Pesugihan, dalam bentuk dan rupa apapun, selalu berakhir dengan tumbal atau korban. Termasuk pesugihan darah janin, yang hadir dalam kisah berikut.

Kisah kali ini berfokus pada pemuka agama, seorang pastor yang memilih jalan yang dilarang agama untuk mendapatkan kepuasan duniawi.

Alkisah, di salah satu kota di ujung selatan pulau Jawa, ada seorang pastor hidup berkecukupan. Masyarakat di sekitar sangat menghormatinya. Tiap tutur katanya, selalu menentramkan semua kalangan. Nasihat-nasihatnya selalu dinantikan.

Sesekali, sang pastor berkeliling di kampung, menyapa warga. Tak jarang pula ia membawakan berbagai kebutuhan, membantu orang-orang tanpa pamrih. Kedermawanannya ini membuat warga setempat begitu percaya kepadanya. Tak hanya dari umat Kristiani, tapi warga secara keseluruhan.

Sudah hampir sepuluh tahun Tanca alias Tan, nama pastor itu, ditugaskan jadi penyebar agama sekaligus memberikan petuah-petuah bagi umat di kampung itu. Selama sepuluh tahun, hampir tak ada kabar tak sedap yang menghampiri pastor dan anggota gereja tempatnya tinggal.

Tapi belakangan, Kampung Sumpahagung, tempat Pastor Tan tinggal, jadi panas karena kasus penculikan. Hingga saat ini, setidaknya empat anak dikabarkan hilang dan belum ditemukan. Polisi bahkan sempat memperpanjang masa pencarian korban hingga 7×24 jam, tapi hasilnya nihil.

Saat itu, semua warga hampir ikut serta mencari korban hingga menyusuri sungai, meski kecil kemungkinan mereka hanyut karena sungai tak sedang banjir. Beberapa saksi juga dipanggil, salah satunya Pastor Tan yang memang cukup dekat dengan anak-anak.

Semenjak kejadian tersebut, kampung Sumpahagung kembali mengaktifkan kegiatan kamling kampung guna memperketat keamanan sekitar.

Hari ini adalah giliran Mahbub, Zaki, Ulil, Sukro, dan Sajimin yang ronda. Seperti biasa, mereka berkumpul di pos ronda yang tak jauh dari kantor desa. Semua sudah berkumpul, tapi Zaki tak juga nampak batang hidungnya.

“Iki kok Zaki ra onok, mesti lak wedi bocahe,” gerutu Sukro.

Ulil dan Sajimin tak bergeming. Mereka sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sementara Mahbub mencoba meredakan emosi kawannya itu.

“Santai to, Zaki lak penganten anyar. Yo ben menikmati malam-malamnya bersama istrinya. Koe kan durung nduwe bojo, makane rausah protes. Wes ayok keliling sek, sekalian mampir neng warung, tuku kopi mbek udud,” ujar Mahbub.

Sukro tak protes. Mahbub memang yang paling tua di antara mereka. Seringkali pemikirannya dijadikan salah satu opsi yang dipilih ketika musyawarah desa.

“Cok, ayo! Dolanan wae!” teriak Sukro pada Ulil dan Jimin (panggilan akrab Sajimin).

Keduanya yang sedang asyik dengan gadgetnya langsung pasang tampang bloon. Mereka langsung menyusul Sukro dan Mahbub yang sudah jalan sebelumnya.

Bau tanah yang baru saja disiram gerimis sore tadi begitu lekat di hidung, menemani mereka menapaki jalanan yang basah dengan penerangan seadanya. Desa tempat tinggal mereka memang cukup jauh dari riuh kota. Untuk sampai ke pusat kota saja, setidaknya membutuhkan waktu 3-4 jam dengan kendaraan bermotor.

Dengan penerangan senter dan lampu pijar, suasana malam itu jadi lebih mencekam dari biasanya.

“Asline enak kelon ae iki, Mas. Perasaanku kok ra enak ngene,” sahut Jimin tiba-tiba.

Tak ada jawaban, tak ada satupun dari mereka yang merespon omongan Jimin.

“Eh, kok enek suoro wong nangis? Iki kan neng kebon kosong?” ujar Jimin lagi.

Teman-temannya masih tak ada yang menyahut. Mahbub menoleh ke Jimin, jari telunjuknya menempel di bibirnya. Memberinya tanda untuk diam. Mereka semua mendengar suara tangisan yang sama dengan Jimin. Bahkan sebelum mereka melewati kebun kosong tersebut.

Semakin mereka berjalan, suara tersebut terdengar semakin jauh. Suara tersebut seakan-akan mengejar mereka, tapi hanya Mahbub, Ulil dan Sukro yang mendengarnya. Dan tak ada satupun dari mereka yang berani bertanya: siapa yang menangis tengah malam begini?

Apakah ada hubungannya dengan kasus penculikan?