Banyak yang sambat duwe bojo galak. Yang selalu tanya lagi di mana, sama siapa, sedang apa, dan sudah makan apa belum. Semua harus dilaporkan. Termasuk hari ini sudah digigit nyamuk berapa kali juga harus laporan. Kalau nggak, rasakan mode mecucu selama seminggu. 

Tapi, Gaes. Segalak-galaknya bojo galak yang sampe jadi lagunya kultus diva dangdut baru Via Vallen, masih parah dosen galak. Memang, dosen galak belum ada lagunya. Tapi seriyes, ini jauh lebih serem daripada bojo galak. 

Kisah nyata ini saya alami dengan ibu dosen yang punya killer instinct melebihi Chuck Norris, Arnold Schwarzenegger, dan Conor McGregor yang digabungin jadi satu. Sebut saja namanya Mawar. Ibu Mawar merupakan salah satu aset di kampusku yang terkenal kontroversial.

Bu Mawar akan secara random menyuruh keliyan ngerjakan soal di depan. Dan kalau gak bisa, siap-siap dihujani hujatan bertubi-tubi yang jauh lebih parah dari mulut netizen.

 

Kelasku sih belum pernah diajar materi sama beliau secara langsung karena memang bukan dosen bidang study aku. Tapi kalau dijaga pas UAS, diseneni, didalili, sampe parahe dikaplok, kelasku wes ngalami kabeh. Tuwuk, Gaes.

Apakah kelasku nakal? Tentu tidak. Kan saya beri Combantrin!

Kelasku isinya anak-anak baik dan alim. Arek-arek e menengan. Namun, Bu Mawar tidak memberikan toleransi sedikit pun. Yang dimarahi bukan hanya kelasku. Hampir semua kelas yang letaknya berdekatan dengan tempatnya ngajar beliau pasti pernah kena semprot. Kalau ada yang cuma kena kaplok, ya itu berarti masih n00b.

Apa saja yang bikin Bu Mawar naik pitam? Banyak. Salah satunya tidak menguasai mata kuliah yang diajarkan. Padahal, selama dia memberikan materi, tentu kami sebagai mahasiswa teladan males dong nyatet-nyatet. Ribet. Mending scrolling di Instagram.

Lagi pula, paling enak motret papan tulis pake HP aja. Atau kalau nggak gitu, biar si pintar di kelas saja yang nyatet. Kita fotokopi saja saat mau ujian. Mantul. Mantap betul!

Tapi, itu semua tidak berguna di kelas Bu Mawar. Karena Bu Mawar akan secara random menyuruh keliyan ngerjakan soal di depan. Dan kalau gak bisa, siap-siap dihujani hujatan bertubi-tubi yang jauh lebih parah dari mulut netizen.

Apa kamu bilang? Kamu tidak khawatir karena kamu pintar? Einstein aja belum jaminan gak dimarahi. Apalagi kamu yang level kepintarannya masih 11-12 sama Farhat Abbas. Diketawain dong sama Fadli Zon!

Anak pintar di kelas Bu Mawar tidak lantas auto-kesayangan. Apalagi si pintar ini jadi sok pahlawan.

Suatu ketika, ada satu kelompok yang maju asistensi. Ngerjain laporan, eh ternyata gambar diagramnya sama semua. Woh jangan salah, seketika nilaimu jadi auto-C! Kerjaanmu dibilang sampah.

Ada salah seorang yang coba protes, “Bu, punya saya beda. Gak sama, Bu. Gak copy paste.” Bu mawar jawab, “Lah kok bisa punyamu beda?” 

Otomatis Bu Mawar ngambil laporan anak itu sing wes dicoret-coret, dilingkari guwedi padahal belum dibaca dan diteliti isine.

“Iya Bu, soalnya saya ngerjakan sendiri. Saya tidak copy paste punya senior,” ujarnya dengan PD.

“Mana beda? Sama saja ini. Gambarnya sama. Tidak copy paste apanya! Jangan sok kamu! Jangan berkhayal jadi pahlawan kesiangan!” jawab Bu Mawar. Skak mat cuy!

Yang mengerikan, Bu Mawar akan tiba-tiba melempar pertanyaan. Sungguh tidak terduga. Kamu yang asik melamun tentang kos-kosan yang belum dibayar tiba-tiba goblok ndadak gara-gara ditunjuk beliau.

Kalau mahasiswa e telat jawab seduwikiiiit saja, hmmmmm. Langsung wes, auto-nulis soal di papan sambil caci maki arek sak kelas. Nyindir nek mahasiswa saiki gaonok sing iso opo-opo.

Saat keadaan genting seperti itu dan si pintar maju untuk meredakan keadaan yang panas, Bu Mawar tak lantas jinak. “Ngapain kamu itu, Mas? JANGAN SOK JADI SANTA CLAUSE!”

Kekejaman Bu Mawar tak hanya terjadi di kelas. Di koridor ruang-ruang kelas, dia juga ditakuti. Bagaikan satpol PP yang mendisiplinkan PKL dan bangunan liar. Saat Bu Mawar lewat, semua orang akan minggir. Kurasa, dedemit juga menghindar saking takutnya.

Kenapa menghindar?

Ada cerita, ketika Bu Mawar lewat, ada mahasiswi berjilbab yang tydac sengaja menabrak. Yaapa nasibe? Nahas sodara-sodara! Si maba anak pak yai ini dindekno, ditegur, ditarik kudunge. Kata Bu Mawar, anak ini tidak mencerminkan seorang muslimah yang baik!

Kerudung mbake copot saking kencangnya Bu Mawar narik.

Iya, seemosional itu. Bu Mawar lebih dari cewek PMS yang diganggu pas lagi gak santai. Bojo galak atau pacar insecure mah nggak ada apa-apanya keleus! Kasus mahasiswa atau mahasiswi dikaplok? Halah sudah biasa.

Yang bikin kesian, rata-rata korban keganasan Bu Mawar adalah mahasiswa salah sasaran. Walaupun ada juga mahasiswi yang dikaplok karena kepergok kerokan di kelas.

Tapi, Gaes. Di balik kegalakan tersebut, Bu Mawar adalah pribadi yang baik. Bisa dibuktikan saat saya ngebantu acara beliau. Kon ngerti? Ngombe ae dijupukno, Rek. Dicepakno!

Setiap kata yang terucap selalu dibarengi senyuman. Suplai cemilan melimpah. Kami, anak kos yang setiap hari bertarung dengan ancaman malnutrisi, mulai pulih dengan kebaikan Bu Mawar. Beliau bisa berbeda 180 derajat dari biasanya yang marah gara-gara posisi keset kamar gak lurus.

Suami Bu Mawar juga baik. Setiap kami datang selalu disuguhi Teh Botol dingin dan manis. Tapi, manisnya langsung tak berasa ketika si bapak bertanya, “Sudah siap ketemu ibu? Kalau sudah siap saya panggilkan.” Gils gak se, bojone ae iso paham penderitaan dan ketakutan kami. Huwaaa!