Kami menceritakan ulang kisah yang benar-benar terjadi. Dialami langsung oleh narasumber yang sekarang tinggal di sebuah desa di pelosok Jawa Timur.

Cerita sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Kisah Nyata Tumbal Pesugihan Jahanam (5): Leher Gadis yang Tertancap Erat di Pagar Berkarat

Mendadak aku menjadi liar. Aku seperti kehilangan kontrol tubuhku sendiri. Aku berusaha berteriak, namun kerongkonganku seperti bukan milikku lagi. Kesadaranku mulai menipis, sementara malam kian hening.

Semuanya menjadi gelap. Lalu entah datang dari mana, tiba-tiba terdengar suara tanpa wujud, menjerit-jerit. Aku yakin itu suara seorang perempuan.

Ia terus menjerit, ketakutan. Matanya menengadah ke atas. Tepat di depannya, sesosok hitam seolah siap menyantapnya kapanpun. Beberapa saat kemudian, perempuan itu terbaring lunglai.

Aku ikut menggigil melihat pemandangan yang terjadi di depanku. Mungkinkah ini mimpi? Setahuku, aku baru saja dijemput ayahku pulang dari kejadian di bukit tadi. Teman-temanku sudah ketemu? Oh ya, kakak perempuanku sedang sekarat menancap di pagar? Bagaimana keadaannya?

Sementara aku bertanya-tanya, tiba-tiba sesuatu menggelinding hingga menyentuh kaki kiriku. Sebuah kepala. Lehernya masih meneteskan darah segar. Aku tercekat, melangkah mundur. Potongan kepala itu kembali menggelinding hingga wajahnya menghadap ke atas.

Aku tahu betul siapa pemilik potongan kepala tersebut. Aku ambruk, dengkulku menyentuh tanah. Kuraih potongan kepala itu. Kupeluk erat-erat sambil menangis. Tangisku semakin menjadi-jadi. Dan tanpa kusadari, makhluk hitam besar sudah ada di depanku.

Tubuhku tak bergerak. Aku masih sesenggukan sambil memeluk kepala kakakku. Bajuku sudah penuh dengan darah. Ia merebut potongan kepala tersebut dari genggamanku, lalu melahapnya. Darah menetes dari taring bawahnya yang menjulur ke atas hingga hampir menyentuh mata.

Sementara dari belakang, muncul dua orang yang berjalan mengikuti langkah makhluk tadi. Mereka tak asing, pikirku. Mataku tak mungkin salah. Mereka adalah ayah dan ibuku. Tapi kenapa? Kenapa mereka tiba-tiba muncul dan mengikuti makhluk tadi?

Aku mencoba memanggil keduanya, namun suaraku tak keluar dari kerongkongan. Pandanganku merayap. Aku sedang berada di sebuah kebun bambu tanpa penerangan sedikitpun. Tapi anehnya, mataku bisa melihat makhluk menyeramkan tadi. Kupikir ini terlalu nyata untuk menjadi sebuah mimpi.

Aku bergerak dan berlari mengejar kedua orang tuaku. Kuraih tangan mereka. Ayah dan ibuku masih bergeming, seakan aku tak berada di situ. Aku berusaha sekuat tenaga, hingga akhirnya satu patah kata keluar dari tenggorokanku yang serak.

“Tolooong!”

Ibuku menoleh. Aku ingat benar dia berekspresi dingin, namun tetap berusaha tersenyum. Ia mengenaliku. Ada apa, Bu? Siapa sebenarnya makhluk itu? Kenapa kalian mengikutinya padahal dialah yang memakan Kak Ratih? Tapi, tak ada satupun kata yang keluar dari mulutku.

Ibuku melenggang. Aku tak berani mengikuti mereka lagi. Saat aku berusaha menarik ibu dan ayahku, tanpa tersadar, dari sisi makhluk hitam tadi, ratusan makhluk serupa muncul dan bersorak ganjil. Mereka sedang berpesta?

Tapi, tak ada satupun dari makhluk itu yang menyadari keberadaanku. Aku benar-benar tak dipedulikan. Sampai akhirnya dari kejauhan, aku melihat kakak perempuanku yang kedua sedang berlenggak-lenggok di tengah kerumunan.

Sejak kapan Retno sepandai itu menari tradisional? Terkadang ia melenturkan tubuhnya, menggeliat di tanah, dengan kedua tangannya penuh luka cakar.

Di sisi lain, orang tuaku terlihat bersujud ke makhluk hitam tadi, makhluk yang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan makhluk-makhluk yang mengelilingi Retno.

Aku seperti menyaksikan keluargaku sedang bermain peran. Tanpa sadar, aku berlari mendekati orang tuaku. Berlari, berlari. Tapi sama sekali aku tak mendekati mereka seincipun.

Suasana kembali gelap..

***

“Nak, sadar..,”

Suara laki-laki menyadarkanku.

Orang tersebut adalah Ayah Tejo.

“Pak? Di mana Ibu saya?” ujarku.

Ia terdiam, kemudian mengusap dahiku yang berkeringat.

“Kadang manusia memang bisa khilaf, tapi jika sudah sejauh ini, ayahmu sudah memancing makhluk yang harusnya tak ia usik,” jawabnya tanpa ekspresi.

Kulihat halaman belakang rumahku sudah penuh dengan orang. Polisi dan warga setempat.

Suasana halaman belakang rumahku tiba-tiba menjadi tenang. Dingin, hening, sekaligus ganjil. Beberapa jam berlalu, masih hening, hingga suara tangisan itu muncul entah dari mana. Beberapa polisi datang membawa kantong jenazah lengkap dengan keranda beroda. Tiga kantong jenazah, satu kain kafan sisanya.

Ranjang jenazah kemudian melintas di hadapanku. Suara rodanya berdecit-decit bagai jeritan tertahan. Selintas, kafan yang menutupi jasad itu tersingkap diterpa angin. Dari balik kain yang tersingkap itu, sepasang mata mendelik menatapku. Seketika itu aku terdiam.

Ibuku tak pernah menatapku dengan ekspresi semenyeramkan itu.

SELESAI