Kisruh antara PT, eh, PB Djarum dan KPAI memang sudah berlalu. Namun, selama proses kericuhan itu, saya berhasil mengamati satu fakta menarik, yaitu ada sebagian massa pendukung KPAI yang tidak cukup paham masalah, tapi asal tubruk saja. Penyebabnya satu: mereka telanjur benci sama perokok.

Tenang, jangan tegang dulu. Saya perokok, tapi tidak sedang berusaha defensif menghadapi kebencian semacam itu. Pada realitasnya, harus saya akui bahwa memang ada banyak rekan saya sesama perokok yang memancing kesebalan-kesebalan tertentu.

Karena kesadaran itulah, di mimbar yang mulia ini saya ingin mengajak segenap jamaah perokok untuk bermuhasabah, sehingga nanti kita tumbuh jadi insan-insan ahlul hisap yang lebih bermartabat.

Langkah menuju derajat perokok adiluhung itu semata-mata terkait kepekaan sosial dan kesadaran akan ruang. Ini mungkin bakal menyerempet segenap peraturan. Tapi kita lupakan dulu peraturan. Ada hal yang lebih tinggi dibanding peraturan, yaitu tata krama.

Saya mulai. Begini.

Sebagai perokok, kita mesti paham bahwa asap rokok kita tidak bisa kita telan sendiri. Ia akan kita hisap dengan nikmat, kita tiup keluar, lalu pelan-pelan asap itu merayap naik ke angkasa dan meraih keabadian sejati nun di atas sana.

Masalahnya, sebelum mencapai keabadian, asap yang harum dan menenangkan batin serta meningkatkan maqom spiritual kita itu kadangkala mampir-mampir dulu. Sering mampir ke kiri, tak jarang pula mampir ke kanan. Masih mending kalau kiri-kanannya sesama perokok. Lah kalau bukan?

Di dunia ini, tidak semua orang bisa kita paksa punya selera yang sama, tidak bisa pula kita wajibkan punya keyakinan yang sama. Jangankan cuma soal rokok. Sampeyan pakai minyak srimpi atau minyak PPO sembarangan, atau kekenyangan makan duren lalu glegeken sembarangan, itu aja sudah rentan mengganggu kemaslahatan dalam hidup bersama. Apalagi asap rokok.

Tidak semua orang terbuka mata hatinya untuk menyadari keharuman aroma rokok, bahkan banyak di antara mereka yang haqqul yaqin bahwa asap rokok membawa efek kehancuran alam semesta melampaui kedatangan Dajjal.

Sementara, dalam soal keyakinan, kita harus saling menghormati. Ini salah satu prinsip kemajemukan. Makanya, saya mengimbau umat saya sekalian, agar lihat-lihat suasana dulu kalau mau menyalakan lintingan tembakau kita.

Periksa dulu, apakah ada banyak orang non-perokok di sekitar kita? Apakah kita sedang berada di kawasan yang tidak pantas untuk merokok, misalnya di ruangan publik yang tertutup, di dalam kendaraan umum, apalagi di situ ada ibu hamil dan anak-anak?

Banyak orang jadi antirokok hanya karena melihat para perokok suka ignorant, semau-maunya merokok tak kenal tempat dan suasana. Itu poinnya. Lalu, dengan shortcut mereka membenci rokoknya. Padahal, yang seperti itu sesungguhnya problem umum dalam perkara etika publik, alias tidak spesifik ke soal rokok.

Memang banyak orang merokok sembarangan. Namun ingat, banyak juga orang buang sampah sembarangan, banyak orang misuh sembarangan, banyak orang nge-twit sembarangan, banyak orang pasang baliho bergambar mukanya sendiri lalu memajang janji-janji sembarangan, dan sebagainya.

Herannya, kalau banyak orang sembarangan buang bungkus permen, kenapa tidak lantas ada gerakan anti-permen? Banyak orang nge-twit sembarangan, kenapa tidak trus berdiri organisasi nirlaba Twitter Control Indonesia? Itu yang amat saya herankeun.

Tapi sudahlah. Kita tidak perlu memperpanjang keheranan-keheranan yang tidak efisien semacam itu. Sebagaimana kaum perokok tidak pernah demo bakar ban tiap kali harga rokok naik, kali ini daripada protes, lebih baik kita menjaga marwah perokok sedunia dengan mengatur diri sendiri agar sedikit lebih berbudaya.

Tak terkecuali soal nyampah. Lazim kita lakukan, kita membuang puntung sembarangan. Kenapa? Ya karena kecil saja itu ukuran puntung. Tidak cukup signifikan tampilan puntung dalam merusak kecantikan lingkungan.

Masalahnya, ternyata puntung filter rokok baru akan bisa terurai setelah 10 tahun. Ini yang jadi masalah. Karena itu, jauh lebih baik kita membuangnya di tempat yang semestinya, agar para antirokok itu tidak membesar-besarkannya. Sebab, puntung-puntung rokok jugalah yang pada akhirnya menjadi etalase kaum kita, kan?

Memang sih, beda nasibnya dengan plastik bungkus permen atau indomi. Meski plastik baru akan terurai setelah 20 hingga 1000 tahun, toh tetap saja puntung rokok dilihat jauh lebih berbahaya. Lha wong rokoknya saja sudah dianggap lebih mengerikan ketimbang Dajjal, apalagi puntungnya!

Tapi lagi-lagi tak apa. Kita bisa membuktikan bahwa kita ini perokok yang sayang lingkungan. Atau kalau mau lebih enak, ganti saja pakai rokok lintingan manual yang nggak pakai filter. Atau kalau seleranya tetap yang filter, lain kali pas beli rokok, filternya dicopoti saja dan dikembalikan ke penjualnya. Insya Allah dapat cash back.

Terakhir, soal merokok sambil bermotor. Ini terus terang juga nggapleki. Jangankan antirokok, lha wong saya yang sesama perokok saja pernah kelilipan abu rokok dari orang bermotor di depan saya! Itu kan ngawur. Dia pasti nggak tahu siapa saya.

Dan sama pula, yang begini ini urusan etika publik lagi. Orang merokok sambil motoran itu sama saja dengan truk bawa pasir dan kerikil tapi baknya terbuka, lalu kalau kena angin pasirnya mubal-mubal.

Tak bedanya dengan mobil pick up bawa batangan-batangan besi atau bambu lonjoran, yang kalau ikatannya lepas bakalan rentan melorot dan ndodor cangkemmu. Mirip juga dengan pick up yang mengangkut sapi tanpa ditutupi bagian belakangnya, dan kalau sapinya pipis di jalan sudah tentu kiri kanannya mengira gerimis tiba.

Semuanya sama-sama menyebalkan, meski sebagian manusia hebat lebih rela mulutnya mangap kena cipratan uyuh sapi daripada kesamber abu rokok.

Sudah, sudah. Akhir kata, sebagai Ketua Dewan Kehormatan Kaum Perokok, saya mengajak kaum perokok se-Indonesia agar berjuang memperganteng diri, sehingga kaum antirokok tidak sedikit-sedikit menyalahkan kita lagi kita lagi. Tentu, semua itu kita jalankan sambil menunggu ketersediaan ruang-ruang merokok yang cukup, layak, dan manusiawi.

Salam ngebul.