Melihat para balita sudah kecanduan gadget kadang membuat kita yang sok dewasa berpikiran yang bukan-bukan. Bagaimana tidak, bocah sekecil itu sudah berkelahi dengan waktu untuk bermain di luar rumah—dan diganti dengan bermain gadget.

Pada lebaran kemarin, muncul video viral dari anak balita yang menangis sambil membentak-bentak ketika mudik ke desa orangtuanya. Sang anak marah-marah ketika digendong masuk ke dalam mobil dan terus berteriak, “ndak ada sinyal, ndak ada jaringaaan..”

Fenomena seperti ini menurut ilmu psikologi disebut efek tantrum karena adanya reaksi lepas zat. Reaksi ini sebenarnya sama dengan sakau karena narkoba. Reaksi ini dipicu efek psikologi pada perilakunya akibat lepas dari sumber kenikmatan. Reaksi ini bermain di neurotransmiter sistem otak yang bernama reward system.

Neurotransmiter yang berperan di sini lekat dengan undur dopamin dan serotonin. Hormon serotonin berfungsi mengatur suasana hati dan mencegah depresi pada diri. Sementara serotonin adalah kunci hormon kebahagiaan.

Sedangkan dopamin yang lebih dikenal sebagai hormon kesenangan, dilepaskan ketika kamu berusaha mencapai tujuan. Hormon ini memotivasimu untuk bekerja keras mencapai tujuan dan membuatmu waspada dan fokus pada suatu hal.

Jadi, ketika hal yang menyenangkan ini masuk, reseptor langsung mengatur hormon untuk keluar. Nah, pada gadget, hormon ini juga bereaksi. Inilah yang membuat gadget jadi semacam narkoba jenis baru.

Gelombang sinyal yang ada di mata ternyata mempunyai sistem yang sama di reward system. Bisa menimbulkan gejala yang sama dengan narkoba, yaitu rasa senang dan euphoria.

Bahaya kecanduan gadget ini memang sudah menyerang anak di segala usia, dari balita, PAUD, hingga TK, semua bisa terjangkit. Semua usia memang juga bisa terjangkit kecanduan gadget, termasuk orang dewasa, tapi untuk balita rasanya lebih berbahaya.

  1. Lila Nurmayanti, Sp. KJ, salah satu psikeater di RSJ Menur Surabaya, menjelaskan kompleksitas bahaya pemakaian gadget pada anak pada usiagolden periodini.

“Sampai usia tiga tahun, alangkah lebih baik anak tidak mengenal ponsel. Tapi anak sekarang, sedari kecil sudah kenal dengan itu. Apalagi sekarang ini, banyak anak yang hanya bisa ditenangkan lewat gadget,” ujarnya.

Anak semestinya punya batas pemakaian gadget. Screen time (batas pemakaian ponsel pada anak) semestinya harus diatur oleh para orang tua. Batas pemakaian ini antara anak satu dan lainnya punya kadar waktu yang berbeda-beda.

Aturan pembatasan screen time pada anak ini semestinya menjadi perhatian para orangtua. Karena semakin dini anak terpapar cahaya screen gadget, semakin dini pula anak itu mendapatkan adiksi atau kecanduan gadget.

Pola asuh inilah yang kadang membuat anak berkelakuan seperti itu. Orangtua jarang memberikan kasih sayang lewat kontak fisik pada anak. Perhatian orangtua teralihkan karena sibuk dengan gadgetnya masing-masing.

Ini bisa membuat sang anak tidak bisa bersosialisasi dengan baik. Padahal pada anak usia dini, pelajaran bersosialisasi terbaik tidak lain tidak bukan memang dari orangtuanya.

Nah, kecanduan gadget ini membuat anak menjadi kesulitan bersosialisasi. Soft skill untuk bersosialisasi menjadi kurang. Ini membuat mereka hanya bisa berkomunikasi di dunia maya, padahal komunikasi di dunia maya dan nyata itu jelas beda.

  1. Lila menjelaskan bahwa pola asuh yang cocok bagi anak adalah otoritatif, yang sering disebut pola asuh demokrasi. Orang tua yang menggunakan pola asuh ini, membebaskan sang anak untuk menentukan kehendak mereka sendiri dan melakukan apa yang mereka inginkan.

Meski begitu, orang tua tetap berperan sebagai pembimbing yang mengontrol serta membimbing mereka dalam menentukan hal yang baik dan buruk.

“Proses otoritatif ini membuat anak menjadi bisa mandiri, meski tetap harus tahu kapasitas anak. Posisi orang tua harus terus mendampingi anak. Pola asuh ini tidak otoriter, meski juga tidak memanjakan anak,” ujar dr. Lila.

Anak kecil itu baiknya harus diberi contoh, karena mereka sejatinya memang peniru yang baik. Yang berjalan dalam diri anak ini sejatinya adalah sensori integrasi, yaitu hubungan antara perilaku anak dengan perkembangan fungsi otak.

Fungsi luhur otak diantaranya adalah kemampuan berbahasa, berpikir secara emotif, berkomunikasi secara spontan, kreatif, fleksibel, dan mampu memahami konsep-konsep abstrak. Fungsi ini merupakan ketrampilan yang harus dikuasai anak dalam setiap perkembangannya.

Pengembangan sensor ini semestinya didapat anak dari lingkungan yang bermacam-macam. Nah, lingkungan yang bervariasi ini bisa menimbulkan koneksi dari serabut saraf, untuk menemukan banyak hal. Anak memang harus dikenalkan dengan banyak hal sejak dini. Tentu saja selain smartphone.

Anak harus bisa merasakan sendiri lembutnya pasir, kerasnya kerikil, panasnya air yang telah dididihkan, dinginnya es, dan angin yang terus bergerak. Hal semacam inilah yang tidak didapat di dalam tampilan gadget.

Adiksi yang semakin besar terhadap gadget ini, semestinya diprediksi para orangtua. Apakah adiksinya masih dalam tahap wajar atau tidak. Faktor-faktor kecanduan ini bisa memberi risiko adanya kerusakan pada sistem otak anak, yang tentunya berisiko gangguan jiwa.

Semakin tidak sadar bahwa gadget memberikan dampak buruk, justru semakin berbahaya. Karena adiksi ini mempengaruhi kualitas hidup dan mempunyai efek mendapatkan gangguan jiwa juga semakin besar.

Golden period anak yang berusia 1-6 tahun, harus terlampaui dengan baik supaya ke depannya tumbuh sang anak bisa berkualitas. Golden period ini semestinya tidak boleh diganggu dengan hal-hal yang negatif, seperti gadget.

Orangtua pun harus tahu cara menegur anak. Cara menegur yang baik ini disebut asertif, yaitu memberi tahu anak tanpa melukai hatinya.

Tapi, menyebut gadget sebagai sumber masalah merupakan blaming on something. Karena kalau melihat fungsinya, gadget mempunyai kegunaan yang tentunya sangat berguna bagi manusia. Seperti pisa, jika kita tahu cara menggunakannya akan sangat berguna bagi manusia. Tapi jika melihat bentuk fisiknya, pisau juga bisa membunuh.

Orang tua harusnya mendidik anak sedari dini sebagai pengasuh anak yang nomor satu. Karena yang bisa menentukan kualitas hidup dan kesuksesan seorang anak adalah pola asuh orangtuanya.