Kami menceritakan ulang kisah yang benar-benar terjadi. Dialami langsung oleh narasumber yang sekarang tinggal di sebuah desa di pelosok Jawa Timur.

Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Kisah Nyata Tumbal Pesugihan Jahanam (4): Jampi-jampi Ayam Cemani

Jasad Budi dibawa ke tepian telaga oleh tim SAR. Tubuhnya sudah putih pucat. Dari mulutnya, keluar cairan putih. Begitu pula dari kedua lubang hidungnya. Matanya membelalak. Hingga kini, aku masih ingat betul ekspresi wajah mayat Budi. Ia seperti marah kepadaku.

Kakak laki-laki Budi seperti tidak kaget dengan kejadian yang menimpa adiknya. Ia mengusap dahi adiknya dengan lembut. Setelah berbincang dengan beberapa petugas, jasad Budi akhirnya dibawa ke rumah sakit untuk diotopsi.

Perlahan, mobil ambulans yang membawa jasad Budi menjauh dari tengah hutan. Menembus jalan setapak hingga hilang dari pandanganku.

Tiba-tiba, aku dikagetkan oleh sebuah tangan yang menepuk bahu kiriku cukup keras. Saat aku menoleh, tepat di depanku, ada raut muka seorang bapak dengan wajah muramnya. Ia adalah ayah Tejo, yang sampai saat ini belum diketahui rimbanya.

“Nak, bisa kau telepon ayahmu sekarang?” tanyanya tiba-tiba.

Aku melihat wajahnya yang sayu. Tubuhnya yang begitu dekat denganku membuatku dengan jelas bisa menghirup aroma menyan yang menusuk hidung.

“Lebih baik kau ingatkan bapakmu agar lebih berhati-hati, atau keluargamu sendiri yang akan merasakan akibatnya!” gertaknya.

Aku tak benar-benar paham apa yang dibicarakan Ayah Tejo. Kupikir dia benar-benar membenciku saat ini, dan aku tak bisa menyalahkannya karena akulah orang yang meninggalkan Tejo di tengah hutan.

Yang kutakutkan hanyalah tentang keluargaku. Apakah hal gaib yang menimpaku dan kawan-kawanku berhubungan dengan keluargaku? Tapi apa gerangan? Bahkan, tak ada satupun keluargaku yang tahu aku bermain ke telaga bersama kawanku sore tadi.

***

Setelah diinterogasi cukup lama di Polsek terdekat, ayahku menjemputku.

“Syukurlah kau selamat, Nak,” ujar ayahku sambil menyetir mobil.

Aku yang duduk di sisi ayahku tak benar-benar mendengarkan apa yang ia ucapkan. Aku masih kepikiran dengan ucapan ayah Tejo. Tejo sendiri masih belum diketahui dimana jasadnya. Pihak kepolisian mengatakan, mereka masih akan menyisir lokasi seminggu ke depan.

Ayahnya juga tak ketinggalan. Ia memutuskan untuk ikut mencari jasad anaknya sendiri. Ayah Tejo yang merupakan orang asli Banten, memang dikenal sebagai orang yang memiliki kelebihan, terutama dalam hal gaib.

“Rif? Kau kenapa, Nak? Bengong begitu dari tadi. Kau tak dengar apa yang ayah bilang tadi?” ucap ayahku.

“Eh apa, Yah? Maaf, aku ngantuk,” jawabku singkat.

“Kau jangan begitu kalau orang tua lagi ngajak bicara, tidak sopan namanya!” ayahku mulai menaikkan nadanya.

“Iya, Yah, maaf. Yah, apa ada yang Ayah sembunyikan dari kami?” ujarku balik bertanya.

“Maksudmu apa?”

“Sesuatu yang Ayah sembunyikan dari aku dan Kakak, atau Ibu?” ujarku.

“Kok nanya gitu? Ada apa?”

“Tak apa, Yah. Jawab saja dengan jujur.”

“Tidak ada, nak,” jawab ayahku singkat.

Perbincangan berhenti. Suasana benar-benar hening seakan ayahku menciptakan tembok antara dirinya dan diriku. Aku sadar ada yang ia sembunyikan dariku. Tapi kupikir, itu tak penting selama keluargaku bahagia.

Kami tiba di rumah dengan sambutan yang tak lazim. Ibuku berlari dari arah pintu menuju halaman, kemudian memeluk Ayah yang baru saja keluar dari mobil. Ia menangis sambil meneriakkan nama kakak perempuanku.

“Mas, Mas, Ratih mas..,” ucap ibuku sambil terisak.

“Iya, Ratih kenapa, Bu? Ibu tenang dulu, bilang jangan sambil nangis begitu,” ucap ayahku.

Aku hanya memperhatikan kedua orang tuaku dari belakang. Ibu melirikku, kemudian menyambarku, memelukku dengan erat.

“Bu, kenapa, Bu?” tanyaku.

“Maafkan Ayah Ibumu yang berdosa ini, nak,” jawab ibuku. Jawaban yang sebenarnya sudah menunjukkan ada yang tidak beres dengan keluarga kami.

“SUDAH! JELASKAN DENGAN SINGKAT, RATIH KENAPA?!” bentak ayahku sambil menarik lengan ibuku. Hampir saja aku terjatuh karena ikut tertarik.

“Ratih sudah tiada mas. Tubuhnya di dekat pintu belakang rumah, di pagar,” ucap ibuku sambil terisak.

Hah? Di pagar? Apakah ibuku sedang bercanda?

“Rani di mana? Belum pulang?” tanya Bapakku.

Ibuku mengangguk cepat. Kami bertigas segera bergegas menuju ke pekarangan belakang rumah.

Ayahku tiba-tiba ambruk sambil terkaget. Ibuku kembali menangis, semakin menjadi-jadi. Waktu mungkin sudah lewat tengah malam. Aku melihat dengan kedua bola mataku sendiri, tubuh saudariku tertancap di pagar. Tiga ujung pagar berkarat menancap di leher, dada, dan perut. Mulutnya terkoyak hingga ke pipi kirinya.

Aku seperti melihat adegan dalam film SAW, namun bedanya kali ini aku melihat adegan nyata. Ibuku sudah seperti kesurupan. Namun aku seperti mulai menikmati pemandangan menyeramkan yang ada di hadapanku.

Ketika kami semua masih shock, jari-jari di tangan kiri saudariku bergerak-gerak. Kulihat betul mimik mukanya yang tersenyum kemudian tertawa dengan lucu.

“He-he-he..”

Ibuku pingsan, ayahku ketakutan. Sementara, aku tersenyum kegirangan..

BERSAMBUNG