Kami menceritakan ulang kisah yang benar-benar terjadi. Dialami langsung oleh narasumber yang sekarang tinggal di sebuah desa di pelosok Jawa Timur.

Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Kisah Nyata Tumbal Pesugihan Jahanam (2): Makhluk Hitam Besar Penghuni Telaga

Aku dan Ahmad masih berusaha menenangkan Tejo yang gemetaran. Sementara itu, Budi tak jua muncul dari dalam air. Dengan keadaan yang masih bingung, Ahmad tiba-tiba berteriak. Seperti kerasukan.

“Jo, awas kau Jo!” teriak Ahmad tiba-tiba.

Kedua tangan Ahmad sudah mencekik leher Tejo yang masih linglung.

“Woy! Kau ngapain Mad?” teriakku pada Ahmad.

Pupil Ahmad tertarik ke atas, matanya membelalak, suaranya berat, tak seperti Ahmad yang biasanya. Sadar ada yang tak normal dengan Ahmad, kutarik tangannya dari leher Tejo sekuat mungkin, namun Ahmad tak bergeming. Tangannya seperti sudah menempel erat di leher Tejo.

“Istighfar Mad, istighfar cok! Tejo mati nanti kalau kau cekik!” ujarku.

Kubacakan ayat-ayat suci sebisaku ke telinga Ahmad, kalau tidak salah Surah An-Naas. Baru kubacakan dua ayat, Ahmad menoleh. Mukanya benar-benar tak seperti Ahmad yang biasanya. Selama mengenalnya, ia tak pernah membuat ekspresi semengerikan ini.

Kukira Ahmad menoleh padaku karena sudah sadar. Tapi ternyata tidak. Ia malah menonjok dadaku dengan keras menggunakan tangan kirinya hingga tubuhku terpental.

“Kenapa kau lepaskan aku Jo? Kenapa?” teriak Ahmad tepat di muka Tejo. Sepertinya yang merasuki tubuh Ahmad adalah arwah Budi—yang sekarang tampaknya sudah tewas tenggelam.

Tejo ketakutan setengah mati.

“Sorry Bud, ma-maaf. Aku nggak kuat narik tubuhmu, Bud! To-tolong lepaskan aku, Bud!” jawab Tejo sambil terbata-bata.

Ahmad yang saat ini di depan mataku hanyalah jasad semata. Aku merasa saat ini kami sedang menghadapi kemarahan Budi yang tidak diterima karena dibiarkan tenggelam oleh kawan sepermainannya.

“Budi, kalau ini benar kau, tunjukkan di mana jasadmu, Bud! Kita secepatnya akan mengangkatmu dari dalam telaga!” ucapku cepat.

Ahmad melirik ke arahku.

“Ini juga gara-gara kau, Rif! Kau bawa kami buat jadi tumbal bapakmu! Bangsat kau, Rif!” ucap Budi dalam tubuh Ahmad.

Aku makin bingung. Apa maksud ucapan barusan? Apa salahku?

Hari semakin sore, sebentar lagi maghrib. Cengkraman Ahmad tiba-tibe melonggar, tubuh Tejo jatuh ke tanah. Ia sudah tak sadarkan diri. Tak lama setelah itu, Ahmad menoleh kepadaku dengan ketakutan lalu tiba-tiba tersungkur, tak jauh dari tubuh Tejo.

Aku tak bereaksi ketika itu. Kejadian yang menimpaku sore itu benar-benar membuatku ketakutan sekaligus bingung. Aku tak pernah mengalami hal-hal mistis seumur hidupku.

“Hi hi hi hi..”

Di tengah kebingungan, terdengar sayup-sayup suara perempuan yang sedang tertawa di tengah hutan. Terdengar dekat.

“Ya Allah..,” batinku.

Kucoba tetap tenang. Kuanggap itu hanyalah suara gesekan antar batang bambu yang tak jauh dari telaga tempat kami berenang.

Surup menjelang malam, satu temanku tak ada yang tahu rimbanya, entah tenggelam entah dimakan setan. Jasadnya bahkan tak mau muncul ke permukaan. Sementara dua temanku yang lain, saat ini tak sadarkan diri.

Aku mencoba mendekati kedua tubuh temanku yang tak jauh dari bibir telaga. Belum sampai tiga langkah, suara yang tadi kembali muncul. Kali ini terdengar lebih jauh.

“Hi hi hi..”

Aku tak berani melihat ke belakang, kucoba untuk tetap maju menggapai tubuh temanku.

“Mad, bangun, Mad. Ayo cari pertolongan!” ucapku sambil menggoyang-goyangkan tubuh Ahmad.

Tak ada jawaban, baik Ahmad maupun Tejo benar-benar seperti mati. Padahal cuman pingsan.

Ketika kutarik kedua tubuh temanku itu menjauh dari bibir telaga, kembali muncul suara yang menakutkan.

“MAU KAU BAWA KEMANA MAKANANKU?”

Kali ini suaranya jelas dan menggema. Aku langsung gemetaran, tanpa menunggu waktu lama, aku lari terbirit-birit meninggalkan temanku. Aku sudah lupa bahwa kami berangkat berempat. Yang kupikirkan waktu itu: aku harus menjauh dari telaga secepat mungkin!

BERSAMBUNG