Sebelum kegiatan ngopi menjadi begitu sakral, pada mulanya ritual ngopi begitu sederhana. Ia tak membutuhkan tempat yang cozy atau instagramable. Tidak pula harus sunyi dengan iringan suara rintik-rintik air mancur. Apalagi rintik-rintik air mata seorang jomblo yang ditolak hanya karena berbeda keyakinan tunggangan.

Ya, kalau sudah melawan Ninja, kamu bisa apa? Bahkan Satria Fu juga tak berdaya meski konon kabarnya lirik lagu Kimcil Kepolen sudah direvisi menjadi jare nek ra Innova ra oleh dicinta. 

Betapa kompetisi mendapatkan gendakan ini sungguh terlampau jauh di luar kendali kita semua karena negara tidak hadir.

Jangan-jangan Tuhan sebenarnya sedang melakukan prank pada diriku. Agar aku putus asa dan kecewa. 

Di tengah situasi kompetisi gebetan yang tidak fair inilah, ngopi adalah pelarian. Ia menjadi tempat pulang dari semua hati yang kalut dan ngenes. Sebab, tempat mana lagi yang akan menerima mereka dengan tangan terbuka kecuali warkop?

Mau lari ke mal, harus mandi dulu biar nggak ditolak satpam. Mau lari ke taman-taman yang begitu banyak di Surabaya, nanti ketahuan jomblo karena sendirian.

Bahkan, mau lari-lari kecil di tempat saja aku nggak punya tempat! Lantas, aku ini apa? 

Terkadang, dengan kejombloanku ini, aku ingin sambat pada Tuhan. Tapi, jangan-jangan Tuhan sebenarnya sedang melakukan prank pada diriku. Agar aku putus asa dan kecewa. Sebab, siapa tahu kalau Tuhan ternyata sudah menyiapkan takdir-Nya yang tentu saja jauh lebih MENYEDIHKAN!

Karena itulah, warkop dan kopi adalah ruang bagi kami untuk mampu melepaskan diri dari semua tekanan itu. Dan dua-duanya tak terpisahkan. 

Ngopi tidak akan pernah afdhal jika dilakukan sendirian di kos-kosan. Karena ngopi di kos-kosan sendirian itu namanya meratap. Hiks. 🙁 

Makanya, banyak nasehat tentang kopi yang diajarkan secara turun temurun dari sejak zaman Adipati Unus, putra pendiri Kerajaan Demak, sampai zaman Adipati Dolken—idola kaum wanita masa kini yang wajahnya 11-12 sama pemred-nya DNK ituw. 

Kutipan yang sangat terkenal soal kopi misalnya, Ngopi Disek Ben Ra Kesurupan, Ngopi Disek Ben Rabine Ra Kedisikan, atau Diem-diem Bae. Ngopi Napaa!

Tapi, tahukah kamu Gaes, berdasarkan studi kebiasaan-kebiasaan pada spesies bernama manusia, ada tiga fase saat kita ngopi.  

Fase pertama, biasa disebut me time. Nikmati dulu kopi sambil stalking mantan atau gebetan yang kini sudah jadi milik teman .

Kalau nggak gitu, main ML alias mobile legend, YouTube-an buka life hack 101 cara cepat kaya tanpa MLM, atau buka Tinder. Siapa tahu ada yang swipe kanan pas lihat foto palsumu yang lebih ganteng dari kenyataannya itu.

Setidaknya lakukanlah kesenanganmu terlebih dahulu sebelum masuk ke fase selanjutnya. 

Mengapa Tuhan menurunkan manusia di dunia ini yang sebenarnya hanya akan membuat kerusakan?

Fase kedua  biasanya dimulai ketika teman ngobrol mulai bosan dengan me time-nya. Lamanya sekitar 1-1,5 jam. Dalam fase ini, kebanyakan akan flash back cerita-cerita masa lalu atau yang sudah dialami setelah seharian bekerja atau beraktivitas lainnya.

Fase ini isi obrolannya akan menjurus pada menggunjing atau berbagi cerita lucu yang sebenarnya sangat garing. Meski begitu, fase kedua ini banyak manfaatnya. Antara lain ada keterbukaan omongan, menyehatkan karena tertawa meski terpaksa, dan repeat order kepada mas-mas penjaga warkop masio cuma es teh refill yang nasibnya seperti gorengan: kerap tidak dilaporkan saat wayahe mbayar.

Fase ketiga adalah fase opsyienel. Dalam artian tidak kebanyakan orang akan melakukan hal ini. Namun, fase ketiga adalah fase yang paling penting dalam sebuah musyawarah para bajingan.

Topik di fase ketiga ini biasanya terkait politik, ekonomi, perkuliahan, dan lain-lain. Di sinilah perbincangan sangat serius dimulai.

Benarkah?

Fase ini saya alami setiap hari. Bahkan, topiknya bisa sangat luas. Dari mulai sejarah Majapahit, musik, hingga mengapa Tuhan menurunkan manusia di dunia ini yang sebenarnya hanya akan membuat kerusakan?

Kadang-kadang juga diselingi pertanyaan-pertanyaan khas jomblo seperti mengapa Nadie Chandrawinata memilih Dimas Anggara dan bukan mantan-mantannya seperti Moreno Soeprapto hingga Hamish Daud, Daud Mini atau Daud Yordan. Yakan sesama Daud kali mereka sodaraan! 

Plus sedikit bumbu ngayal kemelipen seperti, “Kalau aku pacaran sama cewek koyok Mbak Nadine langsung tak lamar wae atau tak DP!”

Hellawww!

Uniknya, di fase inilah acara ngopi akan berakhir. Seringkali tidak dengan perasaan sama-sama puas untuk semua pihak. Tapi dengan gerundel bahkan bisa berkepanjangan dan berlarut-larut di Whatsapp Group.

Di sinilah mental seorang anak nongkrong warkop giras diuji. Mereka yang gampang sakit hati dengan mudah akan menghadapi seleksi alam. Sebab, nek koen gampang loro ati, berarti ngopimu kurang bengi!