Cerita Hantu Noni Belanda sebelumnya bisa kamu baca di sini:

Cerbung Horor Noni Belanda Penghuni Bangunan Tua (3): Ketuk Pintu Misterius dan Kembalinya Noni Cantik Belanda

Rasa penasaran pada Noni Belanda membuat Parno bertindak nekat. Ia mencoba mengecek, apakah benar foto tersebut adalah foto yang sama dengan foto Noni Belanda itu. Saat baru mulai melangkah, tiba-tiba terdengar suara rintihan dari luar kamar.

Parno menoleh cepat. Suara itu berasal dari luar kamar. Dengan rasa penasaran yang tinggi, ditinggalkannya kamar Katheline dengan keadaan terbuka.

Tak ada ruangan lain di dekat kamar Katheline kecuali toilet di sisi kanan kamar. Saat ia mencoba membuka pintu toilet, tiba-tiba kamar Katheline tertutup dengan sendirinya.

“Astaghfirullaah! opo opo!” Parno terkaget.

Keringatnya bercucuran melihat kamar yang baru ia tinggalkan, tiba-tiba sudah menutup sendiri pintunya.

“Maaf maaf, saya nggak bermaksuud ganggu, maaf,” ucap Parno sambil berlari kecil menuju ke luar. Rasa penasaran masih menyelimutinya, tapi ketakutannya sudah tak terbendung.

“Mending aku ngopi dulu biar tenang,” batin Parno.

Parno tak sadar, dari belakang, muncul sosok perempuan memperhatikannya. Wajahnya cantik, tapi kepalanya miring ke kanan. Lehernya hampir terputus.

Setibanya di warung tak jauh dari gedung tua, Parno segera menyahut seorang bapak-bapak tua yang sedang membersihkan gelas.

“Pak, ada kopi?”

“Iya Mas, pesen berapa?”

“Satu aja, Pak.”

“Dibungkus atau minum di sini?”

Parno gusar, Ia merasa dipermainkan.

“Sini, Pak. Pake gelas!”

Bapak tua tersebut terdiam. Ia melihat wajah Parno tanpa ekspresi. Parno kikuk, setengah takut. Ia merasa bersalah sudah menaikkan suaranya tadi.

Tak ada pembeli lain di warung tersebut. Hanya Parno seorang. Ia pun kembali merasa aneh.

“Sepi, Pak,” ujar Parno memberanikan diri.

“Iya, Mas.”

“Biasanya juga sepi gini, Pak?”

“Iya, Mas.”

“Wah, emang susah ya Pak kalau jualan di tempat sepi kayak gini. Serem juga. Bapak nggak takut ada setan? Saya baru aja keluar dari gedung tua, Pak, diisengin setan,” ujar Parno.

“Emang setannya kayak gimana, Mas?” tanya Pak Penjaga Warung sambil membuat kopi.

“Hii, jangan ditanyain, Pak, serem kalo inget,” jawab Parno.

Pak tua tersebut membalikkan tubuhnya ke arah Parno lalu bertanya.

“Kayak gini, Mas?”

Parno gemetar. Bapak tua penjaga warung tersebut berubah menjadi rata. Tanpa mulut, hidung, dan bola mata. Parno langsung ngibrit nggak karu-karuan, Ia lari meninggalkan peralatannya yang masih ada di warung itu.

“Jancok, jancok! Nasibku kok elek ngene! Astaghfirullah!” Parno berbicara pada dirinya sendiri.

Tak sadar, ia berlari kembali ke belakang gedung tua kolonial yang harus Ia ukur. Matanya melihat kanan kiri, gelap. Parno hampir tak bisa melihat apapun yang ada di sekitarnya. Ia merogoh saku kanan celanya, meraih korek gas.

Parno menghidupkan korek gasnya. Tepat saat koreknya menyala, di depannya, berdiri perempuan dengan pakaian adat Jawa. Wajahnya sudah agak sepuh. Ia melihat Parno kemudian tersenyum.

“Mas siapa nggih?” ujar sosok tersebut.

“Ma… Maaf, Bu. Saya cuma pekerja yang bertugas ngukur tanah di sini,” ujar Parno tergagap.

Sang ibu terdiam. Ia melihat wajah Parno dengan raut sedih.

“Mas, kasih tahu orang-orang yang punya niat buruk di gedung ini. Lebih baik mereka berhati-hati,” ujar ibu tersebut.

Ibu tersebut kemudian berlalu, Parno berusaha mengejar ibu-ibu tersebut, tapi nihil, si ibu menghilang.

Parno akhirnya memutuskan kembali ke warung. Kejadian ganjil pun kembali dialami Parno. Tak ada warung di lokasi tersebut, hanya tasnya yang tersisa di tanah kosong pinggir kali.

“Jiamput, aku temenan digudo dhemit! Ashuu!”

Semenjak kejadian tersebut, Parno tak lagi mau melanjutkan pekerjaannya. Bahkan, ia tak menyelesaikan pengukuran. Parno bahkan tak mau ikut bersama tim, membongkar gedung peninggalan kolonial tersebut.

Parno sampai beralasan pulang kampung pada atasannya agar bisa izin. Beberapa minggu kemudian, Parno mendengar banyak pekerja yang meninggal karena kecelakaan secara misterius saat proyek pembongkaran gedung tua peninggalan kolonial itu!

TAMAT