Hari pertama lebaran adalah hari dimana saling bermaafan yang fana dan penimbunan lemak melalui penghabisan ketupat opor. Tidak sedikit dari kita masih berkumpul dengan keluarga inti saja. Jadi suasana masih cukup kondusif dan menyenangkan.

Sementara itu, hari kedua lebaran seperti sekarang dan seterusnya adalah mimpi buruk yang sebenar-benarnya. Hari dimana kumpul keluaga besar dimulai!

Beberapa dari kita ada yang cukup beruntung dan bisa menyelamatkan diri dari berbagai pertanyaan basa-basi yang lebih banyak mudharatnya dengan tidak mengikuti acara keluarga besar tersebut.

Yah, biasanya sih alasannya klasik: mendadak ada pekerjaan yang harus diselesaikan secara tiba-tiba. Apalagi kalo bekerja di bidang public service atau media, alasan itu sungguh sangat bisa digunakan.

Sayangnya, budhe dan tante yang demen kepo tidak termasuk di antara peserta kompetisi nunduk itu.

Tapi masih lebih banyak dari kita yang tidak cukup beruntung dan terpaksa menghadapi berjam-jam berkumpul bersama orang-orang yang jauh tidak lebih menarik dari gadget kita sendiri. Jadi pas ngumpul bukannya malah ngobrol basa-basi busuk, malah kompetisi nunduk.

Lebih baik begitu sih memang, setidaknya tidak akan terjadi penghancuran hati yang sudah hancur berkeping-keping menjadi semakin sehalus butiran debu. Sayangnya, budhe dan tante yang demen kepo tidak termasuk di antara peserta kompetisi nunduk itu.

Budhe dan tante adalah sosok dalam keluarga yang paling sering mendekati kita untuk memberikan komentar dan pertanyaan yang mbuh banget. Mereka tersebar di berbagai sudut ruangan dan selalu ada saja yang dilontarkan mulai dari kita datang sampai membuat kita merasa harus menyelamatkan diri dengan alasan yang aneh-aneh.

Ingat, hindari alasan klise seperti ingin menambah makan untuk bisa beranjak dari beliau. Salah-salah alasan tersebut malah akan dibalas dengan smash tajam tanpa bayangan yang meremukkan sendi-sendi kepercayaan diri yang memang sudah rapuh berupa “Walah, manganmu akeh ngono yo pantes gak ono sing gelem. Gak kuat manganine.” (Wah, makanmu banyak begitu ya pantas saja tidak ada yang mau. Pada gak kuat ngebeliin makannya.)

Ketika sudah mendeteksi kedatangan smash tajam dari budhe dan tante sekalian, diharapkan untuk segera melipir ke luar, tempat di mana bapak-bapak duduk santai sembari ngerokok. Tentunya keputusan ini bukan tanpa resiko, hanya saja memperkecil resiko buruk.

Seperti misalnya jika kita mau nambah makanan, yang perlu kita khawatirkan hanyalah jokes bapak-bapak receh seperti “Nah gitu dong, makan yang banyak biar bisa laku mahal buat disembelih.”

Mereka yang masih kecil hingga yang sebaya dengan kita memang tampak tidak berbahaya. Tapi sebenarnya mereka paling tidak bisa ditebak.

Sebenarnya berada di luar bersama dengan bapak-bapak ini adalah tempat paling aman. Tapi tentunya lama kelamaan kita akan merasa pegal nahan nyengir setiap ada joke receh ala bapak-bapak yang terlontar.

Jika memang dirasa tidak kuat lagi, kita bisa mencoba untuk berpindah ke dekat colokan, tempat berkumpulnya mereka yang masih kecil hingga yang sebaya dengan kita. Mereka memang tampaknya cukup tidak berbahaya, tapi sebenarnya mereka adalah kumpulan yang paling tidak bisa ditebak.

Mereka bisa saja sibuk menunduk dengan gadget masing-masing dan saling tidak memperdulikan satu sama lain. Tapi ketika baterai gadget mereka berada dalam kondisi tidak memungkinkan untuk digunakan, tingkat menyebalkan mereka bisa melebihi budhe dan tante sekalian.

Mereka yang masih kecil biasanya adalah anak dari budhe dan tante kita. Mereka yang tadinya sibuk nunduk, bisa saja berubah menjadi perpanjangan lidah dalam mengiris tiap helai kehidupan kita dengan kalimat polosnya, “Kakak makannya banyak ya. Kata mama kakak kegendutan sih makanya pacar kakak selingkuh.”

Sementara mereka yang sebaya, biasanya adalah sepupu kita yang akan melontarkan hal-hal yang tidak kalah pentingnya. Seringnya sih pencapaian yang menurut mereka luar biasa sekali, seperti anak mereka yang sudah bisa ini itu, pencapain karir, sampai kemapanan finansial melalui aset yang baru saja mereka beli.

Sebagai sobat mizqueen, tentunya kita cuma bisa balik ke mode nyengir seperti ketika menimpali joke bapak-bapak tadi dan menyesali keputusan meninggalkan kelompok bapak-bapak tadi. Ya namanya juga nyesel, pasti dateng belakangan, kalo dateng duluan sih namanya kepagian.

Maka dari itu gaes, tentukan lebih dulu kelompok mana yang akan kamu datangi di acara keluarga besar. Jangan sampai salah pilih dan menyesal seperti dalam memilih jodoh!