Praaaang!!!! Suara hantaman keras terdengar dari dalam rumah duka, entah piring atau gelas yang dilempar dari dalam. Kami serombongan pun sontak terkejut dan langsung menoleh ke arah sumber suara. Tak lama setelahnya, aku melirik ke arah jenazah yang sudah ditutupi kain batik.

“Ahh, untunglah si mayit gak ikut kaget,” batinku. Bisa ramai ceritanya kalau jenazah yang udah
anteng tiba-tiba bangkit dari kematiannya. Yang melayat bisa lari pontang-panting.

Ada sedikit suara bising dari rumah sebelah rumah duka tersebut. Aku bersama serombongan
kawan alumni satu sekolah hari ini melayat ke rumah kakak kelas yang baru saja meninggal karena bunuh diri.

Kematian tersebut nampaknya sangat memukul keluarga korban. Keluarga korban saat ini harusnya sedang ramai banca’an, syukuran pernikahan si pemuda, namun entah karena alasan
apa, pengantin pria memutuskan untuk mengakhiri hidupnya tepat tiga hari sebelum akad nikah
yang direncanakan. Yah, manusia memang hanya bisa merencanakan, selebihnya cuma Tuhan
yang mampu menentukan.

Kematian yang tak lazim tersebut sudah pasti membuat keluarga kedua mempelai semakin sedih.

Suara lemparan piring tadi kuyakin bukan berasal dari orang yang sedang bertengkar. Mereka punya alasan untuk melakukan hal tersebut. Aku juga tadinya tak akan percaya kalau tidak
mendengar cerita itu sendiri. Cerita—atau mitos—tentang Kamis Wage.

Aku ingat betul, hari itu adalah Kamis Wage. Aku mengingat pasarannya karena sehari sebelum penemuan mayat di belakang rumah, salah seorang kawan tanpa sebab musabab mencerocos tentang hal-hal mistis.

“Kon ngerti gak, sing luwih horor teko Jumat Kliwon?” ujarnya tiba-tiba.

“Malem Minggu,” jawabku singkat. Ia melengos sambil menggerutu.

“Nggatheli kon, Mbang. Temenan iki. Sing gak kalah horor teko Jumat Kliwon iki Seloso Kliwon, Seloso Wage, ambek Kemis Wage.”

“Wah, lha Kemis Wage kan mene iki, Jar. Ayo, golek wangsit nang kono!” ujarku sambil cengengesan ngece si Fajar.

“Lho, awakmu kok gak percoyo? Yowes, karepmu. Iku jarene Mbahku, Mbang.”

Melihat kawanku yang begitu antusias bercerita soal klenik begini, aku jadi tergelitik. Ia
sedikit merajuk, dan atas dasar rasa setia kawan, kucoba mendengarkan ceritanya.

Katanya, sebagian orang Jawa percaya, kalau ada yang meninggal pada Kamis Wage, maka
si jenazah akan mengajak salah satu di antara pelayat untuk ikut ke alam baka. Untuk mencegah
ajakan tersebut, seseorang dari keluarga jenazah harus memecahkan benda pecah belah. Misalnya, piring.

Barang yang dipecahkan tak melulu keramik atau kaca, karena orang kejawen terdahulu pun melemparkan benda-benda yang terbuat dari gerabah agar terpecah. Kepercayaan ini hanya berlaku pada kematian yang tak lazim seperti kecelakaan, pembunuhan, atau yang paling fatal, bunuh diri.

Kenapa paling fatal? Ya, karena bunuh diri adalah salah satu kematian manusia yang paling dinantikan oleh Iblis. Alasannya karena roh manusia tersebut tidak bisa tenang dan akan menjadi sohib mereka hingga kiamat nanti.

Salah satu Paribasan Jhawi terkenal berbunyi, “Desa mawa cara, negara mawa tata, ingkang
tegesipun saben papan nduweni adat tata carane dhewe, adat sing bedha karo papan-papan
liyane.” (Tiap suatu daerah memiliki adat masing-masing, yang berbeda dengan daerah lain).

Selain Kamis Wage, masih banyak mitos yang dipercaya oleh masyarakat Jawa, ini
baru Jawa lho, belum Kalimantan yang juga kental dengan mistisnya.

Kepercayaan lain yang juga masih bertahan seperti ketika ada yang meninggal, apabila jenazah
punya kerabat anak kecil yang tak jauh dari rumah, maka anak kecil tersebut telinganya harus
diolesi kapur.

Masih kurang? Masih ada yang ekstrem nih, kalau seseorang meninggal pada Selasa Wage,
maka makamnya harus dijaga selama lima hari lima malam atau sepasar dalam istilah Jawa. Hal
ini bertujuan agar tak ada yang membongkar kuburannya untuk mencuri kain kafan si jenazah.

Konon, kain kafan dari orang yang mati pada Selasa Wage dapat dijadikan jimat atau
sengkelit yang berguna untuk meloloskan diri dari jeruji hukum. Jimat ini kabarnya juga bisa
digunakan untuk mengatasi polisi dan memudahkan diri untuk lolos dari polisi.

Ada juga keyakinan yang menyebutkan kalau kembang boreh atau bunga yang dicampur dengan
air mandi jenazah yang meninggal pada Selasa Kliwon bisa dijadikan bahan pelet
menaklukkan lawan jenis. Pihak keluarga juga disarankan agar menjaga makam selama 40 hari
agar menghindari hal-hal yang tak diinginkan, karena banyak yang percaya kain mori dan
potongan tubuhnya bisa dijadikan modal awal pesugihan.

Meskipun dipercaya sebagai mitos yang tidak jelas darimana sumbernya, masih banyak orang
yang percaya dengan hal seperti ini. Terlepas benar tidaknya hal-hal di atas, ada baiknya pihak
keluarga diwanti-wanti untuk menjaga jenazah agar terhindar dari hal-hal yang tak diinginkan.

Kepada para pemburu jimat, kalian sebaiknya berburu pada tempat-tempat yang sudah
jelas seperti petilasan para raja terdahulu, atau melalui amalan-amalan yang sudah jelas
sumbernya, bukan melalui cara yang tidak jelas seperti mencuri mayat.

Dan perlu diingat sekali lagi, jodoh, rezeki, dan harta sepenuhnya merupakan hak Tuhan,
kewajiban kita hanyalah berusaha menggapainya.