Habis gelap(-gelapan) mati lampu, terbitlah hujatan netizen. Habis third wave coffee, terbitlah fenomena es kopi. Eh, bukan. Tren third wave coffee belum habis, tapi tren es kopi sudah mencungul dan menjamur seperti herpes.

Ajaib memang, tapi begitulah dunia berjalan. Ya, namanya juga dunia. Harus terus berjalan. Kalau nggak berjalan, ya berarti kiamat. Beres.

Sejatinya, fenomena menjamurnya kedai-kedai es kopi ini cukup menarik untuk dicermati. Soalnya, di saat kedai-kedai kopi artisan ala third wave harus berjuang mati-matian untuk bertahan hidup, harus nunggu keajaiban lewat film Filosofi Kopi dulu supaya bisa dikenal lebih banyak orang, tapi akhirnya banyak yang harus menyerah dan tutup.

Ndilalah kedai-kedai es kopi susu justru tanpa perlu bantuan Aladdin dengan entengnya buka cabang di mana-mana.
Wow! Keren! Amazing! Fantastico! Daebak! Kimochi!

Nah, sebagai seorang coffee enthusiast (halah) sejak badannya Chef Arnold belum segede sekarang, rasanya kurang afdol kalau tidak ikut memberikan sumbangsih pemikiran atas fenomena yang sedang terjadi akhir-akhir ini.

Saya bakal menyajikan beberapa hal yang kira-kira bisa dikatakan sebagai faktor kenapa es kopi ini bisa booming sekali. Tentu berdasarkan hasil riset. Ya, riset kecil-kecilan. Saking kecilnya, maka jangan terlalu dianggap serius. Sing santuy. Eman-eman BPJS-mu.

1. Harga

Oh yoi. Faktor yang satu ini sudah jelas-jelas menjadi pembeda yang kentara antara kedai kopi third wave dan es kopi. Kalau diibaratkan, faktor harga ini sama seperti seorang playmaker di sebuah tim sepak bola. Seperti Misaki, temannya Tsubasa yang sakit jantung itu padahal masih bocah.

Kasihan…

Misaki, eh, maksudnya harga, adalah playmaker yang menjadikan kedai-kedai es kopi mengungguli third wave.

Bayangkan saudara-saudaraku, bayangkan, hanya dengan bermodal 10 ribu rupiah dikau sudah bisa menikmati segelas kopi lengkap dengan susu, gula, dan es batu. Bandingkan dengan 20 ribu yang kau keluarkan hanya untuk bisa menikmati sebuah cangkir mikro berisi espresso, yang bahkan nggak ada es-nya sama sekali! Hih!

2. Selera

Kalau faktor yang satu ini, tidak perlu dipertanyakan lagi. Bagi para Homo Sapiens negara kepulauan berkode +62 ini, kalau ditanya soal kopi, tentu jawaban standarnya adalah: kopi dan gula. Kalau ditambah susu, wah sedapnya.

Konsep inilah yang membuat kedai-kedai es kopi mengalahkan kedai-kedai third wave dalam segi penerimaan oleh konsumen. Karena sejak awal kemunculannya, kedai-kedai third wave ini sudah mencoba mendobrak tradisi lama dengan menyajikan menu-menu kopi (dan kopi susu) tanpa gula ala Italiano. Ya jelas susah, karena masih harus mengedukasi pasar lagi supaya bisa diterima secara luas.

Meskipun kebanyakan mereka menggunakan mesin-mesin espresso yang harganya bisa “semurah” Alphard, teknik-teknik seduh yang amat sangat zen nan artsy, biji-biji kopi terbaik dan spesial dari seluruh dunia akhirat, tapi kalau lidah Homo Sapiens negara +62 masih belum familiar, ya gimana ya…

Ibaratnya kita mau mengenalkan sunny side up ke orang yang biasa makan endog ceplok sego pecel, kesan pertama (dan kedua, ketiga, keempat) yang muncul ya pasti gilo boss!

Sementara kedai-kedai es kopi susu, selow aja. Nggak perlu ndakik-ndakik pakai kopi ini-itu, teknik ina-inu, yang belum tentu bisa disentuh banyak kalangan. Tinggal campur kopi, susu, gula, es batu. Kocok kocok kocok, coblos, sedot!

3. Modal dan Passion

Faktor passion ini lebih mengarah ke sang empunya masing-masing kedai, sih. Baik kopi third wave atau es kopi.

Menurut hasil riset dari ngobrol-ngobrol dengan beberapa coffee shop owner, mereka yang terjun di bidang third wave biasanya adalah orang-orang yang benar-benar mencintai kopi sak tetek-bengeknya. Para owner ini, umumnya memang orang-orang yang sudah berduit.

Mereka bukan cuma rela ngeluarin duit buat beli peralatan kopi yang mahalnya alala bum bum, ikut kursus barista yang harganya berjuta-juta, terbang ke sana kemari mencari alamat mengikuti setiap coffee event. Bahkan mereka juga rela terjun langsung ke kebun-kebun para petani kopi.

Iya, nggak salah lagi. Mendaki gunung melewati lembah demi bertemu para petani kopi demi mencari biji-biji kopi paling specialty. Berteman dengan suara soprano nyamuk dan kenangan ndusel mantan di tengah hawa dingin pegunungan, berbaur dengan kesederhanaan hidup orang desa yang Instagrammable buat para penghuni kota.

Banyak juga di antara mereka yang bahkan rela merogoh kocek dan meluangkan banyak waktu buat mendampingi dan membangun infrastruktur sederhana buat para petani, supaya hasil panen kopinya bisa jauh lebih baik dan harganya bisa jadi lebih mahal. Siapa tahu nanti bisa buat nyicil Ferrari.

Jadi jangan kagetan kalau kita ngopi di kafe, harga secangkir espresso bisa buat makan pecel 2 porsi. Ya modalnya, apalagi effort-nya, priceless boss!

Nah, saking passionate-nya mereka terhadap kopi, hampir mustahil kita bisa menemukan seorang pemilik coffee shop menganggap pemilik kedai lain sebagai saingan. Yang ada, mereka justru berteman. Saling nyambangi ke kafe masing-masing. Saling bertukar ilmu. Tukar kopi. Tukar nasib…

Nggak jarang setiap coffee event malah menjadi ajang gosip khas reuni alumni SMA plus arisan. Yang digosipin jelas seputar brewing, chanelling, acidity, taste notes, dan segambreng bahasa-bahasa yang cuma dimengerti oleh bangsa Piccolo (anyway, Piccolo juga nama salah satu menu kopi, siapa tahu kalau kita minum, setelahnya bakalan muncul naga Shen Long lalu teriak “ashiaaaap”).

Kalau kedai es kopi, gimana? Kalau ini, nggak perlu keluar duit terlalu banyak. Nggak perlu mesin kopi seharga Alphard. Nggak perlu biji kopi yang harga green bean-nya aja bisa sampe 800 ribu sekilo. Owner senang, franchisee senang, customer senang, om-om senang. Yang penting adalah 3C. Cengli, cincai, cuan!

4. Pendekar

Kalau yang ini sebenarnya bukan faktor pembeda. Ini adalah fenomena yang terjadi ada di kalangan kafe-kafe third wave. Tapi terlalu lucu untuk dilewatkan, terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan, setelah aku jauh berjalan, dan kau… Kutinggalkan…

Oke. Next.

Istilah pendekar sebenarnya adalah coffee snob, yaitu sejenis manusia yang kalau datang ke coffee shop selalu pesan kopi dengan permintaan yang ajaib, dan suka kasih komentar-seringkali komentarnya judes. Supaya terkesan kalau mereka itu paham betul soal perkopian. Padahal mah, hohohoho…

Seorang pendekar, kurang afdol rasanya kalau belum pesan kopi dengan kriteria-kriteria tertentu, yang semau mereka. Kayak biji kopinya harus ini lah, ditanyain ditanamnya di ketinggian berapa mdpl lah, brewingnya harus pake metode ini lah, suhu airnya harus segini lah, cangkirnya harus pakai cangkirnya mbahe lah.

Belum lagi komentarnya kalau rasa kopinya nggak enak atau desain kafenya kurang indie dan artistik menurut dia. Padahal, bisa jadi itu karena lidahnya aja yang lagi keseleo dan selama ini dia hidup di negeri Wano Kuni yang dikuasai Kaido.

Sementara di antara peta keduniawian kedai-kedai es kopi, mustahil kita bisa nemu pendekar semacam ini. Nggak lucu dong, orang beli es kopi susu gula aren, lalu minta ke mas-masnya kayak,

“Mas, saya maunya pake kopi robusta dari Flores ya. Terus kopinya 30 ml saja. Jangan kurang atau lebih satu mili! Susunya saya mau merk ini, gulanya harus dari aren yang ditanam di Jogja, biar berasa kenangannya. Oh ya, dan es batunya, harus sama. Masing-masing ukurannya harus punya diameter 3 cm, jangan kurang, dan beratnya harus sama juga, 30 gram. Oh ya, es batunya 3 biji aja ya. Pokoknya semuanya harus serba ganjil, biar sunnah!”

Iso-iso dibalang karo mesin pres-presan lek ngono carane!

Tapi, pada akhirnya, mau kopi specialty atau es kopi-kopian, nggak ada satu pun yang salah. Karena kalau salah -1. Nggak dijawab 0. Dan kalau benar +4. Maksudnya, yang mana pun selera ngopimu, balik lagi ke preferensi masing-masing. Mau ngopi sasetan juga nggak apa-apa, asal jangan komplain kalau tahu-tahu diabetes karena kopi saset manisnya dibuat-buat. Seperti senyum ramah HRD menyambut karyawan yang mau dipecat.

Dan seperti kata mas Muhammad Aga, barista kekinian yang femes itu, es kopi susu bisa jadi pintu masuk buat mereka yang awalnya nggak terlalu suka kopi, untuk menyukai kopi, dan lambat laun bisa jadi jalan buat mempelajari kopi spesialti.

Toh, seni sejati dari perkopian Indonesia yang nggak ada di negara manapun adalah dua hal: gorengan dan guyonan.