Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Cerbung Horor Noni Belanda Penghuni Bangunan Tua (1): Perempuan yang Menggoda di Pagi Buta

Duk duk duk!

“Haloo! Sopo nang njobo. Halooo!” teriak Parno.

Tak ada jawaban.

“Heh jancok! Ojok ngawur kon! Bukaen!” ujar Parno mulai gusar.

Ia berteriak berkali-kali, namun nihil. Tak ada satupun jawaban.

“Cok, perasaanku nang omah iki nggak onok wong. Kok aneh ngene se,” gumam Parno mulai ketakutan.

Saat masih setengah kebingungan, matanya menemukan sebuah pigura di bawah ranjang. Ketakutannya terkalahkan dengan rasa penasaran yang memenuhi pikirannya.

Diambilnya pigura itu. Masih ada foto di dalamnya. Potret sebuah keluarga. Ayah seorang Belanda, sementara ibu dan anak perempuan yang wajahnya begitu Indonesia.

Dari tampang dan baju yang dikenakan, jelas mereka adalah orang terpandang di masa lalu. Mungkin mereka adalah orang yang punya jabatan cukup tinggi di masa kolonial.

Ketika Parno membalik pigura tersebut, terdapat lipatan kertas. Diselipkan di sela-sela pigura. Sebuah surat yang cukup panjang. Sebuah pesan dan curhatan yang dituliskan di tiga kertas yang sudah usang.

Setelah Parno membacanya, ternyata ini adalah kamar Kathelin, gadis keturunan Belanda. Surat-surat itu seperti menceritakan kembali kehidupan Kathelin, yang tak lain adalah anak hasil perselingkuhan tentara Belanda dan ibunya yang keturunan Jawa.

Bapaknya mati saat berperang melawan pejuang Indonesia. Sementara ibunya terbunuh ketika sedang melindunginya. Tanpa saudara dan kerabat, ia melanjutkan hidupnya setelah diselamatkan oleh pembantunya.

Kesedihan yang berlarut-larut membuat kesehatan mentalnya berantakan. Ditambah asuhan pembantunya yang hanya “ala kadarnya”, jelas semakin memperburuk kesehatan jiwanya.

Ia juga menuliskan, pembantunya sering mengumpat di belakangnya. Hingga akhirnya yang paling parah, ia sempat dipasung karena lepas kendali.

Menutup surat tersebut, tertulis kata “vaarwel werelda.Aku akan pergi mengikuti papa dan mamaku..

Parno tak sadar hari sudah mulai terang. Dia berkaca-kaca membaca surat tersebut. Ia membacanya dekat kaca yang agak sedikit terang. Ruangan gelap pun tidak terasa.

Ia lupa dirinya masih terkunci di kamar tersebut. Parno yang tadi mengumpat dan mulai gupuh, mendadak jadi sosok yang cengeng saat membaca surat itu.

Saat masih dalam keadaan setengah sedih, tiba-tiba pintu yang tadinya terkunci rapat, terbuka berlahan..

Krieeeeeeeet..

Parno terperanjat melihat ke arah pintu. Ternyata benar, pintunya terbuka. Parno pun lega. Dia bisa keluar dari kamar horor yang menguncinya. Parno membawa pigura tersebut lengkap dengan foto dan suratnya. Ia berniat menanyakan pada atasannya.

Tapi setelah keluar dari kamar tersebut, ia merasa ada sepasang mata yang sedang mengawasinya. Bulu kuduknya berdiri. Parno mulai merinding. Bangunan besar tanpa jendela yang terbuka itu membuat sinar matahari sulit masuk. Membuat bangunan ini seolah tak memiliki waktu siang.

“Iki awan lho, kok rasane koyok tengah wengi,” ucap Parno.

Ia melangkah dengan hati-hati, lantai yang terbuat dari kayu yang sudah mulai lapuk, membuat setiap langkahnya serasa dicengkeram kematian. Parno yang baru saja merasa aman, kembali diusik suara tawa perempuan.

Parno berhenti melangkah. Tiba-tiba dari langit-langit merayap cepat sesosok perempuan berpakaian putih. Seperti kuntilanak.

Parno mundur, tubuhnya bergetar. Seumur hidup, dia baru melihat penampakan sejelas itu.

Tiba-tiba wanita itu menghilang. Setelah itu, Parno kembali melanjutkan turun dengan rasa takut yang luar biasa. Parno berjalan ke titik pengukuran tadi, semua peralatan sudah dimasukkan tas.

Matahari sudah muncul. Kejadian yang baru saja menimpanya membuatnya tak ingin berlama-lama di bangunan tersebut.

Lalu dari arah atas gedung, muncullah sesuatu yang membuat Parno tergagap setengah mati, hampir terkencing-kencing!

BERSAMBUNG!