Keputusan Persebaya Surabaya memilih Djadjang Nurdjaman sebagai pelatih baru tidak melahirkan kontroversi. Ya, memang biasa-biasa saja. Siapa yang kaget dengan pemilihan itu? 

Faktor rumor yang lebih dulu mendahului pengumuman resmi klub bisa membuat Bonek lebih siap menerima keputusan itu. Apalagi, pelatih yang akrab disapa Djanur itu juga bukan sosok yang kontroversial. Banyak menimba pengalaman sebagai pemain dan pelatih Persib Bandung. 

Djanur juga sudah kerap membuktikan kualitasnya. Dia pernah meraih gelar juara bersama klub kebanggaan Bobotoh dan Viking itu.

Saat jadi pemain, Djanur adalah bagian integral tim yang menjadi juara Perserikatan 1986, 1989/1990, dan 1993/1994. Saat menjadi pelatih, pria berusia 53 tahun itu malah mempersembahkan trofi Indonesia Super League (ISL) 2014 dan Piala Presiden 2015.

Kondisi ini sebenarnya hampir mirip dengan penunjukan Angel Alfredo Vera untuk jabatan yang sama musim lalu. Alfredo datang dengan status tidak begitu populer di mata Bonek: tidak pernah bermain dan melatih Persebaya. 

Tapi, pria asal Argentina itu punya kualitas dengan modal pernah membawa Persipura Jayapura juara Indonesia Soccer Championship (ISC) A 2016. Hasilnya, Alfredo menjuarai Liga 2 2017 sekaligus tiket promosi ke Liga 1 2018 untuk Persebaya.

Jadi, apakah Djanur bakal sesukses Alfredo selama di Persebaya nanti?

Peluang itu sangat terbuka lebar. Kapasitas, kemampuan, dan track record-nya sebagai pelatih sudah berbicara banyak mengenai hal itu. Djanur memang sosok yang sangat cocok buat Persebaya saat ini.

Tapi, Djanur tetaplah orang baru bagi publik Surabaya. Dia masih “hijau” untuk mengetahui lebih jauh tentang Bajul Ijo.

 

Pertama, kebanyakan pemain Persebaya tidak begitu lancar berbahasa Inggris. Jadi, pelatih asing tentu akan menyulitkan komunikasi dengan pemain sendiri nantinya. Djanur pun tidak ada kendala dengan hal ini mengingat statusnya sebagai pelatih lokal.

Kedua, pelatih kelahiran Majalengka ini juga sudah mafhum betul dengan sepak bola Indonesia. Selama menjadi pemain dan pelatih, dia hanya pernah menghabiskan karier di tanah air. Jadi, tidak perlu diragukan lagi pemahaman beserta tetek bengek dan dinamika sepak bola di negeri sendiri.

Ketiga, Djanur juga merupakan salah satu orang kesayangan Bobotoh dan Viking. Seperti kita tahu, suporter Persib punya hubungan yang sangat baik dengan Bonek sehinggga dia akan mendapat perlakuan yang baik pula nantinya.

Tapi, Djanur tetaplah orang baru bagi publik Surabaya. Dia masih “hijau” untuk mengetahui lebih jauh tentang Persebaya. Selama ini, dia hanya pernah menjadi lawan bagi Persebaya. Di sini, dia bisa saja akan menemui kendala.

Bonek dan para pengamat Persebaya sangat sering menggaungkan gaya bermain ngeyel, ngosek, wani, yang kerap disematkan pada pemain Bajul Ijo. Kritik terhadap pelatih baru pun juga acap kali hanya bermuara pada permainan Persebaya yang tak sesuai kriteria itu. 

Makanya, jangan heran kalau Bonek membawa kerupuk ke tribun. Sebab, itulah simbol permainan Persebaya di era Alfredo: melempem. Masih mending dibawakan kerupuk blek yang besar dan putih. Belum sampek kerupuk upil. Kecil, warna warni alay, dan rasanya tak seenak kerupuk blek.

Nah, jika tak bisa menghadirkan gaya bermain yang ngotot dalam satu atau dua laga ke depan, Djanur bisa bernasib sama seperti Alfredo: panen kritik pedas. Apalagi jika kembali menuai kekalahan. 

Sebab, sepak bola itu juga berbicara mengenai kemenangan. Apalah arti permainan yang indah bila tim gagal menang. Permainan cantik hanyalah bonus saat tim berhasil menundukkan lawan. Sama seperti ketika tuntutan memecat Alfredo setelah kalah tiga laga beruntun.

Belum lagi Persebaya juga berusaha melakukan penyegaran dengan jajaran manajemen baru. Redaktur Jawa Pos Candra Wahyudi ditunjuk sebagai manajer tim menggantikan Chairul Basalamah. 

Manajemen baru dan pelatih baru bakal membutuhkan waktu yang agak lama untuk bisa klop dengan semua tuntutan Bonek.

Tapi, Djanur adalah sosok yang bisa memberikan warna baru bagi permainan Persebaya. Dia bisa memberikan filosofi permainan yang lebih membanggakan dengan statusnya yang bakal menyandang sebagai pelatih dengan lisensi AFC Pro.

Lagi pula, kehadiran Djanur di Persebaya rasanya tidak akan terlalu lama. Sebab, beberapa kali manajemen mengindikasikan bahwa peran Djanur lebih banyak sebagai mentor bagi asisten pelatih saat ini, Bejo Sugiantoro. Tujuan utamanya, Persebaya ingin memberi pengalaman kepada Bejo.

Dalam beberapa kali wawancara, manajemen tampak sedang menyiapkan program jangka panjang bersama Bejo. Bejo disiapkan sebagai ikon klub sekaligus pelatih utama. Apalagi, Bejo merupakan legenda Persebaya. Jika sang legenda mampu mengangkat tim yang dibesarkannya saat masih aktif bermain Bonek tentu bakal sangat gembira.

Ini seperti yang pernah dilakukan oleh Real Madrid dengan  Zinedine Zidane, atau Barcelona bersama Pep Guardiola. Hasilnya, Zidane memberi Real Madrid tiga Liga Champions dan Guardiola mampu membangun tim impian yang sampai sekarang tak ada yang bisa menyamainya.

Sayangnya, tidak banyak pelatih yang bisa mengikuti jejak dua sosok tersebut di Indonesia. Djanur hanyalah contoh kesuksesan besar. 

Jika kita ngintip tetangga, Arema, ada kisah serupa yang gagal. Joko “Getuk” Susilo bertahun-tahun jadi asisten pelatih dan musim lalu naik pangkat sebagai pelatih kepala. Hasilnya, Getuk malah anjlog jadi pelatih Arema U-19. 

Padaha, dia mengantongi lisensi kepelatihan AFC A.

Jadi, semoga program menjaga sustainable Persebaya bisa berjalan lancar dengan segala dinamikanya.