Kami menceritakan ulang kisah yang benar-benar terjadi. Dialami langsung oleh narasumber yang sekarang tinggal di sebuah desa di pelosok Jawa Timur.

Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Kisah Nyata Tumbal Pesugihan Jahanam (1): Bisik Lirih dan Buntelan Kain Putih

Ayahku kembali terlambat hari itu. Namun kepulangannya petang itu benar-benar mengubah keluarga kami. Aku ingat betul, ketika aku menyambut ayahku di depan pintu dengan riang, ibuku seperti ragu untuk menyambut. Ia hanya menyilangkan kedua tangannya di dadanya, terlihat gelisah.

“Kakakmu ke mana?” tanya ayahku.

“Di kamar, Yah. Jangan marahi Kakak, ya,” pintaku pelan. Ayahku menjawabnya dengan senyum untuk kemudian berjalan menuju kamar. Ibu lantas menyuruhku tidur. Aku yang waktu itu masih bocah pun tahu wajah ibu benar-benar sepeti orang yang sedang kebingungan. Sayangnya, aku tak berani bertanya.

Semenjak malam itu, semuanya seolah menjadi mudah. Warung keluarga kami tiap harinya ibarat hari pertama bioskop memutar film box office. Hampir tak pernah sepi pembeli. Terpaksa aku dan saudariku harus ikut membantu jaga warung sepulang sekolah.

Sekitar empat bulan berlalu semenjak kami menjalankan warung, ayahku memutuskan membuka cabang baru yang berada di pusat kota, sekaligus merekrut karyawan dengan jumlah yang tak sedikit.

Hidup kami benar-benar berubah drastis. Belum ada setahun keluarga kami sudah bisa membeli rumah yang bahkan, lebih besar dari rumah kami di Surabaya. Ayahku membeli rumah di kota, lengkap dengan perabotannya. Keuangan keluarga kami kembali stabil, bahkan jauh lebih baik.

Aku bahkan tak perlu lagi naik ojek pangkalan untuk berangkat ke sekolah. Mobil yang terparkir di rumah ada tiga, belum termasuk mobil operasional restoran. Di tahun 2009, keluarga kami sudah memiliki tiga restoran besar dengan karyawan yang jumlahnya ratusan. Kakak perempuanku juga tak lagi merengek-rengek minta kembali ke Surabaya.

Sampai pada suatu hari, akhirnya aku tahu sebuah rahasia.

Saat itu aku dan tiga temanku sengaja berkunjung ke warung ayahku. Bangunan warung yang dulu hanya bisa memuat tujuh hingga sembilan orang, kini sudah dibangun menjadi seperti restoran yang luasnya sekitar seperempat lapangan bola.

Tapi menurut salah satu temanku, ia melihat hal ganjil pada salah satu karyawan restoran kami.

“He, itu karyawan ayahmu kan?” tanyanya sambil menunjuk salah satu karyawan perempuan. Aku mengangguk.

“Itu ada yang mbuntuti kok dia diem aja sih?” ujarnya.

“Apa sih, Mad! Itu kakak pelayan cuma sendirian, kok kamu bilang ada yang mbuntuti. Jangan ngawur. Jangan-jangan kamu naksir ya cok?” timpal Tejo, salah satu temanku yang memang kocak.

“Benar ini, Jo. Aku tadi lihat ada makhluk hitam besar di belakang mbaknya!” jawab Ahmad.

“Sudah-sudah, habiskan makanan kalian. Habis ini kuajak kalian ke tempat yang yahud!” ujarku mencoba memisahkan pertikaian kawan-kawanku. Mereka menurut.

Selesai menyantap hidangan, kuajak mereka ke salah satu bukit yang tak jauh dari perkampungan dekat restoran. Bukit tersebut adalah salah satu spot favoritku untuk melihat pemandangan sekitar. Tak jauh dari bukit itu juga ada telaga jernih nan segar.

“Masih jauh nggak, Wan? Lelah aku ini,” ujar Ahmad.

“Bentar lagi cok!” jawabku.

Setibanya di puncak bukit, kukira semua kawanku sumringah. Aku benar-benar puas bisa menunjukkan tempat ini. Tapi saat itu aku tak sadar ada yang aneh dengan Ahmad, kukira dia cuma lelah.

“Kenapa, Mad? Kok mukamu pucet gitu? Kalo kamu lelah, habis ini kita renang di telaga!” ujarku.

Ahmad tak merespon, malah menatapku kosong.

Ketika kami berjalan menuju telaga, Ahmad menarik lenganku. Aku melihat mukanya yang benar-benar ketakutan. Temanku yang satu ini memang dikenal cukup peka dengan hal-hal gaib.

“Wan, makhluk hitam besar yang tadi kulihat di restoran sekarang lagi lihat kita dari telaga,” bisik Ahmad.

“Aku nggak lihat apapun cok!” jawabku sambil melihat telaga dari kejauhan. Sementara dua kawanku yang lain sudah lari dan melepas bajunya.

“Ayok, aku renang dulu ya!” ujar Tejo.

Aku mencoba tak menggubris apa yang dikatakan Ahmad dan langsung ikut njebur.

Ketika Aku, Tejo, dan Budi asyik berenang, Ahmad hanya melihat kami dari pinggiran telaga.

“Kamu kenapa, Mad?” teriak Budi.

Ahmad hanya diam dari kejauhan.

Setelah hampir setengah jam berenang, aku memutuskan untuk mentas. Tak lama kemudian, Tejo juga ikut mentas di sisi telaga. Tapi ada yang ganjil. Tejo melambaikan kedua tangannya padaku dan Ahmad, tanpa bersuara. Kami langsung berlari mendekatinya.

“Ada apa, njing?” tanyaku.

Tejo masih terdiam. Ia mengigil sambil memeluk kedua kakinya. Ahmad mendekat dan berbisik ke Tejo, setelah itu Tejo menangis sejadi-jadinya dan berteriak.

“Budi, Mad! Tadi aku mendengar Budi minta tolong! Kukira dia kram, mau kubawa dia ke pinggir telaga. Tapi ketika kutarik tubuhnya, kok ya berat banget! Tubuhku ikut ditarik ke dalam telaga, sampai akhirnya aku kehabisan nafas dan kulepaskan Si Budi. Aku takut, Mad!” jelas Tejo.

Aku seakan tak percaya apa yang diucapkan Tejo. Mungkinkah ini prank? Tapi melihat Tejo yang biasanya kocak jadi ketakutan seperti ini, jelas memunculkan banyak pertanyaan dalam benakku. Lalu, di manakah Si Budi berada?

BERSAMBUNG