal bangunan tua, masyarakat memang punya kegemaran untuk menghubung-hubungkan bangunan warisan kolonial dengan hal mistis. Memang tak bisa dipungkiri, hawa mistis dalam bangunan tua milik Belanda lebih terasa bila dibandingkan dengan bangunan lainnya.

Ini semakin ditambah pula dengan cerita-cerita yang tersebar dari mulut ke mulut. Menambah keyakinan bahwa bangunan tua di zaman Belanda memang identik dengan hal gaib. Seperti cerita berikut ini.

Parno (sebut saja begitu) adalah seorang pekerja bangunan borongan. Dia pernah mengalami kejadian mistis ketika sedang mengukur luas bangunan tua bekas Belanda. Rencananya, bangunan itu akan diratakan dengan tanah untuk kemudian diubah menjadi pusat perbelanjaan.

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, sebelum merobohkan gedung, Parno bersama timnya terlebih dahulu mengukur luas tanah dan gedung. Karena suatu hal, ia terpaksa melakukannya sendiri. Agar tak mengganggu pekerjaan pembongkaran, juga agar dapat menyelesaikan pekerjaan lebih cepat, Parno melakukan pengukuran di pagi buta, sesudah salat Subuh.

Parno tiba di lokasi sekitar pukul setengah lima pagi. Tanpa babibu, ia langsung menyiapkan peralatan kerjanya. Diawali dari lokasi terluar, hingga akhirnya sampai di bagian halaman belakang gedung. Sebenarnya, nyalinya cukup ciut saat mengukur bangunan besar tersebut. Apalagi, pernah ada isu penemuan mayat di gedung tua ini.

“Duh, Gusti, paringono selamet,” ucap Parno pada dirinya sendiri.

Parno mengawasi sekelilingnya. Ia sadar ia sendirian. Hanya ditemani suara jangkrik yang kadang-kadang bersahutan. Matanya memperhatikan gedung. Lantas, ketika ia mendongak ke atas, dilihatnya sesosok perempuan berdiri di balik kaca kamar lantai dua gedung. Mata perempuan itu menatap lurus ke arahnya.

Parno tak yakin dengan apa yang dilihatnya. Begitu ia mencoba lebih fokus, perempuan itu tiba-tiba berpaling dan hilang. Parno mengerutkan dahi. Manusia macam apa yang ada di dalam gedung itu sepagi ini?

Dengan nyali di pelupuk mata, Parno pun beranjak menuju lokasi perempuan itu. Ia melewati anak tangga yang melingkar, hingga sampai di lantai dua. Kakinya pun melangkah ke arah kamar, menuju lokasi perempuan tadi. Gagang pintu yang mungkin sudah berusia ratusan tahun tersebut agak sulit dibuka. Akhirnya, dengan sedikit paksaan, usahanya membuahkan hasil.

Krieeeeett…

Pintu pun terbuka.

“Lho, kok nggak onok sopo-sopo?!” batin Parno.

Mata Parno melihat ke sekeliling ruangan yang kotor. Kamar tersebut hampir tak memiliki perabotan, hanya ada satu vas tanpa bunga yang terselimuti sarang laba-laba di pojokan kamar. Kasur yang sudah kusam dan terasa bau itu ada di atas ranjang kayu, lengkap dengan kelambu yang telah berganti warna jadi kecokelatan.

Bau kotoran tikus menusuk hidung. Rasa penasaran memancing Parno menjelajah kamar. Langkah kakinya mengarah tepat ke depan kaca di mana perempuan itu berdiri sebelumnya.

Tangannya mengusap debu yang memburamkan kaca. Matanya melihat ke bawah, lokasi di mana dia tadi mengukur tanah.

Selagi Parno menikmati pemandangan menjelang pagi melalui jendela kaca, tiba-tiba pintu kamar menutup dengan sendirinya.

Bluuuugggg!

Parno yang terperanjat kaget serentak membalikkan badan dan melompat menuju pintu, bermaksud membukanya. Namun, pintu itu seakan terkunci rapat. Parno memaksa untuk terus menarik gagang pintu, namun hasilnya nihil. Kesabaran Parno mulai hilang, ia lantas menggedor pintu itu dari dalam…

Lalu, terdengar suara dari balik pintu itu. Siapa gerangan?

BERSAMBUNG