Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Cerbung Horor Noni Belanda Penghuni Bangunan Tua (2): Sejarah Muram di Balik Surat Usang

Menjelang Magrib, Parno memutuskan pulang lebih cepat. Setelah sampai di rumah, Parno pun disambut istrinya yang bernama Marti.

“Tumben pulangnya cepet, Pak?” ujar Marti sambil mencium tangan kanan suaminya.

“Iyo, Buk. Aku tadi ngalami kejadian aneh,” jawab Parno.

“Ha-ha-ha, sampean emang wes aneh teko bayi, Pak,” ujar istri Parno santai.

“Duduk aku sing aneh, Buk. Ah emboh lah, engkok ae!” ujar Parno kesal.

“Wes talah. Ndang adus sek!” jawab istrinya dengan lembut.

Parno luluh, Ia mengangguk pelan. Hatinya yang kesal dengan jawaban istrinya cepat tergantikan dengan perasaan sayang yang memenuhi kepalanya.

Ketika Parno sedang mandi, terdengar bunyi tok tok, suara pintu ruang tamu. Marti pun berniat membukakan pintu untuk sang tamu.

“Siapa ya?” tanya Marti.

Di depannya, berdiri seorang perempuan muda cantik namun agak pucat. Rambutnya hitam dengan ujung agak kemerahan. Wajah ayunya tertutupi ekspresinya yang kaku. Matanya menatap Marti dengan kosong.

“Saya Katheline, Bu. Maaf, apakah ada foto yang dibawa bapak. Itu foto saya, Bu, tadi terbawa,” ujar sang tamu.

“Oh iya, bentar ya, bapaknya lagi mandi. Coba saya cari di tasnya, barangkali ada,” jawab Marti menjawab dengan sedikit merinding.

Setelah dicari, ternyata ada sebuah foto lengkap dengan piguranya. Marti berpikir, mungkin itu yang dimaksud si tamu. Lagipula, tak ada foto yang lain di tas itu, hanya benda-benda pekerjaan suaminya yang berserakan tak tentu.

“Foto yang ini, Mbak?” tanya Marti sembari mengulurkan foto yang ada di tangannya.

“Iya, Bu. Terima kasih.”

“Iya, Mbak, sama-sama,” jawab Marti sembari tersenyum.

Seusai Parno mandi, Marti pun bertanya.

“Pak, Katheline iku sopo?”

“Hah? Apa, Bu?” Parno kaget. Kenapa istrinya bisa tahu nama itu.

“Wes nggak usah pura-pura kaget ngono. Lagipula ngapain sih bapak bawa-bawa foto bule muda cantik?” tanya Marti.

“Hah? Bawa foto? Foto yang kubawa dari bangunan tua itu maksudmu, Bu?” Parno balik bertanya.

“Ya nggak tahu, Pak. Yang jelas tadi ada mbak-mbak bule cantik nyari fotonya kesini,” ujar Marti sambil menggerutu.

“Heh ojok ngawur, Bu! Seng bener lek ngomong!” Parno mulai kehabisan akal.

Parno terdiam. Ia melihat istrinya mulai merajuk. Sang istri cemburu. Setelah sempat beberapa saat berpikir, ia mulai teringat dengan kejadian yang menimpanya fajar tadi.

“Bu, Katheline itu wanita yang ada foto pigura itu. Dia sudah meninggal puluhan tahun yang lalu,” jelas Parno.

“Bapak nggak usah bohong! Bapak pasti kenalan di jalan. Alasan tok!” rajuk Marti cemburu.

“Demi Allah, Bu. Aku nggak bohong. Dia itu anak perempuan pemilik pertama bangunan tua yang tadi pagi aku ukur,” Parno mencoba menjelaskan sekali lagi.

Marti tak lagi merajuk. Ia mulai mengingat-ingat wajah dan pakaian yang dikenakan tamunya tadi.

“Eh iya, Pak. Baju yang dipakai tadi kayak baju jaman dulu. Berarti tadi itu siapa, Pak?” ujar Marti.

“Ibuk nggak bohong, kan? Kenapa tadi diem aja, nggak manggil Bapak?”

“Iya bener, Pak. Tadi bapak kan lagi mandi, daripada nunggu kelamaan, ya Ibu kasih aja.”

“Ya Allah, kok isok ya?” Parno kaget luar biasa.

Parno pun mulai menjelaskan apa yang ia alami pagi tadi. Ketika sedang mengukur sebuah bangunan tua peninggalan Belanda.

“Astaghfirullah, Pak. Bapak nggak bohong?”

Dengan keadaan masih tak percaya, Marti menggenggam tangan Parno seraya berkata lirih, “Bapak ngapain diikutin setan, Pak? Itu setan punya dendam apa sama kita?”

Parno menggelengkan kepalanya. Ia sendiri bahkan bingung kenapa hantu perempuan tersebut mengejarnya, bahkan hingga ke rumahnya yang berjarak cukup jauh dari bangunan bekas kolonial itu.

Semalaman suntuk, Parno tak bisa tidur nyenyak. Bayangan kejadian pagi tadi masih ada di dalam benaknya. Akhirnya, pada malam keesokan harinya, Parno kembali ke tempat bangunan tua lagi.

Ia bermaksud menyelesaikan pekerjaannya yang belum selesai. Karena tuntutan dari manajer, pekerjaan yang harusnya dikerjakan di siang hari di hari kerja, harus ia kerjakan akhir pekan, di waktu Magrib pula.

“Kontol!” umpat Parno dalam hati.

Selagi dia bekerja, sesekali matanya melihat ke arah kamar itu. Meski takut, dalam hatinya ia masih berharap, perempuan muda yang kemarin mendatangi rumahnya kembali muncul.

Dorongan rasa penasaran yang kuat membawa Parno kembali masuk ke kamar Noni Belanda itu. Langkah kedua kakinya yang berayun, memancing suara lantai kayu di tiap pijakannya. Kayu yang rapuh seperti menyambut setiap makhluk yang masuk ke bangunan itu.

Parno pun sampai di kamar milik Katheline.

Kreeeet…

Parno membuka pintu. Ia tak berani masuk ke kamar, namun matanya merayap menuju ke bawah ranjang, dimana pertama kali dirinya melihat foto itu.

Betapa kagetnya Parno, nampak jelas sekali foto yang ia bawa sehari sebelumnya sudah tergeletak dibawah ranjang, sama persis seperti saat ia pertama kali menemukannya.

“Eh jancok! Kok fotone nang kunu manehi!” ujar Parno sedikit tercekat.

BERSAMBUNG