Karena satu dan buanyak hal lainnya, maka tak semua orang bisa menikmati musim liburan akhir tahun. Ada yang cutinya udah habis, berada dalam kondisi yang nggak memungkinkan keluar kota, keluar negeri, atau kehabisan bujet. Hal-hal yang rasanya mau tak mau mesti diterima dengan lapang dada karena ya wis lah ancene kudu koyok ngunu.

Namun, ada siksaan tersendiri yang dirasakan para kaum merana ini. Apalagi kalau bukan melihat foto atau video orang liburan. Segala syak wasangka nggak penting bin negatif pun memenuhi hidup yang sudah dipenuhi dengan segala kesambatan ini. Level sakitnya berbeda-beda, tergantung di mana menemukan postingan itu.

Ya ampun sis, sirik amat sih lau. Mereka senang-senang pake duitnya sendiri kok kamu sakit hati. Kurang piknik kamu. Yes, saya memang kurang piknik jadi sah ya kalo saya ngiri smpe nganan sama para pelibur itu hehe..

Sebagai salah satu terapi mengenakkan hati, maka saya tulis saja level kenyesekan melihat keriuhan holiday season di media sosial itu ya.

Warming Up

Postingan-postingan di Twitter atau Facebook ada di level ini. Checked in to Bandar Udara A, B, C, D, dst sangat mudah dibuat siapapun. Tidak harus benar-benar datang ke lokasi. Fasilitas ini bisa dimunculkan meski realnya kita sedang krukupan selimut, kademen di kasur belum sarapan karena nunggu Go Food datang.

Jadi melihat yang begini enteng aja sih rasanya.

Levelnya baru akan sedikit bergelora ketika postingan itu ditambah dengan foto tiket pesawat. Wadaw beneran liburan nih. Kalau sudah begini hibur saja hati dengan kalimat, norak amat sih pamer tiket pesawat.

Tahukah kamu, tanpa checked in di Facebook atau menunjukkan tiket ke friends, kamu sudah bisa naik pesawat bray.

Biasanya setelah itu akan menyusul foto-foto di tempat liburannya. Tapi memang nggak akan banyak dan umumnya untuk momen yang benar-benar berkesan. Itu karena di Facebook mengunggah foto atau video harus mengambilnya dulu dari galeri.

Ada sih fasilitas stories dan live tapi belum sepopuler posting di feed. Hasil fotonya juga mendekati kenyataan karena tak banyak filter yang disediakan.

Kecuali kalo sejak awal motretnya pake beautyplus dan gengnya. Tapi hey, masak motret pegunungan aja dibikin cantik absolut tanpa pori-pori?

Selain itu, Friends di Facebook adalah orang yang memang benar dikenal atau setidaknya tahu. Kecuali Facebooknya uda jadi fanpage atau pemiliknya memang seleb FB yang mengizinkan ribuan orang jadi follower-nya.

Maka nulis deskripsi foto itu biasanya berkualitas. Cerita tentang destinasi wisatanya atau berbagi tip bagaimana bisa menikmati jujukan dengan asyik. Hikmahnya adalah postingan ini bisa menambah pengetahuan kita kalau suatu ketika punya kesempatan datang ke tempat yang sama (bantu ucapkan aamiin, please….)

Core Season

Jika perasaan terasa masih baik-baik saja setelah melihat Facebook dan Twitter, maka tak ada salahnya menaikkan tantangan dengan membuka Instagram.

Hladalah, di sinilah tempat paling tepat mengukur kebersihan hati. Segala foto dan video yang diunggah di IG pastinya merupakan karya terbaik yang dipilih dari sebuah situasyen.

Jarang sekali sekarang melihat ada yang menaikkan foto di feed IG tanpa melalui editing. Suasana tempat wisata yang syahdu bisa makin kuat kesannya saat dinaikkan dengan filter sephia. Yang gemerlap, glamor, tenang, semuanya bisa jadi jauhhh lebih epik di foto-foto itu daripada aslinya.

Sebagian IG-ers punya konsep dalam fotonya. Ada yang fokus mengunggah foto-foto makanan, ada yang pamer kemampuan mengambil view-view dahsyat, ada juga yang concern dengan OOTD. Percayalah, untuk hati yang lebih sering didominasi sambat ketimbang semangat, postingan begini akan membuat kita ngenes sengenesnya.

Pertanyaan-pernyataany julid pun nggak bisa dihindarkan dari pikiran. Kerjanya apa sihhhh bisa banget jalan-jalan kayak gitu, anaknya siapa sih kok kece amat selalu, sampai siapa atuh sugar daddy-nya *ups

Siksaan level tertinggi dari IG ini adalah bagian InstaStorynya. Akun-akun para pelibur terutama jika kamu follow artis Indonesia atau selebgram maka storynya uda mirip semut berjalan. Segala-segala diunggah. Sampe cuma gedek-gedek denger lagu Queen aja dibagikan.

Ok, I’m fine kalau cuma gedek-gedek boomerang gtu. Yang bikin nggak fine adalah gedek-gedeknya dalam liburan penuh kemewahan di London, Paris, sampai Atlanta. Fixed, I’m jealous all the way!!!

Cooling Down

Tapi ya tapi di antara liburan yang tampak indah semua itu pasti ada kerepotan yang harus dilakukan. Yang begini-begini tidak akan ditampilkan di feed medsos. Dari tumpukan cucian, beratnya gerek koper karena bawaannya baju-baju musim dingin nan berat, sampai saat-saat merasa kesepian di tempat yang ramai *eeeaaa…

Belum lagi antrean kemacetan atau sesaknya tempat-tempat hiburan. Jangan-jangan satu-satunya senyum saat liburan di tempat-tempat jujukan sejuta umat itu hanyalah senyum ketika berhadapan dengan kamera aja. Biar apa? Ya biar postingannya tetap fabolous aja..

Selain itu bagaimana untuk sampai di jujukannya, para pelibur pasti sudah melakukan banyak hal sebelumnya. Mereka menyiapkan bujet sedemikian rupa, kerja keras (yang kerja) buat ngumpulin biaya jalan-jalan, ngatur jadwal kerja dengan baik.

Yah hal-hal yang membuat mereka merasa deserved untuk menikmati jalan-jalan itu. Di sisi lain bagaimanapun liburan punya banyak manfaat. Membangun quality time bersama keluarga sampai merecharge pikiran. Juga menikmati karya Sang Maha Pencipta yang seringnya kini disebut sebagai tadabur alam.

Kalau sampai ada yang merasa sirik dan sakit hati melihat orang liburan, ya biar nggak ngerasa kayak gtu lagi, mulai Januari ini siapin diri. Biar akhir tahun 2019 nanti sudah ganti golongan jadi yang bikin sirik 😊👌