Beberapa minggu yang lalu, sebuah website yang kini mulai jadi perhatian Istana Negara merilis sebuah tulisan yang benar-benar memilukan. Kisah anak horang kayah yang ikut bertarung dalam perebutan Bidikmisi. 

Gaes, sebagai warga yang hidup di negara yang kerap amnesia, saya harus mengingatkan lagi bahwa  Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan untuk anak-anak miskin. 

Kurang jelas lagi? Misqueen. Masih mau lebih jelas lagi? Anak-anak tak mampu adalah mereka yang nggak punya dana untuk kuliah ke jenjang lebih tinggi kecuali jika mau menjual ginjalnya. 

Dan jangan salah. Para penerima Bidikmisi bukan dari golongan yang suka menghambur-hamburkan dana dari pemerintah untuk hal-hal yang tidak berfaedah. Bagaimana kami bisa berbelanja jika untuk memenuhi kebutuhan pokok saja kami harus koret-koret.

Iya, koret-koret. 

Memang, kuliah kami gratis. Dan kami masih mendapat uang saku sebesar Rp 650.000 yang cair setiap tiga bulan sekali kalo lancar. Tapi tidak lantas dengan fasilitas itu kami bisa nongkrong syantik di kafe kekinian. Atau menggunakannya untuk berduaan dengan pacar. 

Bahkan, pengen berduaan dengan dirimu Iqbaal saja tak sedikitpun terlintas di benak kami. 

Bagi saya yang kebetulan kuliah di kota besar seperti di Surabaya, Rp 650.000 sebulan gak akan cukup untuk biaya makan plus kos. 

Beruntunglah mereka yang punya keluarga jauh di Surabaya. Bisa nebeng. Atau cowok-cowok penerima Bidikmisi yang bisa nunut di masjid sekaligus jadi marbot—yang kalau istiqamah bisa jadi akhi-akhi ganteng. Ghadul bashar saat bertemu akhwat. Subhanallah.

Bagaimana dengan saya, anak perantauan yang tak punya keluarga di Surabaya dan tak mungkin juga jadi takmir masjid. 

Aku bisa apa, Gaes?

Di Kota Surabaya jaman sekarang, berat bahkan gak mungkin hidup dengan cuma modal Rp 650.000 per bulan.

 

Biasanya kita anak rantau nyari rumah kontrakan barengan temen-temen. Kalau mentok ya tinggal di kos-kosan yang jikalau mobil-mobilan bukanlah mobil beneran lantas apakah kos-kosan juga bukan kos betulan? 

Duh, kotanya Cak Lontong ini memang!

Biaya kos di Surabaya juga ga bisa dibilang murah. Dari yang mahal berjuta-juta per bulan sampai yang standar Rp 500-700.000. 

Belum lagi kalau dana Bidikmisi telat dari pemerintah. Siap-siap aja cari kosan temen buat numpang tidur gegara kosmu digembok bapak kos karena udah tiga bulan nunggak. 

Masih untung sih daripada barangnya dikeluarin kaya mbak-mbak lantai bawah.

Di Kota Surabaya jaman sekarang, berat bahkan gak mungkin hidup dengan cuma modal Rp 650.000 per bulan. Memang lebih murah dari Jakarta, tapi tetap nggak masuk di budget dengan uang sebesar itu. 

Tempe penyet saja sudah tembus Rp 10.000. Kalau sebulan dengan makan sehari tiga kali saja sudah lebih dari budget. Apakah saya harus puasa ngrowot gaes? 

Makanya anak Bidikmisi harus bisa ngatur uang. Jangan sering-sering makan di warung nasi padang kalo gamau dompetmu cepat kering kerontang. 

Biasanya anak-anak Bidikmisi bukanlah survivor kelas teri. Mereka bisa cari makan dengan harga Rp 5.000 sudah dapet sayur, dadar jagung sama nasi. Juara di harga dan dijamin bikin kenyang untuk masalah porsi. 

Tapi kalo rasa ya dipikir keri. Namanya juga anak Bidikmisi. Kalo mau sering makan enak, banyakin aktif di kampus ikut kegiatan. Kan lumayan tiap ada event bisa dapet nasi bungkus atau kotakan. 

Dapet juga cemilan kalo pas lagi ada kajian. Deket sama warga lokal juga bisa jadi pertimbangkan, lumayan biasanya dapet nasi besek kalo ada selametan. Xixixixi.

Anak Bidikmisi makin menderita kalau pencairan telat.

Giliran tepat waktu uang kita dibuat bayangan sama kampus. Maksudnya, saldonya dicetak di buku tabungan tapi di ATM saldo kosong. :'(

Coba jadio anak teknik sing entuk mata kuliah mekanika fluida dengan dosen yang selalu absen. Satu semester cuma masuk 5 kali.

 

Selain itu, kami juga dituntut untuk berprestasi. Berprestasi di sini bukan berarti harus pinter jadi juara karya ilmiah mahasiswa, lomba cerdas cermat, klompencapir, kuis bola, atau menang give away yang diadakan para selebgram. 

Juara memang jadi nilai tambah. Tapi yang diharapkan bukan itu maksudnya.

Berprestasi adalah indeks prestasi (IP) kita ga boleh turun tiap semester. IP yang dipatok pemerintah sih minimal 2,75 . Tapi di kampusku mintanya IP minimal 3,00. 

“Halah mek IP minimal 3 ae. Kacek titik ae lho!” mungkin kalimat itu bakal kalian ucapkan kalo kalian mahasiswa yang pintar atau kuliah di tempat dengan dosen Robin Hood—mengambil nilai dari para siswa yang pintar dan membagikannya kepada siswa yang bodoh.

Meski terlihat beda tipis, tapi enggak setipis itu. Lirik lagu Peterpan aku menunggumu dan asu menunggumu juga bedanya tipis. Tapi kan maknanya jauh banget gaes! Begitu pula selisih 0,25 poin di IP. 

Kalau kalian melontarkan kalimat itu ke saya, jangan harap bakal kujawab dengan senyum ramah nan manjah ala cewek-cewek dolanan Tik Tok. Ndasmu sempal a! 

Coba jadio anak teknik sing entuk mata kuliah mekanika fluida dengan dosen yang selalu absen. Satu semester cuma masuk 5 kali. Itupun masuknya di 15 menit terakhir. Memangnya Anda Sir Alex Ferguson yang pengen anak buahnya mencetak gol di injury time?

Gak gagal di matkulnya dan ga ikut semester pendek aja udah bersyukur. Bisa sedikit leren menikmati “me time”. Yakali me time-nya seperti Incess. Ini resik-resik kos yang bangun tidur selalu ada cupang kenangan baru dari nyamuk yang semalem mencumbu. Saking betahe mereka bersarang di baju-baju yang menggantung di kamarmu. 

Semester pendek itu bayar, per SKS Rp 60.000. Satu matkul 2 SKS. Berarti kamu harus mengeluarkan biaya Rp 120.000.

 

Satu lagi tentang semester pendek. Semester pendek itu bayar, per SKS Rp 60.000. Satu matkul 2 SKS. Berarti kamu harus mengeluarkan biaya Rp 120.000. Biaya yang lumayan banget buat anak Bidikmisi. 

Duit segitu bisa dipake ongkos pulang ketemu simbok! Kalo kalian anak taipan, uang sebesar itu cuma jadi biaya langganan kuota mobile internet seminggu!

Ya, intinya harus bisa pandai-pandai bergaul. Pandai bersyukur. Selalu ingat Tuhan dan orang tua. Yakinin dalam hati, kalau ga ada gembok yang diciptakan tanpa kunci. Ga ada masalah tanpa solusi. Gak mungkin jomblo diciptakan tanpa pasangan, meski untuk sementara masih jadi milik orang.

Sebenernya masih banyak sih lika-liku jadi anak Bidikmisi. Tapi cukup gausah diceritain, bisa sedih nanti. Aku takut kamu jadi ikut sedi… Hihiihihiksss. :’)